Ajip Rosidi, Mendunia Berkat Sastra Sunda

Ajip Rosidi
Pewawancara: Burhanuddin Bella, M Syakir
infoanda.com/Republika

Bahasa daerah membuatnya prihatin. Ketika merasa tidak ada lagi yang memerhatikan bahasa daerah, Ajip Rosidi menilai inilah saatnya bertindak. Lebih dari 30 tahun, pria kelahiran Jatiwangi pada 31 Januari 1938 ini memperjuangkan nasib bahasa daerah. Hingga akhirnya dia tiba di satu titik. ”Saya lebih baik melaksanakan apa yang bisa,” ujarnya. Ajip berpikir tentang sebuah hadiah sastra. Sayangnya, ide itu tidak bersambut. Continue reading “Ajip Rosidi, Mendunia Berkat Sastra Sunda”

Berthold Damshauser: Sastra Indonesia Kurang Dikenal

Berthold Damshauser
Pewawancara: Seno Joko Suyono, Ibnu Rusydi
korantempo.com

Ia menjepit rokok dengan telunjuk dan jempol tangan kanan. Di sela-sela kalimat-kalimat Indonesianya yang lancar, ia mengisap kretek A Mild itu dalam-dalam. Berthold Damshauser, 52 tahun, adalah salah satu ahli sastra Indonesia di Jerman yang tersisa. Sejak 1986, dia menerjemahkan sastra Indonesia ke bahasa Jerman dan sebaliknya. Continue reading “Berthold Damshauser: Sastra Indonesia Kurang Dikenal”

M. Irfan Hidayatullah, Identitas Lokal dan Hegemoni Pemikiran Barat

M. Irfan Hidayatullah, Agus Rakasiwi, Wawancara
http://pr.qiandra.net.id/

Kampus-kampus di Jawa Barat harus mulai memunculkan wacana lokalitas demi mengimbangi arus besar pemikiran barat. Tentu ini bukan sekadar keinginan menampilkan primordialisme. Juga lebih dari sekadar mewacanakan sebuah identitas. Mewacanakan tentang lokalitas bisa berarti menggali kembali khazanah pemikiran yang menjadi fondasi keberadaan sebuah entitas sosial. Continue reading “M. Irfan Hidayatullah, Identitas Lokal dan Hegemoni Pemikiran Barat”

Abdul Hadi W. M., Seni Itu Kendaraan Naik

Abdul Hadi W.M., Kurniawan / Wawancara
ruangbaca.com

Kesenian, bagi kaum sufi, adalah representasi simbolik dari pengalaman kerohaniannya. Demikian pandangan Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari), sastrawan kelahiran Sumenep, Madura pada 24 Juni 1946. Dia mulai menekuni sastra sufi sejak kuliah di Fakultas Sastra dan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Bahkan, saat meraih gelar Ph.D di Universiti Sains Malaysia dia menulis disertasi yang diterbitkan sebagai Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri Continue reading “Abdul Hadi W. M., Seni Itu Kendaraan Naik”

Pramoedya Ananta Toer: Hasil Kerja Bangsa Ini…Korupsi

Pramoedya Ananta Toer, Triyanto triwikromo /Wawancara
http://www.suaramerdeka.com/

SIAPA bilang sastrawan Pramoedya Ananta Toer pikun? Jika pikun, pria kelahiran Blora, 6 Februari 1925 ini, pasti tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masa lalu. Jika pikun, pengarang tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca ini tentu tidak mengingat sepatah pun kisah pelarangan karya-karyanya dan penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh tentara. Lalu, apa pendapat novelis yang berkali-kali dicalonkan sebagai penerima nobel kesusastraan ini? Berikut petikan perbincangan dengan dia di rumah asrinya, Jalan Warung Ulan, Bojong, Jawa Barat, belum lama ini. Continue reading “Pramoedya Ananta Toer: Hasil Kerja Bangsa Ini…Korupsi”

Bahasa ยป