Sutardji dan Sartre

Beni Setia
Jawa Pos, 28 Sep 2008

ADA banyak pihak yang kecewa ketika dengan senang hati Sutardji Calzoum Bachri (SCB) menerima Ahmad Bakrie Award 2008 untuk bidang kesusastraan –sebesar Rp 150.000.000 (seratus limapuluh juta rupiah). Mereka menginginkan SCB meniru Frans Magnis Suseno yang menolak pengharaan itu pada 2007, dengan mengaitkan institusi yang memberi anugerah itu (Freedom Institute) merupakan sisi sosial dari stake holder Bakrie Brother, yang salah satu anak perusahaannya (PT Lapindo Brantas) membuat masalah besar di Sidoarjo. Sehingga apa pun yang dilakukan Bakrie Brothers terkait dengan tanggung jawab utamanya untuk terlebih dulu menyelesaikan bencana lumpur di Sidoarjo, terutama kepada ribuan rakyat yang dimarjinalkan secara ekonomi dan sosial akibat luapan lumpur itu.

Tapi apakah itu wajar? Tapi, apakah adil, misalnya, dengan membandingkan SCB dengan seorang Jean-Paul Sartre, yang menolak Hadiah Nobel hanya karena ia merasa yang lebih layak menerima Hadiah Nobel 1964 adalah Pablo Neruda yang kebetulan seorang komunis. Ia merasa bahwa Hadiah Nobel merupakan produk borjuis-kapitalis sehingga penerima Hadiah Nobel dari Uni Sovyet relatif para penentang dan pembangkang komunis. Ia juga takut bahwa Hadiah Nobel membuat karyanya hadir dalam kemasan terlabeli berkualitas sehingga banyak orang membeli karyanya karena isu Hadiah Nobel-nya ketimbang kualitas buku itu –kualitas pemikiran dan estetikanya sebagai sastrawan-filsuf. Sebuah penolakan yang dibalut dengan kata-kata dan argumen canggih seorang intelektual.

Dan itu berbeda dengan ucapan rendah hati SCB ketika menerima penghargaan Ahmad Bakrie. ”Penghargaan dan gelar kehormatan yang saya tarima membuat saya makin malu karena belum berbuat apa-apa. Tetapi, ini adalah takdir yang harus disyukuri,” kata penyair yang pada hari yang sama menerima Bintang Budaya Parama Darma dari negara. Bahkan ia merespons reaksi pencemoohan banyak kawan atas penerimaan Ahmad Bakrie Award sebagai lebih dikarenakan ada duit Rp 150.000.000, dan bukan duitnya itu berasal dari dana Freedom Institute yang diayomi stake holder Bakrie Brother, yang anak perusahaannya (PT Lapindo Brantas) bikin susah banyak orang di Sidoardjo (Pikiran Rakyat, 16/8.2008). Seakan-akan duit itu berasal dari Allah SWT dan bukan dari stake holder Bakrie Brother, dan tak heran bila SCB tak peduli pada udang apa yang ada di balik rempeyek Ahmad Bakrie Award –terlebih mau peduli kepada para nominee yang lain yang ikut dinilai saat itu.

Satu ungkapan bijak yang khas manusia agraris, yang hidupnya bertahan dalam permainan musim dan berbahagia hanya karena saat pulang dari ladang menemukan cendawan merang di semak-semak atau melihat kali mengering dan ikan berloncatan. Tidak sekalipun berpikir kalau cendawan merang itu tak hanya ditumbuhkan musim karena kemurahan Allah SWT tapi bisa artifisial dengan rekayasa ilmu pertanian –atau ikan diternakkan dengan displin ilmiah usaha tani yang efisien. Mungkin juga khas manusia urban di tengah tuntutan hidup konsumtif perkotaan, yang cuma mampu mencukupi kebutuhan gizi makan dalam rumus empat sehat lima sempurna dalam tiga kali makan sehari. Sedangkan Sartre merupakan bagian masyarakat yang selalu empat sehat lima sempurna setiap kali makan. Ada bargaining position yang kuat sehingga ia bisa membuat pilihan bebas yang sesuai dengan prinsip yang dianut.

Selain itu, Sartre didukung oleh cakrawala intelektual Eropa dan terutama Prancis sebagai puncak pencapaian dari pencerahan Renaisans. Yang selain teramat memuliakan intelektual dan sikap intelektualistik –sehingga Prancis jadi surga para intelektual pembangkang yang dimusuhi negara –juga amat didukung oleh minat baca masyarakat yang teramat tinggi. Dengan buku-bukunya Sartre mampu hidup -karena buku-bukunya banyak yang diterjemahkan dan laris. Selain itu, pendapatan dia dari memberi ceramah sebagai kolomnis. Semuanya menjamin –karenanya bisa bilang, tak ingin orang membeli bukunya karena ia si pemenang Hadiah Nobel Kesusastraan dan bukan karena kualitas tulisannya.

SCB sendiri rasanya hanya menerbitkan satu kumpulan puisi, satu kumpulan cerpen, dan satu kumpulan esei –yang belum cetak ulang selain kumpulan puisinya. Itu pun hanya di Indonesia. Kita juga tidak pernah tahu apakah ada buku versi Inggris karya tunggal SCB. Karena itu –setelah tak menjadi redaktur– ia hidup dari undangan baca puisi karena sebagai pemakalah dan pembicara tak begitu populer.

Jadi, kenapa kita mendorong SCB ke jurang kegilaan seperti yang dilakukan khazanah seni pada seorang Vincent Van Gogh? Suka atau tak suka: SCB layak menerima dan menikmati anugerah Rp 150.000.000 — peduli dihabiskannya di pub rock n roll.***

*) Beni Setia, pengarang, tinggal di Caruban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *