Tag Archives: Sainul Hermawan

Sepercik Saran Memperkuat Aruh Sastra

Sainul Hermawan
__Radar Banjarmasin

Akhirnya Kabupaten Hulu Sungai Tengah mampu menyelenggarakan Aruh Sastra VIII pada 16-19 September 2011 dengan beberapa keistimewaan meskipun tak bisa lepas dari kekurangan-kekurangan yang dapat kita maklumi. Dua hal yang sangat diapresiasi oleh rombongan yang sehotel dengan saya adalah, pertama, keberadaan LO atau liaison officer atau pendamping.

Dua Fiksi Anggraini Antemas: Etnografi Budaya dan Kritik Sosial

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Mungkin kita telah mengenal siapa Anggraini Antemas? Mungkin antara lain melalui Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (Saefuddin, dkk., 2008: 28-29). Anggraini adalah nama pena dari Yusni Antemas, sastrawan Kalsel kelahiran Amuntai (22/4/1922). Selama menjadi sastrawan dan wartawan sejak 1940, 25 judul bukunya berhasil diterbitkan. Buku-buku itu mengenai sejarah daerah, folklor, dan cerita anak-anak.

Obituari: Jarkasi dan Kematian yang Indah (1960-2010)

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Saya memang baru lima tahun mengenalnya karena sebagai rekan kerja di kampus. Tetapi rasanya ia seperti sahabat dari masa silam yang lama. Perkenalan kami berada dalam pusaran relativitas waktu. Beliaulah yang secara sukarela membuka tabir tentang budaya Banjar.

Saya masih ingat kata-katanya saat itu, “Pelajari saja saya kalau ingin mengenal dan memahami budaya Banjar.” Kesan yang saya tangkap saat itu dari pengakuan blak-blakannya adalah bahwa orang Banjar manusia biasa, yang memiliki keistimewaan dan kekurangan.

Iwan Fals dan Tafsir Ikon

Sainul Hermawan
http://entertainment.kompas.com/

Saat orang-orang terlibat pro-kontra tentang kerbau politik, terlintas di benak nukilan lirik lagu ”Cikal” karya Iwan Fals. Begini: ”kerbau di kepalamu ada yang suci, kerbau di kepalaku rajin bekerja, kerbau di sini teman petani…”.

Citra kerbau dalam lirik lagu itu positif. Alangkah indahnya jika kita menyikapi kerbau yang diperalat para demonstran—yang pasti di antara mereka ada yang bershio kerbau pula—disikapi dengan perasaan sastrawi. Kerbau yang pantatnya ditempeli foto orang nomor satu di negeri ini cukup disikapi sebagai ikon.

Waktu dalam Puisi Eko Suryadi WS

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Demi Waktu

(1) Demi masa, (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (Al-Asr, QS 103:1-3)