Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi

Putu Fajar Arcana, Aryo Wisanggeni G
Kompas, 24 April 2011

PANGGUNG berupa balkon yang dibangun dari kayu, cerobong asap, dan sebuah sel sempit dilumuri warna merah. Seseorang berlari lalu mengibaskan bendera di ketinggian. Musik yang juga sayup-sayup berasa merah mengalir….

Itulah adegan pembuka Tan Malaka, Opera 3 Babak yang dipentaskan Sabtu (23/4) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Opera karya Goenawan Mohamad dalam rangka 40 tahun majalah berita mingguan Tempo, itu akan dipentaskan kembali Minggu (24/4) malam. Continue reading “Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi”

Kesetiaan “Savitri” dan Retno Maruti

Putu Fajar Arcana
Kompas, 1 Mei 2011

…Tresna sejati menika kasetyan
Wujud pangurbanan
Nadyan cekak yuswa
Drenging nala nedya ambabar kabagyan

Savitri menembangkan dialog itu untuk menjawab ucapan Rsi Kaneka, yang mengabarkan calon suaminya Satyawan tak akan berumur panjang. Sang Rsi ingin agar Savitri mengurungkan niatnya menikah dengan putra raja Dyumatsena, yang terbuang di hutan karena kalah perang. Continue reading “Kesetiaan “Savitri” dan Retno Maruti”

Lagu Puisi, Musik dari Sanubari

Putu Fajar Arcana, Frans Sartono
http://cabiklunik.blogspot.com/

MENGAPA jika puisi kita dinyanyikan cenderung berkesan sendu dan bahkan seperti mencerminkan dunia yang suram? Pertanyaan itu sebetulnya tidak diperuntukkan pada musik sebagai bahasa pembentuk nyanyian, tetapi mempersoalkan kecenderungan puisi-puisi modern kita yang dipenuhi kemurungan di sana-sini. Setelah era Rendra dan kemudian Sutardji Calzoum Bachri tahun 1970-an sampai 1980-an, dimulai dari Sapardi Djoko Damono puisi-puisi yang lahir dari para penyair, seperti tak henti mendedahkan kemurungan. Continue reading “Lagu Puisi, Musik dari Sanubari”