Posted by PuJa on February 10, 2012
http://www.lampungpost.com/ Samarang bagi The Photograf sebelum kotamu benar-benar tak cukup jadi mangkuk menampung luapan laut dan kotoran kota aku ingin menjejaki bekas tapak kakimu dan mencari di mana bingkai bingkai fotomu dulu kau gantung “1, 2, 3, senyum, senyum”
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/ Celoteh Matahari Menjelang Pagi Di pagi buta bulan Oktober Matahari kecil itu Berceloteh tentang embun : mengecup ubun-ubun Tahukah kau, matahari itu Telah lama kugali bersama air mata Hingga sungai-sungai hidup di pipiku
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/ Lidah (teringat kundang) tubuh yang keras pecah lekas setiap umpat di dalam ucap terlanjur lupa menghuni rahim dan lidah selalu lembut
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on February 8, 2012
http://www.riaupos.co/ nadir nadir apa ini kutembang layar lambai angin siul gelombang tarik daman sentak kemudi tembuk buritan
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/ Litani Kata Aku percaya pada satu kata Frase dan klausa berkuasa Mencipta langit puisi Dan akan satu anak kalimat Judulnya tunggal milik semua Dikandung dari roh paragraf Dilahirkan penyair perawan Yang menderita sengsara
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/ Runcing Kuku Hujan runcing kuku hujan yang menghitam jadi bahasa yang tak pernah kekal. rompang daun tercakar olehnya kini menanggung perih musim. tengkuk maut di liuk batang pohonan, senyap mencerap di pekuburan, menyalakan bara mata kita.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://www.acehkita.com/ Yang Pamit di Bulan November “Kepadamu Perempuanku yang mengakhiri jalan cerita” Sepertinya ada yang kosong Pamit, lalu diam-diam bungkam Ketika rindu terbaik tidak layak lagi terukir Segala maharaja rasa pun seketika pupus, lalu punah
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://www.riaupos.co/ Ketika Bulan Hilang bulan yang bagai wajah bidadari. mempesona dalam dekapan malam. seperti bentuk yang tinggi menjulang dari pohon ketus dan sulit mengganti tubuhnya.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://lampungpost.com/ Saat Bumi Terbelah Setangkai bunga karang menggeliat liar di senja saat camar mematuk di tiap inci lekuk yang mengerucut pada lembah yang lembap. Di tiap mahkotanya yang menyerabut tetes demi tetes mengalir diam-diam mengikuti arah paruh camar yang mengganas dalam gelora yang kesorean. Aroma alkohol bercampur saus yang tersaput rata di sekujur bunga karang [...]
Filed under: Sajak