Yesus dan Si Holger

Fahrudin Nasrulloh
Jawa Pos, 16 Des 2007

Sore itu, 14 Desember 2002, langit cerah memendarkan cahaya kuning keperak-perakan dari patung Sleeping Buddha di Maha Vihara Mojopahit Trowulan. Tersebutlah Purnawarman, seorang kawan lawas di bangunan suci itu, yang beberapa hari sebelum ia memutuskan mengembara ke India, ia memberikan seabrek buku kepada saya. Salah satunya sebendel buku berparab Jesus Lived in India: His Unknown Life Before and After the Crucifixion karangan Holger Kersten. Berisi perihal Kristus semasa berumur belasan tahun dan masa-masa setelah penyalibannya dari Bukit Golgota. Buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tanpa nama penerjemah bahkan tanpa nama penerbit. Dicetak terbatas. Nyaris tidak saya temui di toko-toko buku manapun. Meski di Jerman, tahun 1986, buku ini telah tujuh kali diterbitkan ulang. Tampaknya, setiap buku, orang-orang suci, kawan, sejarah dan gagasan, bahkan seonggok patung yang rapuh: menyimpan nasib dan kesunyian masing-masing.

Tak pelak Mesiah ini telah banyak menyedot minat sederet sejarawan, arkeolog, rohaniawan; demi menyingkap unggunan tabir yang terus menyelimutinya. Seiring roda waktu, betapa tak terbayangkan misterinya kian berlapis-lapis. Dan Si Holger, hanyalah salah satu dari mereka. “Saya tidak bermaksud,” ungkap Holger di pengantar buku ini, “melemahkan pandangan umat Kristen atau membuat pembaca tertimbun dalam serpihan iman yang kalut dan pecah. Sangatlah penting untuk menemukan kembali jalur menuju sumber-sumber kebenaran abadi dari pesan sejati Yesus, di mana spirit ajaran-Nya telah dipelintir oleh ambisi-ambisi kotor dari lembaga-lembaga sekuler yang mengklaim sebagai pemegang otoritas keagamaan.”

Telisik Holger diawali dengan kisah Nikolai Notovitch (lahir di Rusia 1858), sejarawan dan ilmuan kelana di mana pada 1887 ia tiba di Kashmir lantas bertolak ke Ladakh. Di vihara Ladakh ia disambut seorang biksu yang mewedarkan ihwal ribuan naskah terkait kembara spiritual Yesus, terutama di Lhasa. Salah satu manuskrip yang dijumpai Notovitch berlambar Kehidupan Issa yang Suci: kisah kembara Yesus ke wilayah Sindh di usia 14 tahun. Berinteraksi dengan kaum Aria, para Brahman dan Jainis yang, nyata-nyata menyibakkan sisi lain dari kehidupan Sang Penyelamat dari Nazaret ini.

Kemudian, dari penelitian sekisar masa muda Yesus, terbetik teka-teki yang menyeruak dari pandangan umum saat ia disalibkan oleh Pilatus Pontius. Juga Kebangkitan dari Kematian dan Kenaikan tubuh Kristus merupakan ihwal yang jauh lebih rumit dipecahkan. Semisal nukilan dari Alkitab Markus (15:44) bahwa “Pilatus heran waktu mendengar Yesus sudah mati.” Bukti-bukti tersurat memang tidak gamblang menguak mengapa Yesus dinyatakan mati hanya karena beberapa jam setelah penyaliban-Nya, kendati kakinya, tidak seperti dua rekannya, tidak dipatahkan. Ini penjelas mengapa Pilatus terhenyak atas berita kematian Kristus. Ia tidak akan mati secepat itu. Betapa penyaliban adalah cara paling hina dan brutal untuk mati yang sekejap itu. Kepedihan ini dapat kita napak-tilasi lewat The Passion of Christ besutan Mel Gibson (2004). Sebentang lanskap “salib berdarah” yang getir dan menyayat.

Di lorong cerita lain, Holger menjlentrehkan penelusurannya bahwa pada 1908, Levi H. Dowling (lahir 1844 di Ohio), si anak pendeta keturunan Skotlandia dan Inggris telah mengarang segepok kitab berlabel Injil Akuaria yang juga mengisahkan keberadaan Yesus di vihara Lhasa untuk mempelajari naskah-naskah kuno Tibet. Karya ini disebut sebagai “Buku tentang Ingatan Tuhan”: rekaman ingatan semesta yang terwahyukan lewat kesadaran roh kosmis pengarang. Tak cuma Notovicth dan Levi, para penelusur lain juga melakukan hal serupa semisal, Sir Francis Younghusband (The Heart of a Continent, 1910); Swami Abhedananda (Kashmiri O Tibetti, 1922); Nicholas Roerich (The Hearth of Asia, 1925); bahkan masa sebelum mereka, Mrs. Harvey telah menulis keberadaan naskah-naskah perihal Yesus dalam The Adventure of a Lady in Tartary China and Kashmir pada 1854.

Mencuatnya sebersit tanya adakah keberadaan Yesus di India sekedar omong kosong belaka? Semata spekulasi fantastik? Pertanyaan ini seketika terbantah oleh sekerumun bukti: dalam catatan Cosmas Indicopleusta ditemukan referensi ihwal perjalanannya ke India sekitar 525 AD, di mana ia menemukan orang-orang Kristen di pulau Sri Lanka dan pantai barat India. Life of Jesus karya Jerome Xavier (misinaris Portugis) mendedahkan bahwa pada dinding kuno di reruntuhan kota Fatehpur Sikri (sekitar Delhi dan Agra) di masa Raja Mogul Akbar Agung (1542-1605) tertoreh sabda Yesus: “Dunia adalah suatu jembatan. Lewatilah tetapi jangan tinggal di dalamnya!” Detail terperinci di atas pun cukup representatif untuk menangkis sanggahan lain semisal dari ahli Indologi yang menyatakan bahwa Yesus tidak pernah dikenal di India sampai diperjumpakan Islam. Al-Qur’an sendiri pun membabarkan Yesus tidak mati di palang salib, namun selamat, lalu mengembara dan hidup di “Lembah Sukacita”.

Selanjutnya, Holger bersama Elmar Gruber menulis The Secret of the Turin Shroud (350 halaman disertai ilustrasi). Buku ini terbit untuk menyanggah pemalsuan Kain Turin Yesus pada 1988 yang ditemukan dari Abad Pertengahan. Demi Kain Turin ini, keduanya bak Serlock Holmes melakukan kerja detektif yang sengit dan melelahkan.

Ternyata kekristenan modern harus menghadapi lautan kemungkinan bahwa sejarah Yesus yang berkabut itu setapak demi setapak suatu saat pasti dapat diungkapkan, meski lengkara dikuakkan semua rahasianya. Paling tidak, akan tumbuh semacam, meminjam teolog Jerman Albert Schweitzer, “kesadaran religius yang mandiri”. Apa yang kita kenal sebagai kekristenan saat ini hanyalah sekelumit dari intisari wejangan dan pengajaran Yesus. Asumsi ini bakal terus diuji kebenarannya. Holger menandaskan, “Ajaran kekristenan sekarang berbeda dengan ajaran asli dari Yesus dan dapat disebut sebagai ‘Paulinisme’. Banyak prinsip dogma yang sebenarnya suatu ajaran asing dimasukkan ke dalam pesan Kristus. Dogma tersebut berasal dari Paulus. Maka, kekristenan saat ini adalah Paulinisme yang berkembang dan diterima sebagai agama Negara.”

Tampaknya bayangan kelam senantiasa bergentayangan jika kita percaya bahwa keseluruhan sejarah keagamaan adalah kesimpangsiuran dan kesalahan, seperti ramalan Goethe. Sejarah tak lebih cermin retak di mana Fazlur Rahman dalam kajian tradisi tarikh Islam selalu mempersoalkan ini.

Holger boleh jadi benar, namun ia tak lebih pencari kebenaran, meski ia tak bakal pernah menemukan hakikat kebenaran. Barangkali sejenis jejalan lain menuju Yesus, merengkuh Allah yang tak tersentuh. Kian sengkarut dirambah dan direnungkan, redup-remang dan bercecabang. Tapi tak perlu dibikin ruwet, sebab riwayat ini telanjur teramat panjang: SalibMu tinggi sekali/Ya, lebih baik kaupanjat tubuhmu sendiri (Sajak “Di Kalvari”, Joko Pinurbo).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*