Tag Archives: Wahyudin

Pulang untuk Sebuah Cinta

Judul buku: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbitan: 4 Desember 2012
Jumlah halaman: 552 hlm
Ukuran buku: 13,5 x 20 cm
Peresensi: Wahyudin *
radarbanten.com Mar 02, 2013

Mata Penguasa dan Tulisan Cahaya

Wahyudin*
Kompas, 28 Sep 2008

DATANG pertama kali ke Nusantara lewat Batavia pada 1841, fotografi menanggalkan status terhormatnya sebagai bentuk teknologi dan seni baru yang berkehendak melakukan demokratisasi seni di Eropa dan berkedudukan sebagai ”mata penguasa” yang tidak hanya berambisi merekam secara ilmiah kondisi alam dan geografi di Hindia Belanda, tapi juga bernafsu menjinakkan penduduk pribumi di koloni itu karena—untuk memakai pernyataan resmi pemerintah kolonial via Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land (2006: 145)—”dua mata sering tidak cukup untuk mengawasi mereka”.

Si Binatang Jalang dan Sang Maestro

Wahyudin*
Kompas, 13 Mei 2007

PADA Jumat siang, 18 April 1949, ketika Chairil Anwar dikebumikan di pekuburan Karet, Affandi tengah meradang dan menerjang di hadapan sosok Si Binatang Jalang yang belum rampung tergurat di sepotong terpal becak yang meranggas di bekas sebuah garasi di kompleks Taman Siswa, Jalan Garuda 25, Jakarta. Itu sebabnya, pelukis itu absen di pemakaman penyair yang meninggal pada usia 27 tahun itu.

Melukis di Atas Ingatan yang Berkabut

Wahyudin*
http://www.jawapos.com/

Pada 21 Mei 1998, setelah 32 tahun berkuasa, Jenderal Soeharto mengumumkan pemberhentian dirinya sebagai presiden Republik Indonesia. Pengumuman itu mengalun pelan, datar, dan singkat, tak lebih dari sepeminuman kopi pagi, pukul 09.09 WIB, tapi bak hujan sehari menyeka panas setahun, yang menampik syak wasangka bahwa Indonesia serupa kapal perang tua yang bakal tenggelam oleh empasan gelombang krisis ekonomi, kakacauan politik, dan kerusuhan masal.

Via Seni Senjakala Baru

Wahyudin*
http://www.jawapos.co.id/

Apa cerita Wimo Ambala Bayang kepada sepasang waria, tiga binaragawan, sekelompok ibu pesenam aerobik, dan tiga (orang berbaju) superhero Jepang sebelum dia mengambil gambar mereka? Bagaimana dia mengutarakannya sehingga mereka berkenan berpose beraneka gaya dengan menggegam, mengacung, dan menodongkan senjata mainan plastik di hadapannya?