Rendahnya Apresiasi Akademik terhadap Karya Sastrawan Kalsel

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Salah satu isu penting yang saya tawarkan dalam diskusi sastra yang diselenggarakan oleh Radar Banjarmasin pada 30 Desember 2010 di Minggu Raya Banjarbaru adalah apakah kemeriahan sastra di Kalsel yang ditandai dengan kegiatan aruh sastra, festival, tadarus, sayembara dan pelatihan penulisan, penerbitan buku dan peluncurannya, dan sebagainya berhasil menciptakan publik pembacanya? Continue reading “Rendahnya Apresiasi Akademik terhadap Karya Sastrawan Kalsel”

Pangeran Facebook

(Cerita dalam Potongan Status)
Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Seperti pada kebanyakan kerajaan asli Indonesia yang lain pada masa pra-kolonial, sejarah Banjarmasin ditandai oleh pertentangan internal yang kronis, terutama di antara anggota-anggota keluarga raja. Kebencian, iri hati, ketamakan, dan lapar kekuasaan yang mendorong terbentuknya persekongkolan-persekongkolan politik merupakan sebab-sebab terjadinya friksi, pembunuhan manusia, atau pembunuhan kepala negara yang dilakukan oleh para pengikut raja-raja sendiri, yang sebagain besar berlangsung tanpa sanksi hukuman. Continue reading “Pangeran Facebook”

Siapakah Sastrawan Kalsel?

Catatan untuk Tajuddin Noor Ganie
Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Sebagai publik sastra di Kalimantan Selatan kita beruntung memiliki Maman S. Tawie dan Tajuddin Noor Ganie. Keduanya saya takzimi dengan panggilan Pak. Kedua aktor sastra ini memiliki keajegan yang tak tertandingi dalam mencurahkan perhatian secara sukarela untuk mendokumentasikan dan mencatat perkembangan sastra di Kalimantan Selatan, terutama karya yang dipublikasikan di media cetak di Kalsel atau dalam bentuk buku yang dipublikaksikan di institusi sastra di Kalsel. Continue reading “Siapakah Sastrawan Kalsel?”

Lima Liang Banua

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Dia bosan hidup miskin. Miskin itu tidak enak. Tak bisa apa-apa dan selalu dipandang rendah. Dia memutuskan meninggalkan kampungnya, merantau ke dekat batubara. Meninggalkan ibunya. Selama ini dia cuma tahu bahwa orang tuanya cuma satu. Sejak kecil dia tak pernah melihat seperti apa abahnya. Cuma tahu namanya, dan dia tak peduli itu benar atau salah. Continue reading “Lima Liang Banua”

Bahasa ยป