Embriologi Peradaban

Sabrank Suparno *

Pernakah kita berfikir tentang asal-muasal atau apa sebab, dan bagaimana, dan seterusnya, mengapa bisa terjadi adanya peradaban? Taruklah manusia jaman sekarang menganggap telah menemukan titik sentral atau sumbu koordinat peradaban tertinggi. Ambil satu contoh dengan penemuan teknologi sekelas google, yang dengan serta merta membentangkan provider yang benar-benar menjadikan kecepatan informasi dan ngerumpi-nya manusia dari berbagai belahan dunia. Continue reading “Embriologi Peradaban”

Mencari Titik Pusat Cahaya

Sabrank Suparno
JP Radar Mojokerto

Kehidupan manusia terus bergulir dan merambahi fase-fase peralihan peradaban. Seiring dengan itu, sebagai kholifah berbudaya, manusia juga terus mengembangkan kreatifitasnya untuk menyiasati target kebutuhan hidupnya yang lebih layak. Minimal relevan dengan zamannya. Untuk tujuan inilah berbagai tingkah polah dilakukan. Dari yang bernuansa “ceketer” hingga yang spektakuler. Dari sekedar jagongan di warung sampai berkonkow-konkow di gedung. Ada pula yang sekedar semrawut di stasiun, sementara yang lain malah berjingkrak-jingkrak di alun-alun. Continue reading “Mencari Titik Pusat Cahaya”

Kegagalan Replikasi Budaya Gajah Mada

Sabrank Suparno
JP Radar Mojokerto, 12 Sep 2010

Monumen Hitler

Dachau adalah sebuah kota kecil di Negara bagian Bavaria Jerman yang letaknya tidak jauh dari kota Muenchen. Di Dachau inilah dibangun monumen utama yang didirikan setelah Perang Dunia ke dua. Dachau ini disinyalir sebagai kamp konsentrasi Hitler saat melancarkan aksi keberingasannya membasmi ribuan nyawa manusia. Continue reading “Kegagalan Replikasi Budaya Gajah Mada”

Wangi Bunga Di Atas Makam

Sabrank Suparno

Mendamba, adalah puncak do?a bathin nan serius, yang dilakukan orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, dosen terhadap mahasiswanya, kiai pada santrinya, agar kelak anak didik dan anak asuhnya menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tak heran jika kemudian para orang tua rela mengucurkan jutaan rupiah demi pendidikan anaknya, dengan harapan agar kelak di kemudian hari tidak bernasib seperti bapaknya. Namun tentu saja lebih baik dari segi apapun; moral, intelektual, spiritual sebagai harkat martabat hidupnya. Continue reading “Wangi Bunga Di Atas Makam”

Bahasa »