DERITA

Taufiq Wr. Hidayat *

Dalam sebuah lagu dangdut lama, dijeritkan suara hati yang terluka. Yang menderita karena rindu, dan karena cinta.


Mengapa kau tak merasa
Yang aku derita?
Dalam aku termenung
Hidupku tersiksa Continue reading “DERITA”

KERONCONG KENANGAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Gerimis. Desember. Natal. Lampu-lampu malam yang berwarna jingga. Angin dari selatan meniup begitu pelan begitu lembut. Begitu terkenang. Pada sebuah belokan, Penyair Jarot menghentikan jalannya. Ia menatap sebuah poster sabun mandi bergambar foto perempuan cantik dan seksi. Dulu tepat pada tiang itu terdapat sebuah pohon beringin yang tua, di bawahnya terletaklah kursi taman memanjang. Penyair Jarot mengenang seseorang. Seseorang yang pernah duduk berdua dengannya di kursi taman itu tatkala hujan menjelang dini hari. Continue reading “KERONCONG KENANGAN”

WAFATNYA JOEN SOEGANDA

Taufiq Wr. Hidayat *

Bagi orang sepenting Joen Soeganda—yang kaya dan berkuasa, kepergiannya meninggalkan dunia fana ini disebut “wafat” atau “mangkat”. Dan bagi yang tidak sepenting Joen Soeganda, orang akan menyebut kematian seseorang dengan kata “tewas”, “mati”, “modar”, “beres”, “selesai”, “tamat”, atau “dead”. Kata-kata kasar seperti itu sangat tidak layak untuk menyebut kematian Joen Soeganda. Siapa yang berani berkata seperti itu? Joen Soeganda bukan orang sembarangan! Dia orang mulia, orang agung, baik, kaya raya, gemar memberi sembako sama orang-orang miskin. Bahkan kata “wafat” untuk menyebut kematiannya pun terasa kurang sopan. Continue reading “WAFATNYA JOEN SOEGANDA”

Bahasa »