Romi Zarman *
Suara Karya, 11 Juli 2009

Membaca esai Damhuri Muhammad di harian ini (13/6), dengan judul “Di Ladang Kekalahan, Kekalahan Itu Ditambatkan”, mengingatkan kita bahwa sastra hanyalah cerminan proses sosial-ekonomis belaka. Pendekatan yang digunakannya bergerak dari faktor-faktor diluar sastra untuk membicarakan sastra; sastra hanya berharga dalam hubungannya dengan faktor-faktor diluar sastra. Teks sastra tidak dianggap utama, ia hanya epiphenomenon (gejala kedua).

Lihatlah bagaimana Damhuri mengurai tafsirnya tentang “Orang Ladang”, karya Esha Tegar Putra. Ia tidak mengurai makna dari teks puisi “Orang Ladang” ataupun “Pinangan”. Damhuri malah mengurainya dari faktor-faktor diluar teks (sastra). Tafsir tentang orang ladang diurainya dari realitas pengalamannya sewaktu di kampung dulu. Ia bercerita tentang sahabatnya yang sudah menjadi orang ladang dan bertanya-tanya kenapa sahabatnya itu malu menjadi orang ladang. Ketika Damhuri menemukan jawaban dari pertanyaannya, maka saat itulah ia mulai mendefenisikan bahwa orang ladang adalah orang yang kalah di kampung halaman. Setelah itu, setelah tafsirnya bergerak dari faktor-faktor diluar teks barulah ia mulai mengarah ke dalam teks (puisinya Esha), itupun hanya menyentuh judul buku.

Pada paragraf keenam dari tulisannya, ia baru benar-benar masuk ke dalam teks (puisi). Tiga larik dari bait terakhir puisi “Orang Ladang” dikutipnya. Namun pengutipan itu terasa sia-sia belaka karena sedari awal ia sudah memaknai orang ladang dari faktor-faktor diluar teks. Bila pendekatan kita bergerak dari teks puisi itu sendiri, yakni dari puisi “Orang Ladang”, maka akan didapati bahwa yang dimaksud dengan orang ladang adalah sebuah perumpaan atau kata lain dari penyair. Tujuh petang, adalah ia yang ingin berladang/ pada sebuah tanah yang bernama puisi/ yang berlari, yang terhenti, ia tetap orang ladang.

Orang ladang dari larik pada sebuah tanah yang bernama puisi bukanlah “orang yang kalah”. “Ia-lirik” di sana, melalui lambang-lambang dan pencitraan biografis, seperti hendak membentangkan hamparan dunia seorang penyair. Untunglah Esha jeli dalam memilih sang juru bicara puisinya (“ia-lirik”). Biasanya dalam situasi seperti itu, kebanyakan penyair cendrung mempercayakan sang juru bicaranya pada “aku-lirik” dan hanya menjadikan bahasa sebagai alat. Kita bisa melihat dalam Demonstran Sexy bagaimana penyairnya memperalat bahasa untuk menyampaikan slogan-slogan yang hendak disampaikannya. Sungguh mubazir, bahasa diperalat hanya untuk kekuasaan si penyair. Kalaulah penyair ikut-ikutan memperalat bahasa seperti halnya para politikus itu, lantas apa bedanya penyair dengan politikus?

Kembali ke orang ladang, karena pendekatan Damhuri bergerak dari faktor-faktor diluar teks, maka upaya pemaksaan makna tak terelakan ketika ia mencoba masuk ke dalam teks (puisi). Lihatlah efek yang ditimbulkannya. Ia berbicara tentang lepau dan surau, ladang dan rantau, sesuatu yang sangat jauh dari teks. Pembicaraannya pun merambah ke mana-mana dan terkesan mencari-cari kaitan antara satu teks dengan teks lainnya. Setiap puisi walau terhimpun di dalam satu buku ia tetap berdiri sendiri. Proses penciptaannya berbeda-beda. Masing-masingnya memiliki sifat yang otonom. Kalaupun ada intertekstualitas antara satu teks dengan teks lain, maka tak bisa dinafikan bahwa pendekatannya harus bergerak dari teks itu sendiri.

Tema-tema Ladang

Ketika Damhuri berkata bahwa tema ladang jarang dilirik oleh penyair Sumbar, maka barulah saya mengerti bahwa ternyata pemaknaan Damhuri tentang orang ladang adalah cara pandangnya atas realitas keminangan hari ini. Tetapi sangat disayangkan, realitas itu dipaparkannya hanya untuk membicarakan sastra, bukan sebaliknya. Selain itu, pernyataan Damhuri tentang tema ladang yang jarang dilirik oleh penulis-penulis Sumbar menunjukan bahwa kurangnya data yang dimiliki oleh Damhuri tentang karya-karya dari tanah kelahiran Esha (Sumbar).

Lihatlah bagaimana dengan gamblang ia berkata bahwa tema ladang tak disentuh oleh penulis-penulis Sumbar. Kebanyakan hanya pada surau, lepau dan rantau, katanya. Tentu pernyataan ini sangat keliru. Bila Damhuri membaca novel Kemarau A. A. Navis, maka ia akan tahu bagaimana Navis mengeksplorasi tema ladang dari realitas keminangan. Melalui tokoh Sutan Duano, cerita dibangun antara peristiwa ladang dan persoalan rantau. Persoalan yang dihadirkan bukan hanya berkisar antara keluarga dan anggotanya, melainkan juga berkisar antara “orang ladang” dan masyarakatnya. Atau lihatlah karya-karya Raudal Tanjung Banua dalam kumpulan cerpen Parang Tak Berulu (Gramedia, 2005). Sangat kental sekali tema ladang yang diusungnya, salah satunya dalam cerpen Ladang Terhijau Saat Kemarau.

Jika kita mau menolehkan pandang ke puisi-puisi penyair Sumbar, maka akan kita dapati sejumlah puisi yang mengeksplorasi tema ladang. Sebut saja buku puisi pertama Gus tf, Sangkar Daging (Grasindo, 1997) dan buku puisi Rusli Marzuki Saria, Sembilu Darah (Pustaka Sastra, 1995). Atau lihatlah sejumlah puisi yang dipublikasikan di Harian Haluan Padang dari tahun 1980-2000an, atau lihatlah juga puisi-puisi penyair muda Sumbar hari ini yang dipublikasikan di sejumlah koran nasional, seperti Harian Kompas dan Koran Tempo, maka akan didapati sejumlah puisi dengan tema-tema ladang. Lantas, apa masih bisa dikatakan bahwa tema ladang sangat jarang dilirik oleh penulis-penulis Sumbar?

*) Romi Zarman, cerpenis, bermukim di Padang.
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=231033

Categories: Esai