Tag Archives: Romi Zarman

Ketika Sastra Dinomorduakan (Tanggapan atas Tulisan Damhuri Muhammad)

Romi Zarman *
Suara Karya, 11 Juli 2009

Membaca esai Damhuri Muhammad di harian ini (13/6), dengan judul “Di Ladang Kekalahan, Kekalahan Itu Ditambatkan”, mengingatkan kita bahwa sastra hanyalah cerminan proses sosial-ekonomis belaka. Pendekatan yang digunakannya bergerak dari faktor-faktor diluar sastra untuk membicarakan sastra;

Tiga Catatan

Romi Zarman
Riau Pos,19Sep2010

Tiga catatan yang akan saya kemukan terdiri satu entitas yang bernama sastra. Pertama; perihal sastra maya yang menimbulkan ambivalensi dalam diri sebagian kaum sastrawan. Di satu sisi, mereka menolak kehadiran koran, tapi di sisi lain mereka juga mengirim dan mempublikasikan karya di sana. Kedua; pesatnya perkembangan sastra maya telah melenyapkan batas antara lokal-nasional. Tak ada istilah lokal-nasional. Riau Pos, misalnya, tidak bisa dikategorikan sebagai koran lokal. Lenyapnya batas-batas teritorial di dunia maya, mudahnya akses ke website Riau Pos, telah membuka mata kita bahwa Riau Pos bisa diakses di mana saja dan kapan saja.

Tentang Sebatang Jambu yang Tumbuh di Perut Suami Saya

Romi Zarman
http://suaramerdeka.com/

UNTUK kali ketiga, anak saya kembali menangis. Saya sudah membujuknya. Tapi ia tetap tak mau. Ia minta dicarikan jambu. Bukan jambu yang ada di pasar, tapi jambu yang langsung dari batang. Seperti yang pernah dibawakan ayahnya, tiga hari yang lalu. Saya sudah berusaha mencarinya, ke sekeliling rumah. Tapi tetap tak ada batang jambu. Semua ini gara-gara dinihari itu. Waktu itu suami saya pulang, membawa jambu biji di tangan. Katanya, ia mendapatkan langsung dari batang. Anak saya langsung memakan. Enak sekali, katanya. Saya pun ikut menikmati, bersama suami.

Membaca Pipa Air Mata

Romi Zarman
http://www.riaupos.com/

Hampir setiap koran di negri ini memiliki halaman sastra. Masing-masingnya tentu memiliki cara yang berbeda dalam mengapresiasi penulisnya. Ada yang mengapresiasi dengan cara memberikan honor yang layak bagi penulisnya. Ada yang mengapresiasi penulisnya dengan cara mengumpulkan sejumlah karya dalam satu buku. Kompas, misalnya, mereka menyeleksi cerpen-cerpen yang dimuat selama setahun dan mengumpulkannya dalam bentuk buku. Begitu pun puisi dan esai yang dimuat di rubrik ?Bentara?.

Harimau Kumbang

Romi Zarman
http://www.suaramerdeka.com/

KAU SEBUT harimau mati meninggalkan belang. Lupakah engkau pada harimau kumbang? Tubuhnya tak berbelang. Badannya hitam serupa kumbang. Dan bila kau sudah dikejar, maka tak akan ada jalan keluar. Kemana pun kau menghilang, harimau kumbang akan mengejar. Ia tak seperti harimau belang. Kaubisa saja lari ke atas batang. Tapi tidak untuk harimau kumbang. Ke atas batang sekalipun, ia dengan mudah akan memanjat. Tubuhnya ringan. Tak seperti harimau belang.