Giliran Islam Meruntuhkan Kapitalisme

Judul Buku : Islam Melawan Kapitalisme
Penulis : Zakiyuddin Baidhawy
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Agustus 2007
Tebal : vi + 262 Hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Ketika keambrukan kapitalisme tampak bernas, tinggallah mendayaguna niat kita untuk melawan. Seakan menjadi derita bersama apabila kita tetap mengamini atau berkata “ya” pada sistem kapitalisme. Kemiskinan yang kian meruyak, eksploitasi alam yang kian buas, dan konsumerisme yang kian masif, tak lepas dari buah tangan kegagalan peradaban kapitalisme itu sendiri.

Melacak dari akar jerat kapitalisme berbuah proyek kendaraan globalisasi, diawali oleh krisis pembangunan yang pada dasarnya merupakan bagian dari krisis sejarah dominasi manusia atas manusia. Proses sejarah dominasi itu dapat dibagi dalam tiga periode formasi sosial.

Pertama, periode kolonialisme. Suatu fase dimana perkembangan kapitalisme di Eropa mengharuskan ekspansi secara fisik untuk memastikan perolehan bahan baku mentah. Kedua, periode neo-kolonialisme. Dimana modus dominasi dan penjajahan tak lagi fisik secara langsung, melainkan melalui penjajahan teori dan ideologi. Selanjutnya adalah periode neo-liberalisme (kebangkitan kembali liberalisme). Yaitu, konstruk kepercayaan bahwa pertumbuhan ekonomi dicapai sebagai hasil normal lewat kompetisi bebas.

Melihat formasi laju ekonomi global seperti diatas, pasti dapat menumbuh-subur dan mengarus-deraskan kapitalisme, yang ditandai dengan globalisasi pasar, investasi, serta proses produksi dari perusahaan-perusahaan transnasional. Namun, angin segar segera mengipasi rakyat seiring runtuhnya kapitalisme Asia Timur yang berbarengan dengan globalisasi muncul.

Era baru tersebut mencoba meyakinkan rakyat miskin di Dunia Ketiga seolah-olah merupakan aras baru dengan ekspektasi kebaikan disegala lini kehidupan umat manusia dan keharusan sejarah manusia dimasa depan. Sudah saatnya kini memikirkan permasalahan sekitar pemiskinan rakyat, marginalisasi rakyat, serta persoalan keadilan sosial.
***

Islam, memiliki desain penolakan khusus guna mengganti sistem ekonomi yang mapan, adil, dan tanpa eksploitasi. Dalam buku Islam Melawan Kapitalisme, karya Zakiyuddin Baidhawy ini, Islam tak sekadar disemai sebagai agama, yang melulu mengurus soal ibadah an-sich, tapi lebih kepada tanggung beban spektakulernya adalah menuntun hidup (duniawi) makhluk bumi. Umat Islam diajarkan bagaimana ia tidak terperosok pada penguasaan serakah materi tanpa diimbuhi sisi spiritualitas.

Sebagai agama rahmatal lil-alamin disamping juga agama-agama lainnya, Islam sangat mencitakan keadaan masyarakat atau umat agar sejahtera, makmur, dan bebas dari belitan kemiskinan tanpa kesudahan seperti sekarang. Kemiskinan yang menempa masyarakat saat ini, dapat secara kasat mata dilahirkan oleh rahim kepincangan sistem yang menggiring kepada kemiskinan struktural. Struktur dan sistemlah yang membikin rakyat sengsara, menderita, hingga getir tapaki hidup.

Maka dari itu, tata keranuman konsep sesegera mungkin dilakukan, seperti halnya Zakiyuddin dengan karyanya ini. Ia lewat ijtihad ilmiahnya menaklukkan kegarangan kapitalisme. Di bab dua buku ini, ia memaparkan kegagalan teori-teori keadilan kontemporer. Seperti, prinsip egalitarianisme radikal, prinsip perbedaan (John Rawls), prinsip berbasis sumber daya (Dworkin), prinsip berbasis kesejahteraan, prinsip berbasis balasan, dan prinsip libertarianisme (Robert Nozick).

Pada bab ketiga, Zakiyyudin telah memasuki wilayah kajian dengan ekspolarasi ayat al-Qur’an yang dijadikannya sebagai jawaban atas isu kepemilikan secara tematik. Sehingga, diharap akan tercipta rumusan prinsip keadilan yang matang dalam kepemilikan berikut implikasinya.

Kepemilikan, menurut al-Qur’an, disebut dengan satu istilah, yaitu al-milk. Allah sebagai sumber segala kepemilikan disebut sebagai al-Malik (hlm. 52). Kalau menyitir Q.S. 34:22, disana dibunyikan bahwa: “Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki sebesar atom pun apa yang ada dilangit dan bumi.” Sepenggal pesan ayat yang menyiratkan bahwa Allah memiliki segalanya, langit, bumi dan beserta isinya.

Problem utama dalam perekonomian adalah bagaimana menjawab soal kelangkaan sebagai akibat ketakseimbangan antara kebutuhan masyarakat dengan faktor-faktor produksi yang tersedia. Dengan begitu, Tuhan menciptakan seluruh sumber daya yang ada di alam semesta sebagai suatu keharusan bagi manusia untuk dapat bertahan hidup dan melangsungkan kehidupannya.

Pada saat yang sama, Tuhanpun membekali kepada manusia alat untuk mendayagunakan secara rasional (akal) sumber daya agar memproduksi barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan-keinginannya. Karena keserakahan menggerus secara serampangan sumber daya alam, maka disini sama sekali tak dibenarkan.

Kata al-Khizanah (sumber daya) beragam bentuk dalam al-Qur’an disebut sebanyak 13 kali. Q.S. 15:21 misalnya, yang berbunyi: “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran tertentu.” Wahbah al-Zuhaili menjelaskan kata khaza’inuhu dalam konteks ayat ini adalah tidak ada sesuatupun di alam semesta ini yang bermanfaat bagi manusia kecuali Allah yang mampu mewujudkan dan mengadakannya dengan ukuran yang diketahui. Al-Khaza’in adalah tamsil bahwa Tuhan menetapkan segala sesuatu menurut ukurannya.

Disamping itu, Zakiyuddin pada bab lima mengulas perilaku konsumsi bersahaja. Adalah suatu keharusan memerhatikan bagaimana manusia mengonsumsi atau memanfaatkan kekayaan. Mungkin saja dalam suatu wilayah terdapat limpahan kekayaan sebagai akibat memiliki sistem pertukaran dan distribusi yang adil dan seimbang, tapi kewajiban untuk tetap menjaga agar tetap stabil adalah tuntutan yang terus-harus dirawat. Sehingga, produksi yang adil perlu diimbangi dengan cara mengonsumsi yang benar dan proporsional.

Pada kajian selanjutnya, yaitu bab enam, diurai masalah distribusi dan redistribusi berpihak. Tema-tema menggugah tampak terbangun, misal “Zakat sebagai wujud solidaritas sosial”, “Wakaf sebagai filantropi sosial” dll, turut membikin segar kajian pada bab ini. Tak anyal, zakat dan masalah wakaf mutakhir ramai diperbincangkan tak hanya pada wilayah karitas pengguguran kewajiban keagamaan, tapi bagaimana kedua bentuk ibadah agama itu dapat mengentaskan kemiskinan global.

Terakhir, jawaban tentang konsep keadilan ekonomi dan sosial dapat ditemui secara lengkap dan padat diulas ranum dibuku ini. Kiranya, kesan klise yang kerap tampil di dunia perbukuan kita, tak terjadi pada buku ini. Alasannya adalah karena jarangnya bentuk ijtihad ilmiah yang serupa. Kajian-kajian didalamnya masih segar, penuh kedalaman. Buku yang layak dibaca, bagi mereka yang percaya bahwa kapitalisme mesti dikubur, diganti dengan menegakkan sistem alternatif (Islam).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *