Sabrank Suparno *
Sepanjang lorong –lorong gelap. Lajur ruang sempit, berhias sisi dinding tekstur artefak alami. Selalu dan selalu tak terbatas waktu. Kapan saja selalu dapat berubah corak dan warna. Tiap kali hanyutan air menderas. Lekuk guratan lumpur dan helaian sampah tampilkan artistik tersendiri. Ribuan langkah kaki kecil berderap lalu-lalang. Bertapak-tapak dirampungkannya silih berganti berseliweran. Sesekali melintas di temaram cahaya. Cahya yang terbias menerpa dari cela dan lubang jendela dan genteng kaca. Seolah lampu berderet tertata. Tubuh mungil bertelantingan pulang pergi. Sembari terobos aroma khas suatu tempat. Continue reading “SANG FREE TIKUS”
