Tag Archives: Tia Setiadi

Sajak-Sajak Tia Setiadi

http://www.lampungpost.com/
Ode untuk Daun-Daun
: Jingga Gemilang

/1/
daun-daun yang jatuh adalah surat-surat
yang mesti kau baca.

hijau atau jambon warnanya
adalah warna lembaran hatimu sendiri

Dari Khotbah Bunga ke Sungai Tak Bicara

Tia Setiadi
Kompas, 25 Juli 2009

PADA suatu pagi yang bening dan tenang, Sang Buddha mengumpulkan murid-muridnya yang paling tinggi pencapaian rohaninya di Taman Kijang yang terletak di daerah pedesaan Isipatana. Suasana hening aneh ketika itu.

Terasa ada kekhusyukan terpancar dari wajah-wajah para murid pinilih itu. Dedaunan dan burung-burung tak bergerak, seolah ikut khidmat menanti ajaran yang akan diwedar Sang Buddha. Yang mengherankan, sekian lama ditunggu-tunggu Sang Buddha masih juga tak mengatakan sepatah ajaran pun.

Dunia Buku: Petualangan Menjadi Manusia

Tia Setiadi*
Kompas, 06 Okt 2007

“Sebelum melakukan petualangan fisik—dalam hidupku, setidaknya—ada petualangan bersama buku-buku. Buku-buku itu menuturkan kepadamu dunia yang maha luas, namun sungguh tercakup. Penuh dengan kemungkinan-kemungkinan.”

Itulah pengakuan Susan Sontag, seorang esais dan novelis perempuan terkenal Amerika Serikat dalam sebuah esai memukau: Homage to Halliburton, yang terhimpun dalam buku Where The Stress Fall. Dalam esai ringkas tersebut, Sontag mengisahkan ihwal pertautannya dengan buku.

Puisi-Puisi Tia Setiadi

http://www.suarakarya-online.com/
JERUK

Untuk memahami jiwa sebutir jeruk
kau perlu menyimak riwayatnya
mengikuti pengembaraannya
menyebrang benua demi benua,
melintas bangsa demi bangsa,
dengan puluhan kali bersulih nama,

Engkau & Sang Lain

Tia Setiadi
http://pawonsastra.blogspot.com/

Why should the aged eagle stretch its wings?
(T S. Elliot)

Sahabat, pernahkah engkau memperhatikan bunga teratai merah yang telah tumbuh dibawah air dan tiba-tiba mencuat kepermukaan kolam? Begitulah sebuah fragmen kepribadianmu tampil mengukuhkan presensinya diantara fragmen-fragmen lain, seperti sepotong langit yang melukis kebiruannya sendiri. Kebiruan yang dilukis itu adalah Wajah Sang Lain yang menyingkap sekaligus melenyap.