11-12 Pentigraf Siwi Dwi Saputro

11. Hikayat Camar Dan Ombak

“257. Lihatlah bagaimana burung camar bermain mengantisipasi ombak sambil memikat.”

Di sini. Di pantai ini. Di Mercusuar yang dahulu menjadi kebanggaan. Kini menjadi legenda. Engkau memilihku untuk kau damparkan di sini. Sendiri. Engkau memilihku untuk menjadi segala yang kau inginkan. Aku terima. Aku cinta. Aku sayang. Namun kini yang ada tinggal kenangan. Dan tentu saja rindu. Continue reading “11-12 Pentigraf Siwi Dwi Saputro”

Lokalitas, Mutilasi Budaya, dan Multikultural

Beni Setia *
Lampung Post, 18 Nov 2012

YANG tersisa dari gaung seminar Wong Jawa Ilang Jawane (Balai Budaya Sudjamiko, Solo, 14-6-2009) itu asumsi dasar dari diskusi. Siapa (orang) Jawa dan apa fenomena kejawaan yang hilang.

INI sekaligus mengingatkan penulis ke satu obrolan di depan Aula Graha Sanusi Hardjadinata (Unpad, Bandung, 21-2-2009) saat peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day). Pas ada teman yang menunjukkan draf kumpulan puisi Sunda, yang akan diterbitkan, dan meminta agar dibuatkan semacam kata pengantar. Continue reading “Lokalitas, Mutilasi Budaya, dan Multikultural”

KERONCONG KENANGAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Gerimis. Desember. Natal. Lampu-lampu malam yang berwarna jingga. Angin dari selatan meniup begitu pelan begitu lembut. Begitu terkenang. Pada sebuah belokan, Penyair Jarot menghentikan jalannya. Ia menatap sebuah poster sabun mandi bergambar foto perempuan cantik dan seksi. Dulu tepat pada tiang itu terdapat sebuah pohon beringin yang tua, di bawahnya terletaklah kursi taman memanjang. Penyair Jarot mengenang seseorang. Seseorang yang pernah duduk berdua dengannya di kursi taman itu tatkala hujan menjelang dini hari. Continue reading “KERONCONG KENANGAN”

Bahasa »