SASTRA KOREA LEBIH HOMOGEN

(Wawancara Maman S. Mahayana dengan Penyair Soni Farid Maulana, dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Bandung, Kamis, 1 Juli 2010)

1. Sejak kapan, dan sampai kapan jadi dosen tamu di Korea?

Awal September 2009 saya mulai mengajar di Department of Indonesian-Malay Studies, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). Dikontrak untuk dua tahun, dan masih dibolehkan memperpanjang lagi satu tahun. Jadi, paling cepat ya, 2011. Tapi saya berharap bisa sampai 2012 sampai anak saya lulus SMP Korea. Sekarang dia baru kelas 2 SMP di Seoul. Continue reading “SASTRA KOREA LEBIH HOMOGEN”

Mimpi Buruk Sastra di Sekolah

Soni Farid Maulana
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

ADA hal yang menarik diutarakan penyair Sunda, Nita Widiati Efsa, dalam diskusi kecil-kecilan dengan penulis mengenai pelajaran sastra Sunda/Indonesia di tingkat SLTP dan SMA. Menurut dia, belajar sastra adalah belajar tentang kehidupan. Berkaitan dengan itu, dalam mengemban tugas sebagai guru bahasa dan sastra Sunda/Indonesia, seyogianya guru tersebut dituntut untuk memiliki pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang kehidupan itu sendiri. Continue reading “Mimpi Buruk Sastra di Sekolah”

Tanam Modal

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

JIKA ada perusahaan asing gagal menanam modal di Indonesia, hal itu antara lain disebabkan karena si penanam modal tidak memahami apa dan bagaimana budaya Indonesia dalam pengertian seluas-luasnya. Berkait dengan itu, diterjemahkannya karya sastra Indonesia ke dalam bahasa asing dalam hal ini ke dalam bahasa Korea dan Jepang tidak semata-mata berdasar pada pemahaman untuk menikmati nilai-nilai spiritual dan estetika yang terdapat dalam karya sastra tersebut, akan tetapi untuk memahami apa dan bagaimana budaya Indonesia yang terdapat dalam karya sastra. Continue reading “Tanam Modal”

Mengajar Sastra tidak Mudah

Soni Farid Maulana
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

PADA dasarnya, guru bahasa dan sastra Indonesia mengenal dengan baik puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya penyair Chairil Anwar, yang ditulis pada 1946. Apa sebab? Karena puisi tersebut sering dicatat penulis buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk tingkat SMA. Namun demikian, bila ditanya lebih jauh, apakah Anda tahu puisi tersebut terdapat dalam buku puisi yang mana, khususnya bagi para guru yang mengajar di daerah, maka jawabnya adalah tidak tahu. Sebab buku-buku teks semacam itu sulit didapat, baik di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah. Continue reading “Mengajar Sastra tidak Mudah”

Bahasa ยป