Malam Lebaran di Pelabuhan

Marhalim Zaini
Minggu Pagi, II Jan 2003

Di atas pelabuhan, waktu terasa berhenti.
Malam ini, setelah sekian ribu malam yang padam. Tok Bayan baru percaya pada Alan Lightman, sahabatnya dari Memphis, yang menulis dalam sebuah novelnya bahwa “Ada satu tempat di mana waktu berhenti, bandul jam hanya bergerak separuh ayunan. Anjing-anjing mengangkat moncong mereka dalam lolongan sunyi. Pejalan kaki membeku di jalanan berdebu.”* Dulu, ia hanya tersenyum membaca kalimat-kalimat provokatif itu. Continue reading “Malam Lebaran di Pelabuhan”

DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII

Diruapi Malam Harum
(Interpretasi puisi Nurel Javissyarqi yang bertitel
“Diruapi Malam Harum” dalam “Kitab Para Malaikat”)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Nurel Javissyarqi *
http://pustakapujangga.com/?p=223

Udara wengi mekar perlahan, membawakan berita dari dasar keheningan,
merasakan sayap keagungan kedaton, yang digerakkan ruh suci kehidupan (VI: I). Continue reading “DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII”

Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur

Bernando J. Sujibto *

Bagi yang terikat
Merpati pasti lebih jinak

Memang bukan hanya sekedar ketepatan, ataupun ketidaksengajaan yang sia-sia belaka, jika akhirnya saya dan beberapa teman (Ira, Sukma, Imam, Roman, Lanceng, Joko, Yoso, Thendra, dan Koto) bisa bertandang ke tanah Minangkabau, khususnya di daerah Pesisir Barat pulau Sumatera, tempat Raudal TB, Indrian Koto, dan Riki Dhamparan Putra lahir. Continue reading “Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur”

Bahasa »