Puisi Cinta di Panggung Pelangi Sastra Malang

Yesi Devisa *

Sebagian orang berargumen bahwa puisi cinta itu sampah, rayuan gombal dan 99% bohong. Bahkan pendapat yang lebih ekstrem mengatakan bahwa puisi cinta itu menjerumuskan. Mungkin harus ada pelurusan dalam hal ini. Salah satunya dengan adanya pementasan pembacaan puisi seperti acara “Pelangi SastraMalang [on Stage] #9: Words War, Perang Kata dalam Puisi Cinta” yang diselenggarakan di lorong masjid AR-Fachruddin, Universitas Muhammadiyah Malang pada tanggal 19 Maret 2011. Penulis yakin akan ada kesimpulan yang berbeda setelahnya (khususnya bagi penganut paham di atas).

Acara ini dikemas serupa dengan acara Malang on Stage yang lalu (perang Kata dalam Prosa), yakni berupa pembacaan puisi-puisi cinta oleh sekian penyair secara sukarela. Satu-persatu para undangan dari berbagai komunitas sastra dan seni se-Malang Raya menampilkan aksi mereka dalam membaca puisi. Seperti biasa, sebagai pembuka diawali oleh performansi Denny Mizhar selaku wakil dari Pelangi Sastra Malang, si empunya hajat, dan dilanjutkan oleh teman-teman penyair dari berbagai komunitas. Terlihat di sana ada Yusri Fajar (dosen Sastra Inggris Universitas Brawijaya), Nanang Suryadi (dosen Ekonomi Universitas Brawijaya Malang) dan Juma’ali (Seniman Teater). Juga teman-teman dari beberapa komunitas sastra seperti Tinta Langit, UKMP UM, HMJ BASTRA FKIP UMM, Teater HOMPIMPAH FE UMM, Teater Kata Mati FKIP UMM, Teater BELBABA Fak. Psikologi UMM, Teater CREMONA Fak. Teknik UMM, Lembah Ibarat, FLP UM, Arisan Sastra Trenggalek, STKIP dari Trenggalek, Mahasiswa Brawijaya dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Puisi-puisi cinta yang dibacakan bisa jadi puisi karya penyair pribadi atau puisi karya penyair ternama seperti Rendra dan Neruda. Uniknya, (entah suatu kebetulan atau memang benar-benar kebetulan) dari berbagai puisi cinta yang dibacakan oleh teman-teman malam itu kebanyakan adalah puisi karya W.S. Rendra. Puisi-puisi seperti Surat Cinta, Nyanyian Suto Untuk Fatima, dan lainnya. Jenis dan model pembacaan puisi cinta-pun berbeda-beda tiap penyair. Ada yang puisinya berbahasa lugas, ada puisi yang penuh metafor-metafor alam, metafor tubuh, ada yang membacakan dengan ekspresi datar, ada juga yang mengawinkannya dengan seni pertunjukkan (juga gaya komedian) hal ini dilakukan oleh Juma’ali saat membacakan puisi dari buku kumpulan puisi “BIAR” karya Nanang Suryadi. Juma’ali mengabil jeda dan memberi komentar pada bait-bait puisi karya nanang suryadi yang membuat penonton tertawa melihat ulah pembaca. Kreativitas yang diusung oleh penyair dan pembaca puisi, acara menjadi tidak membosankan; ada yang melakukan dramatikalisasi puisi, musikalisasi puisi. Para undangan sangat antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai. Ruangan tetap penuh hingga jam menunjukkan pukul 22.00 WIB.

Saat berlangsungnya acara, panitia sempat mengumumkan berita duka bagi orang-orang yang tidak bisa hidup tanpa sastra; Terancam ditutupnya perpustakaan H.B Jassin. Sebagai ungkapan kekecewaan dan bela sungkawa (atas matinya rasa hormat), dengan kesadaran sendiri, para undangan berinisiatif mengumpulkan “Koin Sastra untuk H.B. Jassin”.

Sebagai penutup, Yusri Fajar yang didaulat memberikan sentuhan akhir mengatakan”Dalam mengapresiasi bentuk karya sastra, orang bebas memilih. Jika malam ini teman-teman ada yang membaca dengan gaya santai seperti Sapardi, atau menggebu-gebu dengan memasukkan unsur seni pertunjukkan seperti yang diyakini Rendra (alm.), itu kesemuanya adalah pilihan. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bukan seperti apa bentuk apresiasi, melainkan bagaimana caranya agar kita terus bisa mengapresiasi”.

*) Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang