Tag Archives: Yesi Devisa

In memoriam, Ratna Indraswari Ibrahim

Yesi Devisa*

Ketika masih duduk di bangku sekolah, baik sekolah dasar hingga sekolah menengah, belum saya temukan nama pengarang asal malang tersebut. Saya baru diperkenalkan dengan tulisannya ketika Saya duduk di bangku kuliah. Tepatnya pada semester 4. Saya bertanya pada teman, apa mereka pernah membaca karya Ratna Indraswari sebelumnya? Jawaban mereka senada dengan Saya. Belum. Seiring berjalannya waktu hingga saat ini, baru saya sadari bahwa betapa pengarang yang begitu gigih menyuarakan kaumnya itu masih tidak dikenali oleh generasi muda.

Puisi Cinta di Panggung Pelangi Sastra Malang

Yesi Devisa *

Sebagian orang berargumen bahwa puisi cinta itu sampah, rayuan gombal dan 99% bohong. Bahkan pendapat yang lebih ekstrem mengatakan bahwa puisi cinta itu menjerumuskan. Mungkin harus ada pelurusan dalam hal ini. Salah satunya dengan adanya pementasan pembacaan puisi seperti acara “Pelangi SastraMalang [on Stage] #9: Words War, Perang Kata dalam Puisi Cinta” yang diselenggarakan di lorong masjid AR-Fachruddin, Universitas Muhammadiyah Malang

Maqam Siti dalam Surabaya

Yesi Devisa*

Bung Tomo dan Siti Surabaya yang Bonek, mampir dan curhat di bumi arema? Ini yang tengah terjadi pada hari Jum’at, tepatnya pada tanggal 25 Februari pukul 14.00 WIB di Laboratorium Drama Fakultas Sastra UM. Di sana, “Bung Tomo dan istri” mengawali pentas dengan acara curhat. Lelucon-lelucon khas Surabaya tak henti mereka suguhkan. Tak ada bentrok atau tawuran, malah yang ada adalah suasana akrab bersahabat dengan Acara dilanjutkan pada acara inti dengan sedikit lebih serius;

Memaknai Perang Kata Dalam Prosa

:Sebuah Catatan dari Pelangi Sastra Malang [On Stage] #8
Yesi Devisa*

Apa yang muncul dalam benak Anda jika mendengar kalimat “Perang Kata dalam Prosa”? aneh memang. Sesuatu hal yang seakan tidak pernah dibicarakan bahkan dilangsungkan. Prosa yang rata-rata berisi lebih dari kurang lebih 500 kata dibacakan dengan ekspresi dan penghayatan dalam satu forum pertemuan. Tapi, bukankah di dunia ini tidak ada lagi yang mustahil?