Posted by PuJa on October 31, 2008
Sebuah Gagasan Teater Tutur S.Jai http://ahmad-sujai.blogspot.com/ MENYAKSIKAN tiap bentuk pertunjukkan, seringkali kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan—apa pesan yang dituturkan pertunjukan tadi? Lebih aneh lagi apabila pertanyaan itu kerap muncul justru di akhir pagelaran. Kalau mau jujur boleh dikata, pertanyaan semacam itu tak lebih dari pengakuan (disertai tuntutan) memperoleh kegunaan dari setiap menonton pertunjukkan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 30, 2008
Nurel Javissyarqi* http://pustakapujangga.com/?p=108 (I) Yang menapaki bencah pasir pesisir, mendaki bukit-bukit rindu, dan angin selalu menyapu kakiku; seperti seorang putri mengusap keningku, kala keringat mulai bercukulan lantas cepat menguap bersamanya.
Filed under: Balada
Posted by PuJa on
Imamuddin SA “A … a … a … tida …k! Ini tidak mungkin! Bagaimana semua ini bisa terjadi? Sungguh aku tidak percaya. Semuanya terasa begitu cepat. Baru kemarin aku melihat matahari masih terbit dari timur, namun sekarang? Ia telah terbit dari barat!”. Gemuruh batin Fatikh terasa menyesak dada. Ia bingung akan kejadian pagi itu. Begitu [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Haris del Hakim Basuki ingin istirahat dari pekerjaannya sebagai anggota dewan wakil rakyat. Dia jemu dengan kerja rapat setiap hari. Lagipula, sebentar lagi adalah pemilihan presiden yang akan menguras banyak tenaga dan pikiran. Karena itu, dia minta izin cuti seminggu.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Dian Hartati* Menyaksikan kecantikan purnama di tengah kota bersama beribu-ribu orang tak dikenal merupakan peristiwa langka. Saat ini tubuhku sedang dihantui perasaan gelisah yang membadai. Kedukaan yang aku terima terus-menerus menimpa diriku. Setelah kepergian Wuri untuk selama-lamanya, disusul dengan kepulangan Ayah menuju dunia abadi.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Maman S Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Laut adalah sebuah dunia yang penuh misteri. Ia kadang diperlakukan sebagai sesuatu yang kejam, dahsyat, dan membinasa. Dalam posisi yang demikian, hamparan lut laksana merepresentasikan kekuasaan Tuhan, dan manusia menjadi makhluk maha-Liliput di tengah dunia raksas Gulliver. Manusia menjadi sebutir pasir di hadapan hamparan pantai mahaluas.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
A Rodhi Murtadho Sampah? Sudah melebihi jajaran pegunungan, bahkan sudah punya keinginnan untuk membentuk galaksi. Mengalahkan Bima Sakti. Entah mulai kapan keinginan itu mulai tercipta. Yang pasti sejak mereka mampu membentuk planet sampah lengkap dengan satelitnya.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on October 28, 2008
Judul Buku: Serasi Denyutan Puri Pengarang: Suryanto Sastroatmodjo Penerbit: Pustaka Pujangga Tebal Buku: 60 hlm; 13 x 20, 5 cm Peresensi: Imamuddin SA
Filed under: Resensi