Bung Sultan, Mengakhiri Mitos Ratu Adil?

R Toto Sugiharto *
kr.co.id

BUNG Sultan yang dimaksud dalam tulisan ini bukan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X), melainkan ayahanda beliau, mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX. Penyebutan “bung” untuk kalangan aristokrat, seperti juga untuk Sultan HB IX, bukannya tanpa sebab. Panggilan “bung” untuk aristokrat adalah akibat dari revolusi sosial pada 1946 di Surakarta (Kedaulatan Rakjat, 17 Djanuari 1946). Pemanggilan itu sebagai tuntutan kesetaraan dan demokratisasi dari kelompok radikal yang menghendaki pemusnahan feodalisme yang berakar dari kalangan bangsawan yang berpusat di Keraton Surakarta: Kasunanan dan Mangkunegaran. Tuntutan lainnya adalah peleburan sistem pemerintahan istimewa di daerah (khususnya Surakarta) agar bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia. Continue reading “Bung Sultan, Mengakhiri Mitos Ratu Adil?”

Spiritualitas ala Warung Kopi

Saiful Amin Ghofur *
jawapos.com

SEBAB untuk membaca peta langit, seseorang harus terlebih dulu menyeka airmata bumi.
Begitulah, seperca sajak Keranda Cahaya yang diteluhkan Ilung S. Enha di ufuk senjakala untuk mengawal karib spiritualnya, Zainal Arifin Thoha, menanggalkan kesementaraan bumi menuju langit keabadian pada 14 Maret 2007 silam.

Selajur Keranda Cahaya itu merupakan jelma pemberontakan Ilung terhadap arus utama spiritualitas. Selama ini ruang-ruang spiritualitas disesaki dengan doktrin purba sufistik yang cenderung elitis-egosentris. Continue reading “Spiritualitas ala Warung Kopi”

Membangkitkan Kembali Ruh Mpu Tantular

T.N Angkasa
oase.kompas.com, 18 Mar 2009

“Indoktrinasi yang dilakukan terhadap anak-anak kita sejak usia dini menciptakan konflik di dalam diri mereka. Doktrin yang mereka peroleh – termasuk cara makan, berpakaian dan lain sebagainya – membuat mereka tertutup” (hal 255)

Mpu Tantular menulis Kakawin Sutasoma untuk mengkritik Gajah Mada. Saat itu fondasi yang dipakai oleh Sang Maha Patih guna menyatukan Nusantara begitu rapuh. Deklarator Sumpah Palapa tersebut menggunakan strategi militer, ekonomi dan agama. Sebagai alternatif, Sang Mpu menawarkan pendekatan budaya untuk mengatasi krisis multidmensi yang mendera Majapahit. Continue reading “Membangkitkan Kembali Ruh Mpu Tantular”

Menangkap Spirit Nge-Blog Ndoro Kakung

Adi Baskoro*
http://www.jawapos.com/

Bagi yang pernah atau sering mampir di blog ndorokakung.com, pasti cukup akrab membaca kata ”pecas ndahe”. Kata ”pecas ndahe” di Jogja dan Solo, biasanya dipakai sebagai umpatan. Kata itu sengaja dipakai untuk menunjukkan kekesalan hati pemiliknya bila melihat dunia yang semakin tua dan penuh tikungan mengejutkan. Demikian aku Wicaksono –pemiliki blog ndorokakung.com– saat ditanya asal-usul tagline ”pecas ndahe”. Continue reading “Menangkap Spirit Nge-Blog Ndoro Kakung”

Ilusi Berbuah Kontroversi

Moh Samsul Arifin*
http://www.jawapos.com/

Imajinasi, hasrat, aspirasi, dan lalu menggumpal menjadi aksi untuk mendirikan negara Islam bukanlah hal baru dalam relasi agama dan negara di Indonesia. Pemberontakan DI/TII yang dipimpin RM Kartosuwiryo, PRRI dan Permesta pada 1950-an adalah bukti bahwa negara Islam menjadi cita-cita sebagian umat Islam.

Menurut Abu A’la Al-Maududi, negara Islam diletakkan pada prinsip utama pada pengakuan kedaulatan Tuhan sebagai segala sumber hukum. Bahwa tak seorang pun yang dapat menetapkan hukum, kecuali Allah SWT sebagai pemilik kedaulatan tunggal. Dalam pengertian ini, negara Islam memiliki tiga pilar, yakni masyarakat muslim, hukum Islam atau syariat Islam, dan khilafah (Islam Radikal, 2002). Continue reading “Ilusi Berbuah Kontroversi”

Bahasa ยป