Puisi-Puisi Imamuddin SA

KIDUNG SANG KEMBARA

lewat semesta cakrawala
segala tembang ia simpul
bagai sejoli lelangkah
dan hanya bermuara
pada seketuk nada
“do”
di jati kembara

kusut merentang jaring-jaring bosan
membawanya dalam jejak titian
sebab sirkus masih tersaji
bersama
labium menari

ia kenal gending-gending itu,
merayu bagai puja-pujimu
dalam artikula rumput batu
terpatuh
dari kasidah zabur terseru

adakah dengan gala purnanya
hanya sebatas lagu?
lewat imaji
lalu
ia terbang mengepak sesayap merdu
membakar tanahnya
bersama lidah api nyanyianya
bertilik kesejatian nafasnya

pun segala sembah kuasa
kau rajut
di sekawan liatnya
lewat guratan benang-benang arwah
bagai pelambai mainan cuaca

di kedalaman samudra entah
ia melambung puitika sapa
tuk berhampa titah laga,
bersama lentur bibirnya
biarkan ia bergema
lewat sayap-sayap
indahnya

sungguh, tembang ini
mekar
dalam
kidung sang kembara
seiring melodi dawud tercinta

Kendalkemlagi, 2006

SASMITA

dalam lirik-lirik romantika laku
sang pecinta tak luput
bujuk rayu nafsu
melumat jiwa-jiwa suci
mengarang bunga-bunga lalai

sejenak lalu
terlukis melati jangka-jangka itu
menjelajah belantara ruang-waktu
lewat kidung tembangnya yang telah bersatu
rayu
-merayu berseru di daun-daun yang tertuju:

“di pusara hasrat ini
hanyalah setetes suci
bersemayam dalam keprawanan diri,
persetubuhan di tepi jalan
adalah seagung titian
dari dia yang melampaui kalam-kalam tuhan”

tambatlah senandung hati:
beribu nyawa yang beriman
tak kenal yang di-imani
berjuta nafas yang bertuhan
tak menyapa yang dituhani,

sungguh,
ia tak memakrifati diri
bersama asma, sifat dan tarian ilahi
lalai akan jati sendiri

“manungso, manungale roso;
rosene rogo, rosone sukmo
rosone seng moho kuwoso.”

ingatlah
di denyut-denyut nadi
pilihan tak menjelma sebuah jawaban
titian masih berkidung di hening kebohongan
sebab khalifah telah berdansa di pesta kemustahilan
lalai sasmita yang diemban.

Kendalkemlagi, Januari 2007

SAKRAMEN

bukanlah kau tlah berseru
menjelang keterlepasanmu:
“datanglah dalam perjamuan anggurku
pun aku kan membawamu terbang
menggapai semesta laku”.

ya, aku telah hadir dalam pestamu
duhai pemikul kayu,
seribu kali kucecap manis anggurmu
namun kau masih belum menyapa,
membawaku melayang jauh
menjenguk janjimu.

o, yang terindu
adakah kuluput menggenggam cawanmu
atau salah mengambil tempat simpuhku
hingga kau masih enggan membelaiku?

sungguh, dalam sakramen ini
aku terasing
menanti di hening permainan gangsing

Kendalkemlagi, Desember 2006

MEMORI RINDU

aminah,
inilah khilaf sebuah
di larik abjad-abjad nafasnya
mencoba kembali
terpanggil
lewat sealun tembang sapa

adalah sembah kasih
kutuang dalam secawan diri
atas gala keagungan
mengalir lalui sungai nadi
ya! kala sona abraha
memberkas noda hasratnya
di gurun suci terlama
bersama sona jahiliyah

akankah aku dalam keselaluan
hanya bersalam
pada setetes embun sucimu
hapuskan aksara tandamu
di kuncup imaji dan samudraku

ah, tidak
di jarum ini, kurobek telah
tirai dan kuterobos mahligai singgahsananya
lalui melodi kata termesra
membawa namamu dalam karang salamku.

aku mau
kala kukidung asmamu
kau tlah hadir di pelatarku
dan kini bersama gala rindu
kurayu hasratmu
menutup ketiadaan orokmu
dalam liat kiristalku

o, kasih dari segala kasih
lewat tulus cintamu
izinkan ia hadir kembali
sang buah hati
di gurun nurani

sungguh, lihatlah
raja dan seribu gadingnya telah sampai
di batas negri rinai
pun aku bersama hasrat hampa
tak hendak meruntuh peradaban kota

lambaikan tangisnya!
biar lascar ababil telorkan sijjil
jika tidak, haruskah aku merajut jahiliyah baru
kembali tak berthawaf bersama jati khusnahmu

kudamba sembah cinta setiamu
dengan ketidakberdayaan segala
kulepas larik cerita
di ujung penamu yang kuasa

Kendalkemlagi, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *