Dunia Buku: Petualangan Menjadi Manusia

Tia Setiadi*
Kompas, 06 Okt 2007

“Sebelum melakukan petualangan fisik—dalam hidupku, setidaknya—ada petualangan bersama buku-buku. Buku-buku itu menuturkan kepadamu dunia yang maha luas, namun sungguh tercakup. Penuh dengan kemungkinan-kemungkinan.”

Itulah pengakuan Susan Sontag, seorang esais dan novelis perempuan terkenal Amerika Serikat dalam sebuah esai memukau: Homage to Halliburton, yang terhimpun dalam buku Where The Stress Fall. Dalam esai ringkas tersebut, Sontag mengisahkan ihwal pertautannya dengan buku. Pada umur tujuh tahun, ia membaca Book of Marvels, buku yang merekam pengembaraan Halliburton ke tempat-tempat yang menakjubkan dan menantang: Tembok Besar China, Grand Canyon, Masjid Biru di Isfahan, Lhasa, Delphi, Taj Mahal, dan banyak lainnya.

Hallington menyebut tempat-tempat itu sebagai “mukjizat”. Dan, gadis kecil itu pun terpesona. Di benak gadis kecil itu, menjadi petualang dan penulis seperti Halliburton merupakan suatu proses menjalani hidup dengan rasa serba ingin tahu yang tak pernah berkesudahan, dengan energi dan kegairahan yang melimpah.

Pikiran itu begitu kuat tertanam dalam diri Sontag kecil, bahkan hingga jauh pada kemudian hari. Puluhan tahun kemudian, Sontag mengunjungi sendiri tempat-tempat ajaib yang dipaparkan dalam Book of Marvels dan dia pun menjadi penulis terkenal.

Perihal seberapa jauh buku-buku karya Halliburton telah memengaruhinya untuk bermimpi menjadi seorang penulis, dengan takzim Sontag menyatakan: “Ketika aku mengenang kembali kini, betapa besarnya pengaruh buku-buku Halliburton kepadaku pada masa-masa awal riwayat bacaku, aku melihat betapa kata “petualang” telah menyusup, mengharumi, dan menghasut lahirnya impianku untuk menjadi seorang penulis; sebab apakah penulis itu selain seorang petualang mental?”

Bocah dari Jawa Tengah

Dalam waktu yang tidak terpaut jauh dengan saat Sontag pertama kali membaca Book of Marvels, nun di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, juga ada seorang anak lelaki yang mengalami hal yang hampir serupa. Anak lelaki itu memang terbiasa ikut bermain bersama teman-teman sebayanya, namun ia merasa ada sesuatu yang berbeda antara dirinya dengan anak-anak lainnya. Dan, beda itulah yang membuatnya sudah mulai berpetualang dengan buku-buku, dan tak bisa kembali lagi selamanya.

Hanya saja, “Waktu itu, dia tak tahu bahwa khayalan- khayalannya menggelikan kawan sepermainannya. Ketika untuk beberapa lama, sambil bermain bola, dibayangkannya padang- padang prairie, meskipun yang mengitarinya tidak lebih dari lapangan rumput bekas pabrik di mana sebatang randu tua tegak dan pohon-pohon mangga melebat.”

Bagi anak laki-laki itu, yang di kemudian hari menuliskan petualangan kreatifnya dalam Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang, “Bukan suatu perbuatan bodoh jika seseorang meminjamkan buku terjemahan Treasure Island kepada rombongan ketoprak amatir desa, yang sedang sibuk mencari sebuah kisah seru setelah mementaskan Damarwulan….”

Anak lelaki itu kini telah menjadi salah seorang penyair dan esais terkuat Indonesia, dan juga telah menjadi seorang “petualang”. Dialah Goenawan Mohamad. Sejauh mana petualangan yang telah dilakukan Goenawan, bisa kita simak, di antaranya, dalam puisi-puisinya. Kalau kita membaca Sajak-sajak Lengkap Goenawan Mohamad (1961-2001), kita akan digamit oleh Goenawan untuk berpetualang ke tempat-tempat jauh; ke Sarajevo, Berlin, Hiroshima, Nanking, Praha, dan tempat- tempat lainnya.

Maka, begitulah anak lelaki dari kota kecil Batang yang “punya khayalan-khayalan yang menggelikan bagi kawan-kawan sepermainannya” dulu itu, yang sekarang telah menjadi “petulang mental” sekaligus “petualang fisik” yang mengagumkan.

Keterbatasan Kant

Yang sangat mencengangkan, menurut saya—barangkali juga terasa agak ganjil—adalah kisah petualangan Immanuel Kant. Syahdan, pada suatu masa dalam kehidupan Kant yang tak terlalu berbahagia, dia pernah menjadi guru besar geografi. Padahal—astaga!—Kant sama sekali tak pernah melihat gunung seumur hidupnya. Bahkan, dia sama sekali tak pernah melihat lautan, yang sebetulnya hanya berjarak sekitar dua puluh mil dari tempat tinggalnya.

Perjalanan fisik yang dilakukan Kant tak pernah melewati batas-batas kota kecilnya, di Konigsberg. Dan, untuk perjalanan ini, Kant sudah memiliki jadwal waktunya sendiri. Dengan jaket abu-abu dan tongkat di tangannya, Kant akan muncul dari balik pintu rumahnya dan berjalan ke arah sebuah jalan setapak yang dihiasi pohon-pohon linden. Inilah yang disebut dengan “Philosopher’s Walks”, dan semua orang tahu persis bahwa saat itu jam menunjukkan angka setengah empat tepat. Kant memang selalu menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan, pada musim apa pun.

Ajaibnya, kendati petualangan fisik Kant sangat terbatas, Kant mampu memberikan kuliah-kuliah geografi dengan penggambaran yang sedemikian cerdas, memukau dan hidup, hingga mampu membuat seluruh pendengarnya membayangkan tempat-tempat yang dipaparkannya. Dari mana Kant beroleh pengetahuan geografi yang menakjubkan itu, tanpa berkelana secara fisik? Dari buku-buku.

Kant seorang petualang mental yang sangat ulung. Dari caranya berbicara dan risalah-risalah yang ditulisnya, orang akan segera tahu betapa Kant telah melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui wilayah-wilayah etika dan epistemologi yang penuh onak. Bahkan, melampaui Ultima Thule (jarak terjauh) logika yang berbahaya hingga menembus lorong ilmu yang paling gelap dan paling jauh dari peradaban, yakni metafisika.

Kisah tentang Sontag, Goenawan, dan Kant di atas meneguhkan kenyataan yang tak terbantahkan ini: pentingnya buku-buku dalam pembentukan kepribadian seseorang. Sedihnya, di Indonesia, kini, buku-buku boleh dibilang telah menjadi spesies yang langka. Yang saya maksud ialah buku-buku yang mampu memberikan kedalaman dan efek kesegaran bagi jiwa.

Buku-buku yang menginterogasi keyakinan-keyakinan kita yang sudah usang. Yang mempertanyakan, yang menggugat, yang mengajak kita berkelahi dengan kedunguan sendiri, yang menantang kita untuk bertualang ke tempat-tempat, yang bahkan belum terpetakan, mungkin tanpa “jalan pulang”.

Yang membeludak dan laku hanya buku-buku yang sekadar pantulan dari realitas televisi kita. Buku-buku yang disebut Sontag dengan tepat sebagai bookscreen, yaitu buku-buku tentang seks, tentang menjadi jutawan dengan cara instan, tentang manajemen, tentang gosip, dan seterusnya. Ya, buku-buku “sejati” sangat langka di Indonesia. Padahal, ah, izinkan saya mengutip Sontag lagi di penghujung tulisan ini, masih dari buku Where The Stress Fall, tapi dari esai A Letter to Borgers.

“Jika buku-buku musnah, sejarah akan musnah dan umat manusia juga akan musnah … buku-buku bukan cuma penjumlahan dari mimpi-mimpi dan ingatan kita, tapi juga memberikan kepada kita model transendensi diri. Banyak orang yang mungkin berpikir bahwa membaca hanyalah sejenis pelarian: pelarian dari dunia riil sehari-sehari ke dunia imajiner, yaitu ’dunia buku-buku’. Tapi, buku-buku lebih dari itu: buku-buku adalah jalan untuk menjadi manusia yang ’penuh seluruh’.”

* Tia Setiadi, Penikmat Buku
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/10/dunia-buku-petualangan-menjadi-manusia.html