MEMOAR

Imamuddin SA

“A … a … a … tida …k! Ini tidak mungkin! Bagaimana semua ini bisa terjadi? Sungguh aku tidak percaya. Semuanya terasa begitu cepat. Baru kemarin aku melihat matahari masih terbit dari timur, namun sekarang? Ia telah terbit dari barat!”. Gemuruh batin Fatikh terasa menyesak dada. Ia bingung akan kejadian pagi itu. Begitu juga dengan orang-orang yang ada disekelilingnya. Mereka berlari-larian kian ke sana dan ke mari. Mencari jawaban yang pasti.

“Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi hari ini? Apa yang mesti aku lakukan?”. Fatikh takut. Ia berlari kencang ke selatan. Menghampiri sebuah pohon besar seraya mencari perlindungan.

Di sisi lain, orang-orang banyak yang bergelimpangan. Jatuh dan bangun lagi. Bertabrakan satu sama lain sebab kepanikan yang semakin berpilin. Goresan luka tak dapat dicegah. Darah mengucur dari kening, tangan, kaki, dan bagian tubuh yang lain. Namun semuanya tak dirasa. Hanya keselamatan nyawa yang menjadi tujuannya.

Jerit histeris terdengar di mana-mana. Satu persatu nyawa melayang tergilas kaki-kaki sesamanya. Yang terjatuh dan tak mampu bangkit, kematian pasti menghampirinya. Terik matahari semakin lama bertambah menyengat. Jaraknya hanya tinggal sehasta. Orang-orang semakin bingung di buatnya.

“Mungkinkah kita akan mati semua? Tuhan ……” teriak seorang lelaki dari kejauhan.
“Aku tidak ingin mati seperti ini! Tolong ……” teriak seorang gadis yang berambut ikal.
“Panas ……”.
“Ini kiamat ……Kiamat telah datang ……”.
“Tidak ……ini bukan kiamat. Ini hanya bencana alam biasa.”.

Mereka tidak tahu lagi akan apa yang harus dilakukannya. Mereka hanya mampu berlari dan berteriak histeris menghadapi keadaan yang begitu pelik. Sementara itu, Fatikh masih berada di bawah pohon besar. Berdiri dengan pandangan mata yang kosong. Menatap pesona yang begitu merong-rong. Tiba-tiba pohon itu daun-daunnya terbakar. Merambat pada ranting dan dahannya. Batangnya pun akhirnya pecah dan terjatuh.

“A ……a ……a ……” Fatikh menjerit. Berlari menjauh dari pohon itu.
“Ya Allah, mengapa bumi jadi begini? Mungkinkah ini akibat ulah tangan kami? Tolong hentikanlah semua ini. Jangan biarkan bumi hancur tak terkendali. Berikanlah kami kesempatan taubat sekali ini. Ya Allah. Kepada siapa lagi kami mengharap pertolongan diri, selain kepada-Mulah Dzat yang menguasai.” puji Fatikh disela nafasnya yang kian tersengal-sengal. Ia masih saja berlari. Menghampiri satu tempat ke tempat yang lain. Namun tak ada satu pun yang mampu memberinya perlindungan. Kini, hanya sebatas alunan tasbih yang bisa dikumandangkan. Ia larut dalam prahara zaman.
* * *

Fatikh terlihat gelisah. Tubuhnya berkeringat dingin. Dan nafasnya tersengal-sengal. Raut wajahnya bak bulan kesiangan. Tampaknya ada sedikit rasa tertahan.
“Ah ……h ……h ……”. Fatikh menghentakkan suaranya keras-keras. Ia terbangun dari tidurnya. Masih dalam pandangan hampa. Keseimbangan jiwanya belum juga sempurna. Ia duduk melongo mencoba menyetabilkan irama nafasnya. Sedikit berfikir akan kejadian yang sempat dialaminya.

Saat itu, malam masih bercumbu. Mendekap jasad dengan sayap-sayap dingin merayu. Fatikh masih bercanda dalam kehampaan jiwa dan kesunyian ruang itu. Pengap tanpa seberkas lampu.

Lirih lambaian angin bersalam. Mengantar qasidah adzan menyapa gendang pendengaran. Namun ini bukanlah adzan subuh. Ini adzan qobla subuh. Tepatnya kira-kira pukul 2.30 dini hari. Sayu, Fatikh mendengar lantunan andzan itu. Lahan perlahan keseimbangan jiwanya kembali utuh. Ia bangkit dari duduknya. Berjalan sedikit gontai ke arah meja. Mengambil sebatang lilin dan menyalakannya.

Sedikit demi sedikit ruangan itu bertambah terang seiring keseimbangan jiwa Fatikh yang semakin gemilang. Ia menunggingkan lilin itu. Dan melelehlah. Tetes demi tetes lelehan itu jatuh di hamparan meja dekat tempat tidurnya. Lelehan lilin itu laksana deru jantung Fatikh yang kian mereda. Ia lalu menegakkan lilin itu di atas lelehan tadi. Di atas meja. Begitu pun ia juga menegakkan hatinya yang beberapa saat lalu sempat gundah. Oleng akan sebuah peristiwa.

Fatikh berjalan kembali ke tempat tidurnya. Duduk menghadap pintu. Ia mencoba merenungkan kembali, mimpi yang telah dialami.

“Mengapa aku bisa bermimpi seperti itu? Apa yang akan terjadi pada diriku di hari akhir esok? Akan selamatkah aku saat hari itu tiba? Apa yang akan terjadi dengan kehidupan ini? Bagaiman nasib bumi di kemudian hari? Benarkah kiamat itu demikian? Orang-orang sama-sama sibuk dengan urusannya sendiri. Mencari perlindungan dan keselamatan diri. Tanpa memandang siapa yang ada di sisi. Entah sanak, saudara, dan bahkan keluarga.”.

Seribu pertanyaan berjubal menumpuk dalam pikiran Fatikh. Ia galau setelah mendapat mimpi seperti itu. Pandangannya masih tertuju ke pintu yang sedikiti mengatup. Pintu itu tiba-tiba lirih terbelai angin. Sedikit mengembang. Dan lumayan terbuka melebar.

“Adakah semua ini kan menjadi pembuka pintu hatiku yang selama ini masih rapat terkunci? Megantar aku agar semakin mendekatkan diri pada Dia yang Maha Suci nan Sejati! Sungguh aku tak mau dalam kepayahan diri seperti mimpi yang telah terlukis ini!”.

Fatikh menghempaskan nafas keras-keras. Seraya melepaskan segala beban yang menggumpal di dadanya. Sekarang ia sedikit lega. Sejenak ia menolehkan kepalanya ke samping kanan. Dalam pandangan matannya, ia menangkap seberkas cahaya lilin yang berkobar menyala-nyala. Berklebat menyambar-nyambar mengarah angkasa.

“Apakah mimpiku tadi adalah seberkas sinar pencerahan? Meskipun hanya kecil, namun sudah cukup memberi petunjuk jalan. Menerangi hatiku yang pekat kelam. Mungkinkah ini ……?” Fatih tiba-tiba terdiam. Membekukan gumamannya.

Suasana saat itu memang benar-benar sunyi. Membawa keheningan dan kejernihan hati. Mungkin sebab itulah Rasulullah dulu menyaran kepada umatnya agar berkenan melakukan shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Saat itulah, dimana akan tercipta satu kedekatan batin antara Sang Khaliq dengan hambannya. Apa lagi di sepertiga malam terakhir. Dan konon dikisahkan bahwa sesungguhnya setiap malam, di sepertiga akhir malam, Allah turun ke langit dunia. Allah menawarkan kepada siapa saja yang pada saat itu bermunajat kepadan-Nya. Allah berseru dan memanggil mereka. Adakah yang bisa aku Bantu? Adakah yang bisa aku Bantu? Namun semua itu bukan berarti Allah benar-benar turun dan menghampiri manusia, melainkan berkah dan rahmat-Nnyalah yang diturunkan-Nya.

“Ya Allah, apa arti semua mimpiku ini? Sungguh, aku begitu takut akan segala apa yang akan terjadi menimpaku kelak. Aku tak kuasa dan tak kuat jika itu menimpaku. Aku tak ingin semua mimpiku benar-benar menjadi nyata. Aku berharap kepada-Mu ya Allah dengan segenap puja-pujiku.”.

Fatikh khusuk dalam renungannya. Tak terasa derai air mata mengalir lewat kedua sudut kembarnya. Pipi yang tadinya kering kini telah terlihat basah. Fatikh sesekali merebahkan tubuhnya. Menerawang jauh ke angkasa. Ia teringat akan semua perbuatannya.

Pernah ia menikam perasaan ibunya dengan pisau kata-kata. Saat itu, Fatikh sedang asyik melihat tayangan televisi dan ibunya memanggil-manggil, meminta tolong kepadanya agar mengisi kola musholah. Menimbakan air dari sumur yang ada di sampingnya. Tapi, ia menolaknya. Ia tidak mau diganggu sebab lagi ada siaran langsung pertandingan sepak bola.

Yang sangat di sesalkan, Fatikh menolaknya dengan ungkapan yang sedikit menggigit hati ibunya. Apa lagi saat ibunya datang di hadapannya. Ia justru membentak-bentak hingga mata ibunya sempat berkaca-kaca. Sementara itu ia masih asyik melihat tayangan televisi tersebut. Dan malah mengeraskan suara televisinya. Ibunya terpukul lalu mengundurkan diri dari hadapannya.

“Apa ibu tidak dengar? Saya bilang nanti, ya nanti. Tunggu sebentar saja tidak bisa. Sabaran dikit apa tidak bisa. Pertandingan lagi seru-serunya kok bisanya ganggu saja. Kalau ingin cepat ya isi saja sendiri. Lagian orang-orang bisa mengambil air wudlu di rumahnya masing-masing. Ibu ngerti sedikit sama Fatikh dong!” seru Fatikh dengan nada sedikit membentak.

“………” Ibunya hanya terdiam. Menjatuhkan embun air mata dari bening sinar matanya.
Kejadian itu begitu membekas di hati dan pikiran Fatikh. Sehingga ia menghubungkannya dengan mimpinya barusan. Kini kejadian itu ditangkapnya laksana penjaga gawang yang menangkap bola pengalaman. Dipegang dan digenggam erat untuk direnungkan. Dijadikan sinar pencerahan demi suatu hikmah kehidupan.

Dalam hatinya, kini Fatikh pun beri’tikad kuat mempertahankan mahmudah sikapnya agar tidak sampai kebobolan lagi oleh serangan nafsu sesaat yang membabi buta. Membendung dan menghalau jauh-jauh bola permasalahan yang ada. Ia laksana pemain belakang dalam permainan sepak bola. Ia juga berusaha melakukan perlawanan dan penyerangan terhadap kemungkaran yang selalu menyugesti pribadinya. Berusaha mengobrak-abrik dan mengalahkannya. Ia layaknya striker yang tak kenal lelah dalam permainan denyut batinnya. Mencari cela kosong kesadaran untuk menumbangkan nafsu angkara murka.

Di hening sunyi malam itu, Fatikh sadar akan keseimbangan hidupnya. Ia merasa butuh mengatur keseimbangkan diri dalam membendung dan menyerang segala hal yang memicu kemungkaran pribadinya. Entah yang dipicu oleh kehendak pribadinya maupun orang lain. Ia mencoba mengatur irama pemainan hidupnya.

Dalam kamar itu pikiran Fatikh menerawang jauh entah ke mana. Percik perenungan diri seolah terus mengalir laksana mata air pegunungan yang tak berkesudahan. Ia bahkan gemetaran tatkala mimpi itu terus menimbulkan seribu pertanyaan akan jejak akhlaknya yang sungsang. Ia hanyut dalam lambaian lilin oleh lirih angin yang berpilin.

“Ibu, maafkan aku. Sungguh besar dosa yang kuperbuat untukmu hingga sampai medapat peringatan seperti ini. Ya Allah, ampunilah dosaku atas kelalaianku. Sungguh aku tak mau mengantongi kesusahpayahan di esok hari.”.

“Bu, berapa banyak tetes keringat yang kau tumpahkan untukku! Sejak kepergian mendiang ayah waktu itu, kau telah berjuang sendirian. Menumpahkan kasih sayang yang tak berkesudahan. Namun apa yang kau dapatkan dariku Bu? Sakit hati yang telah aku persembahkan kepadamu. Luka yang telah aku tanam di hatimu.”.

“Bu, aku tahu betapa besar harapan Ibu kepadaku. Kau beri aku nama Fatikh sebab kau ingin diriku berhiaskan kebajikan. Menyuarakan kandungan al-Quran. Tapi apa yang sekarang bersarang dalam diriku? Sungguh Bu, sekarang ini aku tak pantas menyandang nama Fatikh. Apa yang aku lakukan terlalu menyimpang jauh dari hakikat nama itu. Ya Allah, mungkinkah aku tak kuat menyandang nama seagung itu hingga aku berpaling dari hakikat namaku sendiri? Dan ketika aku perhatikan, setiap ada nama agung semacam itu kebanyakan perilakuku manusianya bertolak belakang dengan hakikan namanya. Apakah ini sudah menjadi kodrat? Atau hanya sekedar isyarat? Sungguh, ampunilah aku Ya Allah atas segala dosa-dosaku.”.

Meski tanpa suara yang terisak-isak, linangan air mata Fatikh kian menggerimis. Satu persatu butiranya jatuh di pangkuannya. Membasah kain sarung yang dipakainya. Ia merasa begitu berat beban dosa yang dipanggulnya.

“Fatikh, Fatikh, bangun Nak. Sudah jam tiga.”. Lirih suara Ibu Fatikh terdengar di telinga.

Suara itu memecah keheningan jiwa Fatikh yang larut dalam perenungan. Namun Fatikh masih khusuk dalam keheningannya. Justru dengan suara itu, pesona batin Fatikh semakin bergelora. Ia bertambah haru akan ungkapan cinta kasih yang diberikan ibunya. Samudra penyesalan kini membuncah. Menghantamkan tangan-tangan ombak pada karang hati yang mulai luluh oleh suasana.

“Tikh, apa kamu sudah bangun ya? Kalau sudah, lekas kemari. Ibu sudah persiapkan semuanya. Tapi kamu cuci muka dulu ya.”

Terdengar suara gaduh di ruang makan. Suara piring yang bersinggungan dengan sendok dan meja makan. Tampaknya Ibu Fatikh telah selesai mempersiapkan makanan sahur untuk hari itu. Tidak lama kemudian suara jam dinding berdenting tiga kali dengan kerasnya. Pertanda waktu sudah menunjukkan tepat pukul tiga dini hari.

Makan sahur merupakan sebuah rutinitas yang bersifat sunnah sebelum melakukan ibadah puasa di kala waktu fajar tiba hingga terbenanmnya matahari. Konon dikisahkan bahwa waktu yang paling afdhol malakukan makan sahur adalah menjelang imsak. Jadi, ini sudah menjadi kebiasaan jika seseorang mengakhirkan makan sahurnya. Kalau boleh diperkirakan ya, kira-kira lima belas menit sebelum imsak tiba. Saat itulah seseorang harus melakukan makan sahur. Semuanya itu demi mendapatkan keafdholannya.

Waktu telah menunjukkan tepat pukul tiga. Sementara itu, imsak jatuh kira-kira pukul empat kurang lima belas menit. Jadi, harus menunggu setengah jam lagi Fatikh dan Ibunya agar mendapatkan keafdholan dari makan sahurnya.

“Iya Bu, Fatikh sudah bangun”.
“Lekas kemari Nak, nanti makanannya keburu dingin”.
“Sebentar lagi Bu”.
“Ya sudah. Ibu tunggu ya”.
“………” Fatikh berdiam diri. Kesunyian malam kembali melingkupi.
“Ya Allah, hanya kepada-Mulah, aku menyembah dan mengharap pengampunan. Kaulah Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Bijak Sana. Pada bulan yang mulia ini, limpahkanlah rahmat dan pengampunanmu atas diriku yang telah lalai.” Puji Fatikh lewat geming kecil bibirnya.
“………” Fatikh sejenak terdiam. Dan kembali terbersit sebaris pertanyaan dalam benaknya. Ia gamang akan puja-pujinya.
“Namun bagaimana aku bisa mendapatkan ampunan-Mu, sementara aku belum mendapatkan ampunan dari sesamaku? Aku belum minta maaf kepada ibuku atas kekhilafan dan kedurhakaanku? Apakah saat ini juga aku harus minta maaf kepada ibuku?”
“………Ah tidak, lain kali saja. Sebentar lagi kan lebaran! Aku totalan dosa waktu itu saja. Lagian hanya tinggal beberapa hari saja. Tidak lebih dari dua minggu lagi.”
“………Tapi, bagaimana jika ajalku telah medahuluinya? Aku mati sebelum minta maaf kepada ibuku! Aku pasti akan membawa beban dosa yang begitu berat ke akhirat sana. Bagaimana dengan nasibku saat hari kiamat tiba? Dalam mimpiku saja sudah sebegitu payahnya, apalagi dalam kenyataannya. Sungguh aku tak sanggup membayangkannya. Aku tak kuat. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini? Sementara, saat ini aku masih malu-malu mengakui kasalahan dan meminta maaf kepada ibuku!”

Waktu telah hampir menunjukkan tepat pukul tiga lebih tiga puluh menit. Fatikh masih berjibaku dengan serpihan-serpihan pertanyaan yang kian menggumpal dalam benaknya. Sementara itu ibunya masih setia menunggunya di meja makan tanpa seorang kawan. Ia pikir, Fatikh tertidur lagi. Jadi, ia terpaksa mengulangi seruannya sekali lagi kepada Fatikh.

“Nak, kamu tidar lagi ya? Lekas kemari! Sudah hampir imsak nih. Nanti kamu tidak kuat loh puasannya. Apa mesti harus ibu susul dulu?”
Mendengar serua itu, dengan sesegera mungkin Fatikh menyahutnya. “Tidak perlu Bu. Fatikh akan bergegas ke Ibu.”

Fatikh pun bangkit dari duduknya. Sejengkal demi sejengkal mengayunkan langkah. Ia terlihat sedikit gontai dalam berjalan. Kakinya sedikit kesemutan. Bersama keteguhan hati yang masih lunglai dan keseimbangan jiwa yang masih terhuyung-huyung oleh ombak perdebatan, ia mencoba memenuhi seruan ibunya. Ia harus berperang dengan dirinya sendiri untuk sebuah keputusan yang pasti. Kini pun ia harus bersahur. Untuk perjalanan esok yang lebih luhur. Berpuasa, bukan sekedar menahan haus dan lapar, namun membendung segala kemungkaran insaniah. Belajar mati dalam kehidupan. Membutakan pandangan. Menulikan pendengaran. Membisukan lisan. Dan bahkan mendiamkan denyut nafsu yang terdalam. Berkiblat pada satu tujuan. Keridloan Tuhan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *