Koper Ayah Saya, Pidaro Nobel Sastra Orhan Pamuk 2006

Penerjemah: Tia Setiadi
Majalah Sastra Horison, edisi Des 2014

Dua tahun sebelum kematiannya, ayah saya memberikan kepada saya sebuah koper kecil yang sarat dengan tulisan-tulisan, manuskrip-manuskrip, dan catatan-catatannya. Dengan separuh bercanda dan separuh mencemooh, dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin saya membacanya setelah dia “pergi”, yang artinya setelah dia wafat. Continue reading “Koper Ayah Saya, Pidaro Nobel Sastra Orhan Pamuk 2006”

Dari Khotbah Bunga ke Sungai Tak Bicara

Tia Setiadi
Kompas, 25 Juli 2009

PADA suatu pagi yang bening dan tenang, Sang Buddha mengumpulkan murid-muridnya yang paling tinggi pencapaian rohaninya di Taman Kijang yang terletak di daerah pedesaan Isipatana. Suasana hening aneh ketika itu.

Terasa ada kekhusyukan terpancar dari wajah-wajah para murid pinilih itu. Dedaunan dan burung-burung tak bergerak, seolah ikut khidmat menanti ajaran yang akan diwedar Sang Buddha. Yang mengherankan, sekian lama ditunggu-tunggu Sang Buddha masih juga tak mengatakan sepatah ajaran pun. Continue reading “Dari Khotbah Bunga ke Sungai Tak Bicara”

Dunia Buku: Petualangan Menjadi Manusia

Tia Setiadi*
Kompas, 06 Okt 2007

“Sebelum melakukan petualangan fisik—dalam hidupku, setidaknya—ada petualangan bersama buku-buku. Buku-buku itu menuturkan kepadamu dunia yang maha luas, namun sungguh tercakup. Penuh dengan kemungkinan-kemungkinan.”

Itulah pengakuan Susan Sontag, seorang esais dan novelis perempuan terkenal Amerika Serikat dalam sebuah esai memukau: Homage to Halliburton, yang terhimpun dalam buku Where The Stress Fall. Dalam esai ringkas tersebut, Sontag mengisahkan ihwal pertautannya dengan buku. Continue reading “Dunia Buku: Petualangan Menjadi Manusia”