Sajak-Sajak Muhammad Yasir

Ode untuk Indonesia

Apakah kami juga Indonesia,
setelah puisi-puisi pesakitan dijual kepada redaktur koran mingguan untuk kesenangan seorang penyair?

Katakanlah bahwa kami juga Indonesia,
dan bahwa darah-darah kami telah disedot habis kekuasaan kemudian dimasukan ke dalam tong baja pemintal sutera untuk jas seorang presiden dunia ketiga!

Sungai berair emas menjadi danau cokelat dan keruh,
danau cokelat dan keruh menjadi gunung batu bara yang tinggi dan kokoh, kemudian menjadi vila-vila mewah, lalu menjadi ribuan pabrik dan berakhir menjadi Indonesia.

Di sanalah kami bernyanyi dan mati sebagai Indonesia?
Tunggu! Perut kami yang lapar menuntut makanan, sementara properti kami telah dirampas dan apakah kau memiliki mur dan baut untuk meredam kegilaan di perut kami?

Apakah kami juga Indonesia,
setelah para penyair kehilangan keberanian melahirkan kata-kata yang dituduh non-poetik tentang pesakitan?

Jadi, Indonesia adalah puisi-puisi dalam koran mingguan dan darah-darah kami yang disedot habis dan tong baja pemintal sutera jas seorang presiden dunia ketiga dan sungai berair emas dan danau cokelat dan keruh dan gunung batu bara dan vila-vila mewah dan ribuan pabrik yang membuat kami dan memakan mur dan baut dan bernyanyi dan mati dan penyair yang kehilangan keberanian dan pesakitan.

Tunggu apa lagi, bunuhlah!

Surabaya, 2021.

Hieroglif Kesedihan

Aku melihatmu mendayung perahu di sungai berair emas
Aku mengira, aku mabuk ketika cahaya matahari kebiruan menembus ruang kerjaku
Tapi aku tidak memiliki properti untuk ditukar dengan alkohol, Sayang!
Jadi, aku masih sadar: bibirmu pucat, tanganmu yang renta
Melambai bersama desau angin dari hulu ketika Surabaya memberiku jalan hidup, kesedihan, dan nasib baik yang menolak tiba!

Aku tidak sedang mengeluh tentang penderitaan duniawi
tetapi berkali-kali dalam penderitaan cinta kita kesedihan merenggut airmata dan hari ini
Ketika aku mengingat kau menyelamatkan kami dari kelaparan
Kau berpesan pada setiap bulir padi senantiasa memberikan semangat hidup di tubuh kami
Kelaparan, penindasan paling hitam, gelap, dan jahat!

Jangan berikan aku pertanyaan tentang bagaimana kami menangis hari ini, Sayang!
Kematian adalah musim baru bagi peradaban abad 21 ini, dan kau pergi ke sana seorang diri
Ketika bahasa kemajuan memerah akal sehat dan hati kami!
Lengkaplah kesedihan ini dan perlahan membentuk hieroglif kesedihan:
Di sungai berair emas, aku melihatmu mendayung perahu membawa takdirmu!

Surabaya, 2021.

Ketika Kita Benar-benar Bebas

Oh! Cintaku, aku takkan mengobati luka di lenganku
Kubiarkan bekas kukumu mengering menjadi sungai kering tak lagi bernyanyi ketika kita benar-benar bebas dari belenggu kesunyian hari-hari.

Aku ingin pergi ke perpustakaan.
Aku ingin merobek setiap lembar isi buku tentang sejarah bangsaku dan merendamnya ke dalam genangan air di wastafel berkarat yang tersumbat dan membersihkan lukaku dengan itu!

Oh! Katakan, Cintaku! Ketika kita benar-benar bebas
Kita akan melupakan semuanya; masa lalu, masa kini, kemiskinan, penderitaan, dan pesakitan meski kegagalan ialah diri sendiri dan kematian ialah cahaya matahari sepanjang hari.

30 Juli 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *