Lengtu Lengmua

Triyanto Triwikromo
Kompas, 18 Maret 2012

TEPAT tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau…. Continue reading “Lengtu Lengmua”

Burung Api Siti

Triyanto Triwikromo
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya, ”Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

Tak ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Continue reading “Burung Api Siti”

Sayap Kabut Sultan Ngamid

Triyanto Triwikromo
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Ya, kau juga tahu, hari itu, Minggu 28 Maret 1830, Ramadhan telah berlalu. Karena itu, dalam lukisanku, aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. Jadi, sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. Continue reading “Sayap Kabut Sultan Ngamid”

Penyair, Kembalilah ke Akarmu

Triyanto Triwikromo, Langgeng Widodo
http://www.suaramerdeka.com/

”SETIAP seniman pasti memiliki akar,” kata Goenawan Mohamad, sesaat sebelum Diskusi dan Pembacaan Puisi 18 Penyair Jawa Tengah, di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, yang berlangsung 27-28 Desember, berakhir.

Budayawan gaek tersebut menyatakan premis indah itu bukan untuk penyair, tetapi untuk para penari. Dia juga tak mengatakan di Teater Arena, tetapi di kantin sederhana. ”Akar itu tak mungkin kalian hilangkan. Continue reading “Penyair, Kembalilah ke Akarmu”