Sapardi Djoko Damono Tak Tergetar oleh Sihir Lebaran

Wawancara pada Sapardi Djoko Damono
http://layar.suaramerdeka.com/

PROFESOR Dr Sapardi Djoko Damono lahir 20 Maret 1940 di Surakarta. Ia, kita tahu, adalah salah satu budayawan penting Indonesia. Pada 1986 penyair ini mendapatkan SEA Write Award. Ia juga menerima penghargaan Achmad Bakrie pada 2003. Tentu sebagai orang Jawa pendiri Yayasan Lontar ini memahami benar makna Lebaran. Apa komentar dia tentang pesona mudik dan makna pulang kampung? Berikut perbincangan dengan dia di Jakarta, belum lama ini. Continue reading “Sapardi Djoko Damono Tak Tergetar oleh Sihir Lebaran”

Puisi Itu Pukulan Bersarung Tinju Beludru

Dorothea Rosa Herliany, Triyanto Triwikromo
suaramerdeka.com

JAWA Tengah wajib bangga memiliki penyair Dorothea Rosa Herliany. Sebab, selain buku puisinya, Santa Rosa, memenangi Khatulistiwa Literary Award 2005-2006, jauh sebelumnya kumpulan puisinya yang lain, Kill the Radio, masuk sebagai lima besar penghargaan paling bergengsi dalam dunia kesusastraan di Indonesia itu pada 2001. Setelah itu, pada 2003 Pusat Bahasa juga memilih dia sebagai pengarang terbaik 2003. Bahkan akhir 2004 Dorothea menerima “anugerah seni” dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Continue reading “Puisi Itu Pukulan Bersarung Tinju Beludru”

Nol Rupiah untuk Sastra Bali Modern

I Made Suarsa
Pewawancara: Darma Putra
balipost.co.id

BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini cocok untuk melukiskan sosok Drs. Made Suarsa, S.U., terutama setelah dia menerbitkan dua buku kumpulan puisi modern berbahasa Bali. Buku pertamanya berjudul “Ang Ah lan Ah Ang” (2004), yang meraih hadiah sastra Rancage tahun 2005. Buku kedua “Gunung Menyan Segara Madu” (2005), yang belum lama ini diluncurkan di Fakultas Sastra Universitas Udayana dan mendapat sambutan positif dari kalangan sastrawan dan pengamat sastra Bali modern. Continue reading “Nol Rupiah untuk Sastra Bali Modern”

Sekarang Ide Multikulturalisme lebih Diterima

Akmal Nasery Basral, Budi Darma
ruangbaca.com

BUDI DARMA selalu dikenal sebagai sosok bersahaja dan rendah hati. Ketika sedang mempersiapkan disertasi doktoralnya yang berjudul Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novels di Universitas Indiana pada 1979-1980, ia menulis novel Olenka yang menorehkan namanya dalam lanskap sastra tanah air. Jauh sebelumnya di tahun 1963 saat usianya baru 26, ia sudah menjabat Dekan Fakultas Sastra dan Seni IKIP Surabaya (kini Universitas Negeri Surabaya/Unesa), kampus yang juga pernah merasakan gaya kepemimpinannya sebagai rektor (1984-1988). Continue reading “Sekarang Ide Multikulturalisme lebih Diterima”

Budi Darma: Lebaran, Bius Primitif untuk Berkorban

Triyanto Triwikromo, Budi Darma
suaramerdeka.com

PROFESOR Dr Budi Darma adalah nama penting dalam kebudayaan Indonesia. Selain telah menghasilkan karya-karya utama semacam novel Olenka, Rafilus, Ny Talis, dan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington, sastrawan ini juga telah mendapatkan berbagai penghargaan semacam SEA Write Award (South East Asian Write Award) (1984), Anugerah Seni Pemerintah RI (1993), dan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden RI (2003). Selain itu pengarang pendiam ini juga pernah mengajar di NTU Australi (Northern Territory University di Darwin), dan NTU di Singapura (Nanyang Technological University), Continue reading “Budi Darma: Lebaran, Bius Primitif untuk Berkorban”

Bahasa ยป