Kuburan Teater Afrizal Malna

Fahrudin Nasrulloh *
Jawa Pos, 20 Jan 2013

Ada yang tak selesaikah setelah kita menonton teater? Mungkin masih ada bara kecil di puntung rokok yang diludeskan ke asbak dan itu berkelip-kelip sebentar lalu mati, serupa itukah yang mengendap pada diri penonton seusai pertunjukan teater? Kita akan menghadapi Afrizal dengan banyak ketakterdugaan. Ia datang dari dunia pecah belah. Dari dunia puisi-puisinya yang konon disangka gelap. Dari biografi puisi yang tak berhenti mencari rumah bahasanya. Namun teater terus dibuat, dipanggungkan, dan di sanalah bahasa dan peristiwa dalam pertunjukan teater bertemu. Continue reading “Kuburan Teater Afrizal Malna”

Sastra: Sebab Kode adalah Puisi

Eka Kurniawan *
Kompas, 11 Mei 2008

SEKIRANYA Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol online. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah ”memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal ”link”. Continue reading “Sastra: Sebab Kode adalah Puisi”

“KEKHILAFAN”???

Kekhilafan atau Keawaman plus Kemalasan???

Sunlie Thomas Alexander

Kok si wartawan Kompas NAWA TUNGGAL itu tidak berani mengakui keawamannya sendiri dalam ulasannya pada Kompas Minggu lalu? Ini malah cuma ngutip klarifikasi si Exan Zen di Facebook doang seolah-olah ia sendiri tidak punya salah apa-apa dalam ulasannya terdahulu! Seolah-olah yang salah cuma si Exan saja! Sementara si Exan juga seolah-olah hendak melemparkan kesalahan kepada Gasbanter Journal dan analisa ngawur Listi Mora Rangkuti di Riausastra.com! Continue reading ““KEKHILAFAN”???”

Bahasa »