Ben Okri, Pak Leo, dan El Boom

Wawan Eko Yulianto
http://berbagi-mimpi.info/

Andaikan Pak Leo Lumanto mahir menulis novel, dan dia melakukannya sebelum tahun 1991, dan dalam bahasa Inggris, dan distribusinya sampai ke Inggris, tidak mustahil pemenang Booker Prize tahun 1991 adalah Leo Lumanto. Saya yakin Saudara sekalian tahu ke mana arah mimpi saya kali ini. Ya, tentang novel pemenang Booker Prize 1991, atawa The Famished Road, atawa karya Ben Okri, atawa novel yang berkisah tentang alam roh di Afrika. Continue reading “Ben Okri, Pak Leo, dan El Boom”

Sentimentalisme dalam Sejarah Sastra Amerika

Wawan Eko Yulianto

http://berbagi-mimpi.info/

Jadi, pernah juga ternyata terjadi tren-trenan dalam dunia sastra Amerika. Kejadiannya adalah pada tahun 1850-an. Apa yang nge-trend? Yang ngetrend waktu itu adalah: SASTRA SENTIMENTALIS!!!

Jadi, pada masa itu, kira-kira mulai tahun 1848, mulai muncul cerpen-cerpen di majalah yang ditulis oleh para penulis perempuan. Ceritanya sendiri tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan domestik dan percintaan. Bahasanya melambai-lambai, berlebih-lebihan dalam mendeskripsikan, dan lebih banyak menyasar emosi ketimbang memicu pemikiran. Well, singkatnya begitulah. Continue reading “Sentimentalisme dalam Sejarah Sastra Amerika”

Tentang Penyair Mutakhir Jawa Timur dan Apa-apa di Sekutatnya

Wawan Eko Yulianto
http://berbagi-mimpi.info/

Pada hari Sabtu kemarin saya bertemu seorang penyair muda di Malang, Ragil Sukriwul namanya. Sebelum berpisah dari pertemuan itu, dia memberi saya sebuah buku mungil yang hasil cetaknya manis, judulnya “Kepada Mereka yang Katanya Dekat Dengan Tuhan”. Ada satu tagline yang mencolok sekali: “Generasi Mutakhir Penyair Jawa Timur”. Nah, memang buku ini adalah kumpulan puisi-puisi penyair “gres” Jawa Timur. Continue reading “Tentang Penyair Mutakhir Jawa Timur dan Apa-apa di Sekutatnya”

Siapakah Arai? Siapakah Lintang?

Wawan Eko Yulianto

Kedua pertanyaan itu dijamin akan menggelitik pembaca tetralogi Laskar Pelangi, khususnya setelah pembaca tersebut tahu bahwa tetralogi tersebut didasarkan–menurut publisis tetralogi tersebut dan Andrea Hirata sendiri–pada kisah nyata dalam hidup penulisnya.

Saya pernah mendengar kabar bahwa salah seorang anggota dari Laskar Pelangi bilang bahwa tokoh yang seperti Lintang itu sebenarnya tidak ada dalam kehidupan masa kecil mereka. Continue reading “Siapakah Arai? Siapakah Lintang?”

Diterjemahkan Bukan untuk Disembah

Wawan Eko Yulianto

Hasan Aspahani, penyair generasi mutakhir yang diramalkan banyak kalangan bakal (atau mungkin sudah!) berjajar dengan nama-nama serupa Sitok Srengene, Afrizal Malna, Sutardji Calzoum Bahri, berkata bahwa seorang penyair berhutang kepada bangsanya sebuah sajak terjemahan. Gampangnya, setiap penyair harus menerjemahkan sekurang-kurangnya satu sajak dari penyair berbahasa asing yang paling dia sukai. Continue reading “Diterjemahkan Bukan untuk Disembah”