Catatan atas Novel “Khotbah di Atas Bukit” Karya Kuntowijoyo

A. Syauqi Sumbawi Continue reading “Episteme Kebahagiaan, Penderitaan, dan Pembebasan diri: Potret Manusia pada Batas dan Antara (Bagian I)”
Catatan atas Novel “Khotbah di Atas Bukit” Karya Kuntowijoyo

A. Syauqi Sumbawi Continue reading “Episteme Kebahagiaan, Penderitaan, dan Pembebasan diri: Potret Manusia pada Batas dan Antara (Bagian I)”
Hilmi Abedillah *
Setiap pencari ilmu wajib menghormati ilmu dengan cara takzim pada hardware-nya: guru dan kitab. Di zaman mutakhir, muncul hardware ilmu baru, yaitu smartphone. Lalu, bagaimana perlakuan sang pencari ilmu padanya? Continue reading “TAKZIM PADA SMARTPHONE”
Juan Kromen
Barangkali perjumpaan dengan sesama anak ‘lewotana’ di tanah rantau adalah bentuk atau cara lain untuk melihat wajah kampung halaman. Melalui perjumpaan yang tidak sering di antara kami ini, ada kerinduan akan kampung halaman yang serta-merta terobati, di tengah musim pagebluk yang sedang mencengkeram bumi. Continue reading “Kame Ata’ Waibalun”
Taufiq Wr. Hidayat *
Konon bagi Nabi Isa al-Masih, seorang tukang kayu ulung dari Nazareth, puncak kreativitas manusia terletak pada kearifannya mendalami “ukuran”. Yang dalam Bahasa Indonesia disebut “kadar”. Kata “kadar” ini diserap dari Bahasa Arab “qodar”, yang lazim kita sebut “takdir”. Ukuran dan kadar yang tepat atau pas, akan membentuk kekokohan. Continue reading “KERJA”
Faisal Fathur
Universitas sebagai tempat bergumulnya pemikiran mestilah jadi tempat paling ideal bagi siapapun pegiat akademis untuk berkembang. Bukan semata-mata lekas mengejar gelar, lalu lulus menjadi makelar. Namun lebih berupaya memanfaatkan ruang-ruang pemikiran semasa kuliah demi menajamkan penalaran. Siapapun yang menempa ilmu di universitas seyogyanya sadar akan fungsi dirinya bisa berada di sana. Mahasiswa, juga tentu mafhum bahwa persoalan dialektika tak melulu mesti hadir di ruang kelas. Continue reading “Yang Kuliah, Lalu Berdiskusi”