Puisi-Puisi W. Haryanto

http://www.jawapos.com/
MALAM BULAN JULI

Embun terputus ke pinggir gapura: kupu-kupu berbagi
peran dengan bayangan, masjid yang terkurung penat
dengan tanda koma. Ketika malam habis, rambutnya
merentang memungut bulan yatim piatu,
lama ia menghibur diri dan lekat dengan perpindahan,
ia seperti kekasih yang iseng dengan bunga kertas,
sebelum pagi, ia seperti sepi, ia mata yang tak berpaling
cuma tatapan yang licik, lalu menyingkir ke pinggir subuh
seperti warna Juli yang gelisah. Ketika malam tinggal setitik
pada jambangan bunga, ia seolah menjauh dari kampung,
warnanya tak mau bicara, tinggal buih, tinggal kepulan
teramat getir ia mendengar debar subuh,
tak cukup tema dalam pelariannya. Ketika pagi datang
ia mengeras lalu tersekap dekat semak, malam bulan Juli
cuma arang yang pura-pura menekuni catatan cinta
ia terdampar dalam kata, janji yang kecut dan ia berbisik,
”aku buta dan tak tahu bedakan rasa” — ia larut,
prenjak tak mau meraba, ia cuma perpindahan warna,
di seberang: ketika selat usai di jam 3 dini hari,
ia tak berkenalan dengan dunia, ia jauh dari daratan,
sejenak rindu, sejenak curiga
kepada subuh. ia seperti sebuah komedi,
ia tak menyangka jika ingatan bisa dikubur dalam pasir,
di malam bulan Juli telah habis lampu di meja, selebihnya,
cuma lenguhan…

(2009)

KERONCONG BURUNG

1
keroncong itu mati dekat sumur. Alpa,
seperti jalan pasir
setiap pagi. Tak ada berita yang luang,
kepadaku: perahu-perahu lepas tambatan,
begitu samar tatap kelasi….
laut itu…
aku ingin muda, gigih dibakar pada dinding,
lalu teriak lantang, ”tak cukup besok,
akh, janjimu melulu gincu,” maka aku
tak lagi bertanya,
adakah kenyataan makin surut
dengan kepala tertunduk?
Telah habis kata…
ketika datang separo bulan. Lata
yang bubuhkan warna luang lewat mata
kelewat jalang: TIDAK. Ini bukan kepekaan
yang menyulut kemudi
menyisir pantai penat, pelabuhan-pelabuhan
dengan kincir, burung-burung hitam dari
alam lain. Keroncong itu
terputus. Tanpa penghubung. Tinggal kini
aku ingin menyentuh kesalahan
kesalahan kecil, saling berpaling muka
pada kedai, lalu merasa kehilangan
seperti dulu. Matahari kuning tua,
”akh, pelarian ini –kadang
tertinggal dalam kamar. Tak punya surga,
ya, semalam itu, aku menjadi tekun
bersama orang-orang kakilima
— memutar kincir. Sampai tua,
lalu sia-sia.”

2
Lebih dekat aku pada angin, lama, lalu terberai
dalam pecahan-pecahan gelap: tak pernah genap
muatan dan kesan. Kota pertama
bahkan tak tertera, sajak ini, pilihan ini
tak tenang memilih kata,
aku bahkan tak menuliskankannya: kau
enggan pada esok, jangan bayangkan aku berdiri
pada kesan itu, kau segera gusar pada warna
warna yang kububuhkan. Dekat Beringharjo
mungkin kau tak suka mendengar
bunyi cambuk. Lalu anjing-anjing hutan
menemukan separuh bulan
yang telungkup. Kesepianku. Masih
karena arah yang tak pasti,
kadang dengan acuh
aku seperti tak sengaja
memilihkanmu
satu rangkaian
kepastian. Dan selalu ada
sebelum musim terbiasa
meniadakan. TIDAK. Karena tak kumau
berkarib pada nadamu yang luang
atau kain yogyamu yang mengekang,
Tentu karena pilihanku lebih
lencir bersama orang-orang gardu
memutar kartu.

(Yogya, 2005)

LAGU GUNUNG
buat Tengsoe Tjahjono

Bergegas, sepi mencapai kavaleri
yang mual dan bersorak
cinta dan sihir; anak-anak ternak dengan
pandangan yang patahkan
letak mendung
kita kendalikan arah lava
sampai ke urat-uratnya
10 tahun usai janji diingkari
batu-batu yang tak beruntung
bertahun-tahun,
”ada pesan gemuruh
yang memisahkan kita dari rindu
anak sekolah: trembesi di ujung jalan
dan kita tarikan Syiva
senantiasa hijau. Letak pasir. Langkah
langkah kita, subuh terakhir
yang lama didiamkan.”

(Ngagel, 16 April 2006)

NUN

Maut!
Bulan bimbang dikecupmu
Tak cukupkah?
Maut!
Pucuk-pucuk tebu direngkuhmu
Tak damaikah?
Maut!
Bila terpandang kabut di dahimu
Tak cintakah?

(2004)

*) Lahir di Surabaya 1972. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Airlangga ini menulis puisi, esei, dan naskah drama. Bekerja di Balai Bahasa Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *