Kurniawan, Ahmad Rafiq, Anwar Siswadi
majalah.tempointeraktif.com
MATA kecilnya terpejam di balik kacamata silindris empat. Bocah perempuan berambut ikal itu sedang berkonsentrasi penuh. Sesaat kemudian, kata-kata meluncur lancar dari bibir mungilnya. “Bangun! Bangun, anakku! Sudah waktunya kau menatap dunia. Lihatlah dan arungi kehidupan. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Keluarlah!” teriaknya. Continue reading “Sebuah Mimbar untuk Putu Wijaya”
