Tag Archives: Renungan Sastrawi

MILLENIUM DAN DILEMA MASAKINI

Suryanto Sastroatmodjo

1.
Pada salah satu bagian dari “Serat babad Dipanegara” terurai kisah, bahwa Pangeran yang mencetuskan perang jawa terbesar (antara 1825-1830) ini pernah berkeinginan menciptakan satu legalisme populatif, yang diemban oleh “nilai datu-datu”. Sang Pangeran, yang nama kecilnya adalah Raden Mas antawirya itu pergi bertapa di Gunung rasamuni, pesisir kidul, dan bertapa sedemikian kerasnya, hingga ruhnya sempat berdialog dengan ratu Kidul.

SINAR SEROJA DIANTARA BIANGLALA

Suryanto Sastroatmodjo

1.
Satu kebahagiaan, sebetulnya, ketika saya dengar, pelukis kawakan Yogya, Sapto Hudoyo mengeluarkan gagasan yang unik, tetapi manusiawi. Sastrawan, budayawan dan wartawan di kota budaya ini selayaknya dikuburkan di makam khusus di atas bukit, mengingat peranan mereka yang mulia, selaku penerus kalam Nabi dan Wali-Wali. Suatu penghargaan biasa, ataukah basa-basi, tidak jelas benar. Hanya saja, ibarat seroja yang gemilang dan nampak di ketimnggian, akan lebih mudah kiranya dikenang anakcucu.

YANG DIRENGKUH DAN BERLABUH

Suryanto Sastroatmodjo

1.
Sebuah roman adat istiadat Jawa yang ditulis alam bahasa Indonesia yang apik oleh Arti Purbani (nama samara BRAy. Siti Partini Djajadiniingrat) berjudul “Widyawati”(1949) mengisahkan seorang gadis jelita dari kalangan rakyat, Widyawati alias Widati, yang memiliki ketabahan luar biasa dan gemar berprihatin buat mencapai cita-cita luhurnya. Dalam istilah “prihatin”, direngkuh dua anasir yang saling melengkapi, yakni : banyak menahan diri, tirakat dan mengendapkan duka, sehingga kehidupan hari nanti diliputi sinar surya.

CAHAYA DI UFUK KEJUANGAN

Suryanto Sastroatmodjo

1.
Sebelum mengakhiri buku pengembaraan panjangnya di Bali, K’tut Tantri dalam “Revolt in Paradise” (Revolusi di Nusa Damai) menulis sebagai berikut : “Di atas kota, bintang-bintang memancarkan cahayanya yang gemerlapan, dan aku teringat akan sebuah kisah di masa bocah, yang mengatakan : Mereka yang ingin memperoleh ketenangan, haruslah berani meninggalkan kesenangan dan harta dunia, dan pergi berkelana mencari tempat bintang suci.

MELAGA EMPU, MENDENYUTKAN ILMU

Suryanto Sastroatmodjo

1.
Seorang sahabat, baru-baru ini mengenalkan suatu istilah baru :Workaholisme. Apa pulakah itu? Teman kita menjelaskan yang dimaksudkan adalah “keranjingan kerja”, atau tegasnya kita dikendalikan oleh dorongan nafsu kerja, di mana keseimbangan sikap-kerja itu membuat orang jadi tanpa-daya. Dikatakan, kerja adalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Dengan bekerja, kita memang dapat memperoleh berbagai manfaat, seperti : imbalan materi, rasa berguna dan kesempatan pergaulan yang relatif luas.