PERJALANAN TUNAI

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Herbert, si buyung tanggung.
Masih juga bergema, nyanyian gereja yang kemarin kaulantunkan itu. Masih juga bergema di ruangan itu – dan kini kubayangkan kembali suasana yang membawa rahmat – kala aku menginsyafi, betapa telah tambah jauh jabat tangan yang terbuhul, terkembang dan terlayarkan. Kita menatap telapak matahari, mencoba mengatasi kejemuan yang bukan mustahil; tuntutan kala. Biarlah kita menyusun ketegaran baru, bila kupercaya mampu menyambutnya. Biarlah kita mematut-patut keracikan kalimat, yang sanggup melukiskan siapa dan di mana sangkutan angan. Seorang pemuda remaja yang tengah bangkit memapag surya, hendaknya menengok segi-segi gemilang dari percaturan martabat. Continue reading “PERJALANAN TUNAI”

Buku Puisi versus Buku Cerpen

Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 13 Juli 2008

Pada awalnya sejarah sastra kita adalah puisi. Dimulai dari pantun hingga puisi lama yang dapat disusuri lewat puisi-puisi Amir Hamzah. Selanjutnya berkembang di masa Chairil Anwar pada era 45. Kemudian gebrakan Sutardji Calzoum Bachri dengan membebaskan makna dari beban kata pada 1970-an dan Afrizal Malna pada 80-an dengan “puisi gelap”nya. Continue reading “Buku Puisi versus Buku Cerpen”

Tahi Mata Hitam

Haris del Hakim

Kehadiran bayi pertama pada usia sepuluh tahun pernikahan merupakan kebahagiaan tak terkira bagi Juragan Kosim. Kekayaan yang melimpah ruah hasil keringat bertahun-tahun tidak akan hilang begitu saja. Sayangnya, kebahagiaan itu belum sempurna. Bayi itu belum pernah menangis sejak lahir. Sebagaimana kata orang, anak itu akan tumbuh dewasa sebagai orang bisu. Continue reading “Tahi Mata Hitam”

Bahasa »