Sebuah Mimbar untuk Putu Wijaya

Kurniawan, Ahmad Rafiq, Anwar Siswadi
majalah.tempointeraktif.com

MATA kecilnya terpejam di balik kacamata silindris empat. Bocah perempuan berambut ikal itu sedang berkonsentrasi penuh. Sesaat kemudian, kata-kata meluncur lancar dari bibir mungilnya. “Bangun! Bangun, anakku! Sudah waktunya kau menatap dunia. Lihatlah dan arungi kehidupan. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Keluarlah!” teriaknya. Continue reading “Sebuah Mimbar untuk Putu Wijaya”

Merayakan Putu Wijaya

Ahmad Rafiq
korantempo.com

Sekitar 35 dramawan dan kelompok teater tampil dalam Mimbar Teater Indonesia di Surakarta. Mengurai jejak kekaryaan Putu Wijaya.

Pentas yang sangat minimalis, sangat kental, terasa dalam pementasan monolog Syamsul Fajri Nurawat dalam Mimbar Teater Indonesia di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Kamis malam lalu. Dia membawakan monolog Zetan karya Putu Wijaya. Continue reading “Merayakan Putu Wijaya”

M A A F

Putu Wijaya
http://www.jawapos.com/

Pada hari raya Idul Fitri muncul tamu yang tak dikenal di rumahku. Aku pura-pura saja akrab, lalu menerimanya dengan ramah tamah. Terjadi percakapan. Mula-mula sangat seret, sebab aku sangat berhati-hati jangan sampai kedokku terbuka. Di samping itu, diam-diam aku berusaha keras untuk membongkar seluruh kenangan. Setiap bongkah aku bolak-balik, mencoba menyibak, siapa kira-kira dia, tetapi sia-sia. Continue reading “M A A F”

Bola

Putu Wijaya
http://suaramerdeka.com/

AKU merayakan kemenangan Spanyol dengan membeli sebuah bola. Dengan bangga kuserahkan bola itu kepada anak-anak yang suka main bola merecoki jalanan sambil berpesan

?Dulu Argentina, Italia, dan sekarang Spanyol, sempat kalah dalam pertandingan mereka yang pertama di Piala Dunia, tapi berkat ketangguhan dan perjuangan habis-habisan sebagai sebuah tim, akhirnya mereka menjadi juara dunia. Hebat kan?! Nah, ternyata dengan menonton sepak bola, kita tidak hanya menghibur diri, tetapi belajar meneguhkan mental. Coba apalagi yang dapat kalian pelajari dari begadang sebulan penuh nonton piala dunia, sampai pilek-pilek begitu?!? Continue reading “Bola”

Merdeka

Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/

MENJELANG pertempuran terakhir yang menentukan, kami semua, para prajurit, bersiap. Mengumpulkan tenaga, mengerahkan jiwa-raga untuk mengakhiri habis-habisan benturan yang sudah berlangsung ratusan tahun ini.

Aku duduk di batang pohon kelapa yang mati disambar geledek. Di pangkuanku senjata, sisa-sisa peluru, rasa sakit, dan lelah yang sudah tidak aku pedulikan lagi. Bila subuh pecah dan matahari menyerakkan bara di langit timur, kami harus menyerbu. Hidup atau mati itu soal nanti. Roda sejarah ini tidak boleh berhenti. Continue reading “Merdeka”

Bahasa ยป