MATA YANG TEDUH

Haris del Hakim

Jalan itu berkelok sangat tajam. Sapi’i terlambat membanting setir mobilnya, menabrak pohon, dan beberapa saat kemudian dia sudah terbaring di rumah sakit; dadanya dijahit dan kedua matanya harus ditutup perban.

Mata bagi Sapi’i sangat penting artinya. Karena, hampir semua orang memuji matanya. Sorotnya teduh, bulunya lentik, serta lirikannya meruntuhkan jantung siapa pun yang memandangnya. Salah satu buktinya adalah istri yang cantik dan terpaut lima belas tahun darinya. Hanya berbekal mata itu pula ia terbilang sukses dalam pekerjaan sebagai pialang. Persoalan jual beli yang menjadikannya sebagai perantara jarang mendapatkan masalah. Mulai dari rumah, tanah, kendaraan, dan apa saja yang bisa diperantarai.

Sapi’i menggerakkan tangan hendak membuka perban di kepala, namun istrinya segera mencegah dan memekik, “Kamu sudah sadar, Mas?”

“Mengapa aku di rumah sakit?” tanya Sapi’i dengan nada keras. “Bukankah kamu tahu aku paling alergi dengan bau rumah sakit?”

Istri Sapi’i yang muda itu menjawab dengan tangisan. Dia tahu betapa sakit hati Sapi’i kalau tahu mata kesayangannya tidak berfungsi lagi. Ketika Sapi’i mengulang pertanyaannya lagi, goncangan tubuhnya tak tertahankan hingga menekan bagian dada Sapi’i yang baru dijahit. Sapi’i menjerit, “Mengapa sekujur tubuhku diperban?”

Istri Sapi’i makin keras menangis. Untunglah pintu terbuka dan seorang dokter muda yang tampan tersenyum pada istri Sapi’i. Bibirnya melontarkan pertanyaan dengan nada lembut, “Sudah sadar?”

Tangan Istri Sapi’i mengelus dada yang diperban namun matanya menatap dokter muda itu. Mereka terlibat dalam pembicaraan tentang luka Sapi’i. Sapi’i jengah diperbincangkan dan menanyakan langsung keadaannya. Seperti dokter-dokter lain, dokter muda itu meyakinkan Sapi’i bahwa lukanya baik-baik saja dan rumah sakit ini akan sanggup memberikan pengobatan hingga sembuh, meskipun tidak secara total. Tidak lupa dokter muda itu juga menyebut kekuasaan Tuhan tentang cobaan dan menyuruh Sapi’i bersabar. Begitu pula sarannya kepada istri Sapi’i. Sapi’i menanyakan berapa perkiraan biaya perawatan dan dokter muda itu tidak langsung memberikan jawaban berapa jumlah nominal yang harus dikeluarkan, melainkan dia bercerita panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan luka Sapi’i yang semakin parah bila dibiarkan. Tentu saja, dengan bahasa kedokteran yang tidak dipahami maksudnya oleh Sapi’i dan istrinya. Setidaknya, mereka berdua bisa membayangkan bahwa luka yang dialami Sapi’i tidak bisa dianggap remeh dan tentu saja ongkosnya mahal.

Sapi’i merasa bosan dengan penjelasan dokter muda itu dan menukas dengan pertanyaan berapa rupiah dia harus membayarnya. Dokter muda itu memperdengarkan seringai ramah, “Belum bisa dipastikan.”

Rasa dongkol menghantam dada Sapi’i. Untuk tahu satu kalimat pendek saja dia harus mendengar ceramah panjang lebar tanpa mengerti maksudnya pula. Ketika terdengar pintu kamar ditutup ia pun bernafas lega.

***
Jutaan rupiah telah keluar dari tabungan Sapi’i, bahkan tak tersisa lagi, namun semua itu tidak dapat mengembalikan matanya yang teduh. Dunianya pun berubah. Selama ini orang-orang berduyun-duyun meminta pendapat dan nasehat padanya, dunia pun gemerlap dengan lampu kerlap-kerlip dan bermacam ragam manusia, dan kesibukan seperti hiburan yang memukau serta menyeret para pemainnya dalam arus tak terbendung. Sekarang dia sendirian ditinggalkan sanakkerabat dan teman-temannya dalam dunia gelap yang hanya dihuni oleh beberapa suara di sekitarnya saja.

Hampir tiga tahun Sapi’i menjalani dunia gelap dan tergantung pada orang lain. Dia hanya mengandalkan telinganya yang perlahan mulai rusak digerogoti usia. Hanya suara istrinya yang bisa dikenali dengan baik dan beberapa sanak kerabat yang masih sering berkunjung padanya. Sementara mereka yang hanya dekat ketika dia menggenggam sukses sudah tidak pernah menghubunginya lagi dan terlupakan oleh Sapi’i.

Kekayaan Sapi’i yang dikumpulkan selama puluhan tahun sudah ludes untuk biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Beberapa badan usahanya telah berpindah tangan. Tahun pertama usaha transportasi, kemudian pertokoan, disusul perumahan, lantas swalayan-swalayan, servis mobil, dan akhirnya tinggal rumah yang ditempatinya yang tersisa. Istri Sapi’i pontang-panting mengatur simpanan dan aset yang kian tipis. Apabila sampai tiga bulan ke depan tidak ada penghasilan tetap maka bukan tidak mungkin bila rumah mereka pun terjual. Keadaan itu diperparah dengan teman-teman istri Sapi’i yang mulai mencemooh keluarganya sebagai orang bangkrut. Sapi’i hanya bisa menghiburnya dengan nasehat-nasehat untuk bersabar.

***
Pagi itu sesuatu yang luar biasa terjadi. Mata Sapi’i yang buta akibat kecelakaan dapat melihat kembali. Sorak kegirangan, rasa tidak percaya, puji sukur berkali-kali, terbalut menjadi satu. Dia memuji Tuhan yang mengembalikan matanya yang teduh. Dia memanggil istrinya untuk membagi kebahagiaan tak disangka itu. Ia berteriak berkali-kali tetapi tidak ada sahutan. Dia keluar dari kamar.

Liku-liku lorong ruang masih dapat dikenali meskipun dia merasa asing, seperti seseorang yang telah lama meninggalkan rumah dan kembali lagi. Rumah Sapi’i masih bersih. Istrinya perempuan yang rajin meskipun bertahun-tahun Sapi’i menjadi bebannya; sebagai orang buta dan bangkrut. Dia terus berteriak memanggil istrinya. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari seorang bangkrut selain kembalinya modal utama dan harapan untuk bangkit kembali? Selama lima tahun dia kehilangan mata yang teduh dan sekarang kembali lagi.

“Lily!” teriak Sapi’i dengan keras ketika mendapati istrinya sedang memotong rumput di taman..

Istri Sapi’i tampak kaget mendengar suaminya memanggil dirinya dan perlahan-lahan mendekatinya. Dia masih juga belum percaya ketika Sapi’i menunjukkan kedua matanya yang tak lagi terpejam dan berfungsi dengan baik. Sapi’i mengatakan kalau ada tanah di jidat istrinya sebagai bukti kalau dia sudah bisa melihat lagi. Istri Sapi’i meraba bagian tubuh yang dimaksud dan mendapati sepotong tanah basah di jidatnya. Ia melepas gunting rumput dan memeluk suaminya erat-erat.

Istri Sapi’i buru-buru melepaskan pelukannya kemudian masuk ke rumah. Tangannya mengambil buku telepon dan beberapa saat kemudian ia sibuk berbicara dengan teman-temannya. Ia menghubungi siapa saja dan mengatakan suaminya sudah dapat melihat lagi, tentu saja sambil mengungkapkan harapan bahwa sebentar lagi masa kejayaan akan terulang kembali. Mata yang teduh itu akan melindungi dirinya dan nama baiknya yang hampir suram itu.

“Ini memang mukjizat,” kata istri Sapi’i. “Bapak benar-benar orang baik. Sejak dulu sudah saya katakan kalau kami akan mengulang kejayaan itu. Pada saat musibah ini menimpa suamiku, saya yakin ini ujian dari Tuhan. Saya akan bersabar dan kesabaran itu telah membuahkan hasil sekarang.”

Hampir setengah hari istri Sapi’i sibuk menelepon ke sana kemari. Dia juga menambahkan kalau nanti malam ada sukuran sederhana. Sapi’i berkali-kali memperingatkan bilamana biaya pulsa akan membengkak bulan ini, tetapi dengan enteng istrinya menjawab, “Tenang saja. Nanti malam semua pasti sudah kembali. Matamu yang teduh itu akan mengeruk kekayaan harta mereka.”

Pada sore hari banyak teman-teman lama Sapi’i yang berkunjung ke rumahnya. Mereka memberikan ucapan turut berbahagia atas kesembuhannya. Mereka yang selama ini menghilang ketika Sapi’i menderita kebutaan mengemukakan alasan masing-masing. Mereka juga mengemukakan upaya-upaya yang dilakukan demi membantunya. Sapi’i mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas semua itu. Seperti yang dikatakan oleh istrinya; di antara mereka ada yang menyelipkan amplop, yang tergesa-gesa menggenggam lembaran ratusan ribu, ada juga yang meletakkan Bilyet Giro ke meja Sapi’i.

Ketika semua sudah pulang, istri Sapi’i cepat-cepat mengumpulkan amplop dan surat berharga yang ada. Dia menghitung jumlahnya dan bersorak gembira karena hanya dalam semalam ia mendapatkan ratusan juta rupiah. Dia kembali mengatakan kalau kejayaan itu akan kembali.

“Lihat, Pa. Sinar matamu yang teduh telah berfungsi kembali menjadi modal utama kita. Dalam semalam saja telah terkumpul uang sedemikian banyak. Tatapan matamu berhasil mengetuk pintu hati semua orang. Tidak percuma aku bersabar selama ini.” Ungkapan itu disusul dengan penjelasan bagaimana menderitanya perempuan itu; mulai dari dihina teman-teman hingga harus ke sana kemari untuk menawarkan perusahaannya.

“Kita sudah tua, Lily,” komentar Sapi’i dengan nada menasehati. “Lihat saja rambutmu sudah ditumbuhi uban.”

“Apa urusannya dengan usia. Uang tetaplah uang. Kekayaan tetaplah kekayaan,” jawab istrinya sambil mengibaskan uang di tangan kiri.

Sapi’i celingukan mencari sesuatu. Istrinya menanyakan apa yang dicarinya. “Aku ingin bercermin agar tahu kalau usiaku sudah tua.”

Dengan nada ketus istri Sapi’i menjawab, “Cerminnya sudah kujual. Untuk apa lagi cermin bila kecantikanku tidak ada yang menikmati lagi?! Lumayan harganya, cukup untuk kebutuhan kita seminggu.”

Istri Sapi’i menawarkan kaca di wadah bedaknya. Sapi’i mengambilnya dan segera berkaca. Pertama kali yang ditatap adalah matanya. Dia sudah rindu melihat sinar matanya yang teduh. Dulu dia merasa sangat percaya diri setiap kali habis melihat keteduhannya.

Akan tetapi, betapa terkejutnya Sapi’i ketika melihat sorot matanya bukan lagi sorot mata yang teduh dan mengayomi orang lain, melainkan sorot mata yang mengiba pada orang-orang yang melihatnya.

Surabaya, juli 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *