Apologia, Absurditas dan Puisi

Mashuri

Abad ini tidak hanya berada di akhir gagasan tentang puisi. Dunia imaji sudah terbelah dan jumbuh dengan realitas yang terfiksikan; dan ide-ide tentang bahasa semakin rapuh dan jauh dari proyeksi kreatif. Dalam kondisi hiperrealitas dan dunia dengan citra yang direkayasa, diperlukan upaya kreatif yang subversif untuk mengoyak kebuntuan itu. Salah satunya adalah dengan menembus batas, dan meradikalkan konsep tradisi dan pembaruan dalam titik yang paling ekstrim.

Tolak ukur yang digunakan dalam melihat puisi selama ini adalah kata, kekuatan kata dan metafora yang melatarbelakanginya. Ada ahli sastra yang menganggap penyair tak lebih hanya pengrajin. Para penyair dalam pandangan mereka, adalah pribadi yang suka mempermainkan bahasa, dengan sikap kebinalan sebagai orang yang mengerti bahasa, potensi serta persilangan yang melekat di dalam dan di luar bahasa. Penyair hanya merakit kata, tanpa tahu lebih jauh tentang kata itu.

Mungkin sebagian pandangan mereka benar, tetapi ketika puisi tidak hanya terpusat pada kata, maka apa yang mereka pikirkan merupakan sebuah pemikiran yang tak berparadigma. Sebab, mereka tidak pernah bisa menembus inti dalam dari puisi, langgam kesenyapan, ruh yang kadang luruh, nafsu binal dan keretakan manusia sekaligus keagungannya. Sehingga mereka hanya berkata dan mengklaimnya dengan hanya mengamati dari sisi luarnya, sisi yang tampak lahiriah, dari sudut bahasa yang rentan, dari sebuah kulit yang bisa tanggal dan terkelupas. Sebuah pengamatan yang sia-sia.
Padahal ide tentang bahasa, sekali lagi telah rapuh. Struktur telah goyah dan segala hal yang menyangkut hubungan petanda dan penanda koyak, kadang jumbuh, berantakan dan kadang berhenti di persimpangan. Sehingga apa yang mereka dapatkan dari pembacaan pada puisi, sebenarnya berasal dari wilayah yang hanya menyentuh bentuk logika yang paling dangkal.

Bagi kalangan surrealis, suprarasionalis dan realis-magis, memihak pada wilayah dalam adalah sebuah kewajiban. Kemudian, puisi pun mengejawantahkan adanya sebuah dunia, ketika manusia dikembalikan pada titik nadirnya, sebuah posisi purba yang meyakini bahwa manusia awalnya adalah binatang sekaligus malaikat. Tak ada pengkotakan bahwa dunia harus termanivestasi seperti apa yang terlihat dan teraba. Sebab dunia harus direbut dari sebuah kungkungan yang tidak lagi menunjukkan sebuah tata yang dapat dipercaya: makna terberi, rekayasa penciptaan dan bermacam prasangka.

Hanya saja, pada taraf tertentu, ada kalanya pemahaman yang dangkal pada surrealis juga menjadikan seseorang, baik kritikus dan penyair terjebak dalam sebuah permainan hampa. Jika permainan itu melibatkan jiwa, maka permainan itu memiliki cara pandang tertentu pada diri manusia, lewat kerapuhan dan keterpecahannya. Sayangnya, kebanyakan sudut pandang yang ada melihat dan berupaya mendramatisir dunia dalam sebuah sistem dan struktrur yang sebenarnya sangat melemahkan, karena berpatok pada sesuatu yang mungkin. Tak ada keberanian dan nyali untuk merambah wilayah ketidakmungkinan, dengan batas ruang tak terkira.

Lalu adakah yang dapat disinyalir adanya konsep pewahyuan dalam kerja kepenyairan, untuk mengenal dan merambah wilayah dalam? Saya kira, seorang penyair yang mengerti puisi adalah penyair yang sudah melampui proses pewahyuan itu. Ia tidak lagi mengandalkan sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Tetapi ia bisa mencipta dari dirinya. Ia bisa mencipta peristiwa dalam benak dan dada. Jika itu dianggap sebagai permainan, baik dalam tataran bahasa struktural maupun metabahasa, maka unsur-unsur metafisika memang terlanjur berada dalam proses itu. Ia tidak bisa ditolak kehadirannya atau diundang, karena ia sudah merasuk dalam proses kreatif yang hanya bisa dikenali oleh pribadi penyair dengan segala renik palung jiwanya, untuk melahirkan karya-karyanya yang bermutu.

Jika kemudian yang tampak adalah sebuah dunia yang absurd, tak terkenali, mengiris kenyataan yang bermain di luar realitas si penyair. Maka, hal itu karena puisi, sekali lagi puisi, mampu mengejawantahkan dengan demikian detail diri manusia, dunia, dengan segala absurditasnya. Ia bisa mengenali yang tak bisa dikenali, karena seorang penyair adalah manusia yang berada di luar dari dunia yang dipenuhi prasangka, dengan segudang rekayasa dan makna yang terberi.

Dalam hal ini, saya tak ingin menyamakannya dengan konsep absurditas siapapun. Tapi absurditas di sini bukan hanya terpaku pada sebuah pengerjaan yang sia-sia pada proses menjelajahi dunia dan menghancurkannya, tetapi juga melampaui proses menghancurkan diri sendiri, kesadaran, ketaksadaran dan menjadikan sebuah cara pandang yang berbeda dari mainstream yang ada, baik dalam tataran yang lebih legal maupun tak legal. Ia tidak sekedar sebuah prosesi bunuh diri filosofis. Bahkan, bisa mengacu pada penghancuran diri. Bunuh diri secara total.

Dari sini, bahasa yang menyaran pada sebuah ujaran yang bisa ditarik maknanya tidak bisa mengejar. Puisi terus berada di garda depan dan bahasa akan terpontal-pontal mengikutinya. Dengan catatan, puisi itu menyangkut tentang gagasan tentang puisi yang bisa menerjemahkan sebuah keadaan yang bersifat hakiki dan adikodrati. Sebuah pemetaan yang metabahasa, berada di luar waktu, sekaligus di dalamnya, dan mengedepankan pengucapan yang orisinal dari dasar jiwa manusia, sekalian lubang hitamnya, dengan sebuah pemenuhan standart estetika yang tidak hanya berasal dari olah rasa semata.

Bukankah itu bersifat pewahyuan? Sekali lagi, masalah pewahyuan adalah salah satu cara, selain banyak cara untuk merengkuh suara-suara liar yang berdengung, berdesakan dan merubung segenap indera si penyair dari segenap sisi. Mungkin seperti alat rekam yang berdiam dalam dirinya dan menyaring semua suara yang terdengar, sambil terus berteriak dan merekamnya lalu menerjemahkannya dalam bait-bait, baris-baris, bahkan dalam satu huruf, cukup.

Kita memang berada di akhir gagasan tentang puisi. Kira hanya berhadapan dengan rumah tua yang saatnya didekonstruksi, dibongkar, dikubur dan mendirikan rumah baru, dengan tatanan baru. Kita bisa bertindak sebagai seorang yang historis maupun ahistoris, senyampang setiap langkah pembongkaran kita memang menyaran pada sebuah gagasan tentang pengejawantahan dari sebuah cara pandang pada dunia yang memberikan kesegaran, dibalut tawaran-estetika, meski dengan langgam kekejaman dan titik tragis, dan dibahasakan dalam tata yang melampaui jamannya, baik silam, kini atau masa depan.

Dan, manusia bisa mengenali kedirianya lewat ucapannya sendiri. Sebuah ucapan yang berasal dari dasar, perpaduan naluri purba dengan kemurnian, suara yang bergaung dari sumur yang tak terlihat oleh awam, sebuah wilayah yang tak bisa diraba dan dirasakan dengan frekwensi dan intensitas sekali saja. Kerna di dalam sana, tidak hanya tampak kemilau air, riak ombak atau gelombang udara yang bisa membuat siapapun yang masuk ke dalamnya tercekik dan mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *