Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta

(Tanggapan untuk Arif B. Prasetya)
W. Haryanto*
http://www.jawapos.co.id/

PANDANGAN Arif B. Prasetya tentang sastra Jawa Timur (Jawa Pos, 25 Juli 2010) bukanlah ”sesuatu yang baru”, tetapi hanyalah runutan catatan politis yang diperkenankan oleh Dewan Kesenian Jakarta terhadap sejarah Jawa Timur. Agus R. Sardjono secara eksplisit menyebut, kelisanan (orality) dalam kehidupan sastra modern Indonesia harus segera beralih menuju keberaksaraan (literacy) (pengantar buku Cakrawala Sastra Indonesia, 2004). Acuan Arif B. Prasetya pun tak jauh-jauh dari itu. Continue reading “Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta”

Sajak-Sajak W Haryanto

http://www2.kompas.com/
Lukisan Pengantin
-buat Linang Dian

Sebuah lukisan tentang masa lalu adalah angin yang
Menggeraikan rambutmu. Tapi makna kesangsianku tak terpahat
Dan aku bermimpi dalam kabut; cahaya memercik dari senyummu
Menjadi kelepak kelelawar. Masih aku bermimpi tentangmu
Pada segala yang hendak kuartikan dari mawar hitam
Ketika dunia kini hanya bersisa abu. Continue reading “Sajak-Sajak W Haryanto”

Puisi-Puisi W. Haryanto

http://www.jawapos.com/
MALAM BULAN JULI

Embun terputus ke pinggir gapura: kupu-kupu berbagi
peran dengan bayangan, masjid yang terkurung penat
dengan tanda koma. Ketika malam habis, rambutnya
merentang memungut bulan yatim piatu,
lama ia menghibur diri dan lekat dengan perpindahan,
ia seperti kekasih yang iseng dengan bunga kertas, Continue reading “Puisi-Puisi W. Haryanto”