Risiko Jurnalis Meliput di Zona Merah

Judul Buku : 168 Jam dalam Sandera (Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak)
Penulis : Meutya Hafid
Penerbit : Hikmah Bandung
Cetakan : I, September 2007
Tebal : xviii + 280 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah

Amanah serius jurnalis adalah bagaimana ia mampu memburu berita se-eksklusif mungkin, menguji kelihaian teknik wawancara dengan orang-orang yang tepat, bertindak gesit, serta dinamis.

Tugas jurnalistik merupakan misi mulia, sebab turut andil mengemban perihal keberlangsungan demokrasi di bangsa ini. Kendati berpredikat mulia, tugas jurnalistik tak luput dari ancaman dan tekanan, bahkan pertaruhan nyawa sekalipun.

Untuk mendapat berita bagus yang layak sampai ke khalayak, bagi jurnalis tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, tugas peliputannya terkategori zona merah (meliput di wilayah konflik atau bencana). Sudah barang tentu, tempaan kompleksitas sikap seorang jurnalis: berani, tangguh, tahan letih, anti kecewa, anti getir, tak lupa pula teknik lobi yang andal, sudah menjadi bekal awal sebelum ia berangkat meliput. Bahkan, ada tamsil menggugah didunia jurnalistik kita, “tak ada berita yang nilainya lebih dibanding nyawa”.

Dibuku ini, 168 Jam dalam Sandera (Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak, karya Meutya Hafid, berbagi cerita agar tugas suci jurnalistik tak sekadar mengantar nyawa dan kekonyolan. Meutya atau Mut saja, begitu penulis buku ini dipanggil, adalah reporter Metro TV berdarah Bandung, yang ditugasi meliput pemilu Irak, bulan Februari 2005, bersama juru kamera, Budiyanto. Dua rekan kerja ini pula adalah mantan korban penyanderaan oleh Mujahidin Irak, Jaussy Mujahidin, saat hendak meliput perayaan Asyura di negara tersebut.

Meutya dan Budi disandera oleh kelompok militan Jaussy Mujahidin saat mobil yang mereka tumpangi untuk melakukan tugas jurnalistik selama di Irak, berhenti di pom bensin. Lalu, mereka digiring paksa menuju Gua Ramadi untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai statusnya datang ke Irak. Satu demi satu jurus interogasi oleh kelompok Jaussy Mujahidin diluncurkan kepada kedua jurnalis tersebut. Penyanderaan dilakukan, sebab kelompok militan curiga atas utusan mata-mata AS.

Bekal Jurnalis
Yang terpenting dibuku ini adalah buah refleksi penulis pasca sandera di Gua Ramadi selama 168 jam (hlm 202). Meutya merasa butuh betul akan bekal bagi jurnalis ketika hendak reportase di wilayah konflik ataupun bencana. Berkat pengalamannya disandera, Meutya kerap diundang berdiskusi oleh trainer perusahaan security consultant, AKE.

Pengalaman ekstrim Meutya, saat ia mereportase ledakan besar di pusat Kota Bagdad, Tahrir Square. Ia dengan santai memegang serpihan bom, lalu ditunjukkan ke kamera, sembari berucap/menyiarkan ke pemirsa: “Inilah satu rangkaian bom yang digunakan untuk meledakkan pusat Kota Bagdad, hanya beberapa kilometer dari pusat komando pasukan koalisi.” Padahal, bom yang dipegangnya bisa saja meledak mengurai dan mengoyak-koyak tubuhnya, persis seperti serpihan daging korban yang berceceran dilokasi ledakan.

Tantangan untuk memperoleh informasi dan visual dari dekat alasannya adalah “it’s not good enaugh, it’s not close enough”, tekanan untuk mendapat gambar eksklusif, hiruk-pikuk dilapangan, semakin membuat adrenalin meluap-luap, menjadikan pandangan seorang wartawan kabur (hlm 203). Dedikasi terhadap profesi, cinta kegiatan reportase, tanpa disadari menjadi pembenar untuk maju selangkah lebih dekat pada risiko yang bisa saja berakibat kematian.

Lontaran menggelitik, yang keluar dari mulut Budiyanto, rekan kerja Meutya: “kalau di peluru itu tak ada nama kita, ya kita tak kan kena Mut.” Pernyataan Budiyanto itu merupakan ungkapan pasrah akan takdir. Padahal, tugas peliputan di zona merah, tak cukup berbekal keranuman psikis dan tubuh yang fit. Hal buruk, tak dapat diterka-sangka akan menghampiri kita secara tiba-tiba.

Ada lembaga internasional yang menangani persoalan keamanan wartawan ketika meliput dikawasan konflik, yaitu INSI (International News Safety Institute). Aktivis dari lembaga tersebut mengungkap bahwa, modal utama jurnalis saat hendak meliput di zona konflik bukan peralatan komunikasi ataupun keamanan, melainkan knowledge, yakni pengetahuan atau pemahaman akan medan peliputan, baik wilayah maupun sosio-kultural warganya. “Knowledge is the most valuable safety material,” kata Peter Williams, wartawan CNN yang meliput huru-hara di Bradford, Inggris, tahun 2001.

Bahkan, kalau perlu bagi jurnalis sebelum pergi meliput di kawasan konflik, juga dibekali helm ataupun rompi anti peluru. Namun, lagi-lagi alasannya adalah tak cukup anggaran bagi perusahaan pers untuk membeli itu semua, atau alasan lain, jurnalis justru malah tambah ribet dan berat membawanya.

Selain itu, jurnalis kudu paham betul kategori penyanderaan, sebab ini akan mempermudah langkah bebas dan selamat. Ada dua kategori penyanderaan, pertama, surprise attack (serangan dadakan), kedua, planned attack (penyanderaan terencana).

Kasus Meutya dan Budiyanto masuk kategori pertama. Sedangkan kasus Ferry Santoro dan alm. Ersa Siregar dari RCTI, yang disandera kelompok Gerakan Aceh Merdeka, bisa dimasukkan kategori kedua (hlm 213). Pada penyanderaan terencana, penyandera biasanya menjebak wartawan dengan iming-iming untuk mewawancarai atau mendapat peliputan eksklusif.

Terlebih juga, jurnalis mampu mengenali berbagai motif penyanderaan, mulai dari komoditas politik, komoditas ekonomi, balas dendam, sandera untuk jaminan keamanan bagi penyandera, hingga kemungkinan salah tangkap. Meski terkesan sepele, ketika berada dalam penyanderaan, mengenali motif adalah hal signifikan.

Buku ini, banyak memuat potret pengalaman pahit alam-jagad jurnalistik. Berangkat dari semangat berbagi pengalaman antar rekan kerja jurnalis, buku ini layak dibaca siapapun. Semesta hikmah yang dapat kita petik dari buku ini adalah bagaimana pengalaman Meutya tak terulang kembali bagi jurnalis lainnya. Gaya penuturan buku ini yang lincah-renyah, meneguhkan ketangkasan ilmu jurnalistik Meutya di dunia leterasi.

Menyitir komentar Dian Sastrowardoyo untuk buku ini, “Mengharukan dan menyentuh…beberapa kali saya…tak kuasa menahan tangis. Tidak hanya bercerita tentang ketabahan dan ketangguhan…, memoar ini juga menyadarkan kita tentang pentingnya arti kepasrahan dan penyerahan diri kepada kuasa Tuhan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *