Punakawan, Musuh, dan Moralitas Politik dalam “Perang”-nya Putu Wijaya

M.D. Atmaja

Politik memiliki manifestasi nilai di dalam jalan cerita. Seperti yang akan kami bahas di dalam tulisan ini, adalah mengenai isu politik di dalam novel Perang (2002) karya Putu Wijaya (PW). Melalui tulisan ini, kami tidak bermaksud mengetengahkan penjabaran yang panjang lebar, akantetapi hanya gambaran sekilas mengenai manifestasi nilai politik di dalam bangunan karya sastra. Novel Perang memiliki nuansa politis yang terbangun di alur ceritanya. Hal ini bisa dilihat dari garis besar cerita yang menggambarkan mengenai perseteruan dua kerajaan besar Astina dan Amarta. Continue reading “Punakawan, Musuh, dan Moralitas Politik dalam “Perang”-nya Putu Wijaya”

Rasa

Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/

(buat sahabatku Iskan)

MEMANDANGI koran, melahap foto doktor termuda Indonesia I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi WS, 27 tahun, mataku tidak berkedip.”Cantik, badannya bagus, senyumnya mempesona,” gumanku memuji. ”Kalauaku masih muda, aku akan datang kepadamu dan langsung melamar.”

Ami yang sejak tadi di belakangku nyeletuk, ”Begitu ya? Bagaimana kalau ditolak?”Aku mengangguk. Continue reading “Rasa”

Putu Wijaya, Sejak Remaja Sudah Menggemari Sastra

Faidil Akbar
suarakarya-online.com

Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Continue reading “Putu Wijaya, Sejak Remaja Sudah Menggemari Sastra”

Putu Wijaya Sedih Melihat Perkembangan Sastra di Sekolah

Abd Azis
tempointeraktif.com

Seniman Putu Wijaya sedih melihat perkembangan pelajaran sastra di perguruan tinggi dan sekolah yang hanya menjadi bahan pembelajaran bahasa Indonesia, bukan sastra murni.

“Sastra hanya untuk pelajaran linguistik dan dijadikan pelajaran hihuran,” kata dia di kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) siang ini. Continue reading “Putu Wijaya Sedih Melihat Perkembangan Sastra di Sekolah”

Bahasa ยป