ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI

Anak Sungai Filsafat
(Interpretasi puisi Nurel Javissyarqi yang bertitel
“Anak Sungai Filsafa” dalam “Kitab Para Malaikat”)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=217

Sekali sulutan memercikkan nyala abadi,
berapi kobarkan semangat jerami, diledakkan memberi gelisah (IX: I).

Titik kesadaran memijarkan sinar, gerak ketaklumrahan menjadi lentur,
fibrasinya kau resapi, hening tiada berloncatan, ricik tidak lagi merebak (IX: II).

Getar-getir kepiluan samudra bergelombang, ia menaiki kapal
mengunjungimu, menelusuri penanggalan usia (IX: III).

Lentera kecil sudah cukup tidak membakar seluruh,
sedang ruh bermanfaat, tubuh telempap tidak lebih gelas (IX: IV).

Mengkaji tangis bayi di tengah wengi, songsonglah drajad bathin
agar tidak tertinggal merasakan, sedenyar-denyut-debaran-fajar (IX: V).

Sudah cukup abad-abad lampau meninggalkan,
kini sang putra mahkota memegang kemudi sejarah (IX: VI).

Bahtera nalurinya penjelajah mengarungi alur lautan dunia,
ruh penalaran tak tersekat ruang-waktu, sejauh kemauan bumi melangit
terdengar gemuruh gubahan alam bersamaan sadar penciptaan (IX: VII).

Jangan menetas sebelum waktunya, telur-telur tidak beranak hidup,
hanya lamunan kerap terbang, sampai kepada batas-batas kenangan (IX: VIII).

Kepakannya rusak melawan arus, daya tumbang di lingkar kesulitan,
olehnya siasati gerak bayu, kan lelah mengapung mengembalikan daya, maka
sayap magnit kau miliki, menarik energi dari jarak tidak terketahui (IX: IX).

Tidak seluruhnya kerahasiaan terungkap,
terkadang kepenuhan di lapis abstrak, tanpa judul di ruang pengab (IX: X).

Menebarkan biji percepat laju cahaya menerobos ruang berdimensi,
selaksa ulat berkepompong menyempurna bulu sayap kupu-kupu (IX: XI).

Katupan sayapnya menghiasi taman bunga hasil budi (IX: XII).

Fajar mencipta candi Prambanan, di mana kelelawar ke sarang Magoa,
dan anak-anak menyambut cakrawala pagi melewati lintasan matahari (IX: XIII).

Kesejukan pucuk dedaun melengkung, menggulirkan bening embun
atas persekutuan kabut, lentur memantulkan sinar rumput penjaga gerbang (IX: XIV).

Yang peroleh manfaat bagai sinar pantul mutiara, lainnya tertegun malu
berasal tidur mendengkur, kau merayap laksana semut ke bibir sumur (IX: XV).

Warna-warna dedaunan bermandikan cahaya, dan pekabutan tersingkap,
para gadis dengan buyung membawa pulang air sendang Duwur, ricik gemericik
menghadirkan kesegaran lelaki, yang dibaiat menjadi raja-raja di muka bumi (IX: XVI).

Setidaknya kau memahami desahan pujangga bersama nafasmu,
kau jauh mengikuti langkah berserahnya, gerak niat mencipta nasib lain,
serupa faedah kelana terpengaruh kedekatan jiwa tertempa (IX: XVII).

Ketakmungkinan terangkat puja melebihi kecepatan bayu
meluncur ke lapisan langit berkendaraan ketulusan (IX: XVIII).

Mereka canggung menghampiri bentuk, ia bukan berhala atau penciptanya,
kesegaran membaca kalam suci, kesungguhan air laut menjelma bebijian garam
bagi penawar lambung kemanusiaan, yang pedih-perih terjajah ketakadilan (IX: XIX).

Ini di atas tingkatan kabut mitos, siapa digerus letih menelan jalan malam,
sungguh keyakinan menghisap madu di alam ganjil kemuliaan atmosfir (IX: XX).

Sakit serta nikmat ia terima sejauh tidak mengurangi kekhusyukan,
kesungguhan hayatmu mengabdi berbekal puja keikhlasan (IX: XXI).

Tetesan pengertian menjernihkan mata batin, selaksa kesegaran
pada selubung masa membangkitkan nalar, peta pagi kembara menyerahkan bunga,
kalimat hikmah ilmu falsafat, itu mata air keabadian pujangga berfaedah (IX: XXII).

Lenggokan rayu mendayu jauh, mengharumkan altar nuranimu, melewati
gerakan cahya, dipantulkan cermin embun perbendaharaan kata-kata (IX: XXIII).

Pergi dari semua menuju pencipta segala, setidaknya tahu faedah bertemu
keluhuran batin menambah pandang dari gulungan ilmu prosesi jaman (IX: XXIV).

Sungguh bahagialah pemahat batu-batu sungai, pengukir kayu jati, serta
pencukil relief di dinding gua, syairnya pecinta selembut ruh penjaga (IX: XXV).

Obor dinyalakan, gong pembuka ditabuh, petanda dimulainya pesta,
burung berkumpul, tongkat masa menggedor lantai pendapa (IX: XXVI).

Tiada cemburu ketika wajah asing bersapa akrab, berseri-seri
menerima apa adanya, mulai dibangkitkan sedari sediakala (IX: XXVII).

Adakah ruh diperbaharui? Apakah ruh tercipta bersamaan?
Tidakkah awal ruh murni, dan selamanya suci lestari?
Lantas sanggupkah manusia melampaui kodrat? (IX: XXVIII).

Bagaikan tertuang air kendi dipercikkan jemari para utusan,
bukankah manusia cepat kenyang sekaligus cenderung lekas dahaga?
Hanyalah para penyetia diberikan segalanya dari ketabahan (IX: XXIX).

Sengaja melempar dadu mencari padanan waktu mencipta hitunganmu,
walau tak mendapati selain irama runtut, kidungannya semerdu memahami diri,
sudahlah cukup mencipta tanya, tanpa harus menghampiri dirimu (IX: XXX).

Teruskan berjalan menemui kegembiraan sendiri,
tersebab mereka tidak ingin kau menghibur kembali (IX: XXXI).

Kau ditujukan lautan berimbang, yang lengkungannya merengkuh bumi,
menyenandungkan gurau-ricik ombak berkejaran, kadang kecil pula membesar,
sebagaimana gairah hidup di dalam kehidupan (IX: XXXII).

Rasakan diamnya dalam dirimu, sebab pribadi yang tidak menentu,
mustahil pecahkan guratan batu di kening sejarah waktu (IX: XXXIII).

Berilah kapak demi membongkar otak sekeras batu (IX: XXXIV).

Batuan kerikil berpasir, diaduk perekat pada baja, tercipta beton
meneduhkan kala hujan terik siang meradang, mengambili hasil rempah
demi pertukaran kasih dalam pasar, di lereng peradaban (IX: XXXV).

Jangan menjadi pesulap, sebab orang hanya senang sesaat,
terhibur kekosongan atau sakit tak beralasan. Jadilah penjual jamu
yang memahitkan lidah, tetapi badan mendapatkan sehat (IX: XXXVI).

Terimalah hujan gerimis penuh sungguh, dan tabahlah diguyur deras
manakala mendapati wejangan pujangga, sambil mendengarkan petikan dawai
yang dentingannya terjatuh di danau, pandanganmu akan terbuai (IX: XXXVII).

Senilai apa terbangun jembatan layang itu?
Besi baja tidak karatan, oleh beton maklumat (IX: XXXVIII).

Jangan kagumi perubahan saat menapaki tangga harapan.
Ketika tiada, apakah turut serta? Kadang aku bertanya dalam hening;
lamanya mana jembatan layang yang kokoh pada sangkar langitan,
dengan kata-kata yang terbangun, kala menjumpai kekasih? (IX: XXXIX).

Mimpi buruk mengajak berlari, dan hilang daya tersontak, alangkah indah
mempelajari padamnya nyala api pada tubuh lilin beku, melelehkan gelap (IX: XL).

Dinyalakan geretan, isyarat tangan menandakan jalan pulang, ialah yang
menyaksikan bayang bergetar, dan was-was memuncak menebarkan hantu hianat
bagi tidak sabar mengungkap, memahami dunia sebatas lengkungan senja (IX: XLI).

Kepada kegelapan malam seruan mendatangi, meminyaki tubuhmu
dengan khusuk wewangi, membakar cendana di ruang semedi (IX: XLII).

Jangan lupa tegakkan tulang punggung buka jendela
agar bayu memperdengarkan syair merdu bagimu (IX: XLIII).

Tanah lembah, padang rumput hijau membentang jiwamu,
bersamamu rautnya berseri-seri lautan cahaya mewaktu (IX: XLIV).

Yang terusir terlunta tidak melepaskan kemuliaan,
maka hukum keadilan senantiasa mengikutinya (IX: XLV).

Di kala penguasa membakar ajaran utama, murid setia bersenandung
di gumpalan awan berarak, warna gagasannya merajai alam fikiran (IX: XLVI).

Jangkauan penghormatan ditundukkan kalimah hidup,
jangan mencari pendapatan dengan pendapatmu, tersebab ujungnya akan angkuh
lagi terbelenggu, terpeleset ke jurang atas dakian waktu terburu-buru (IX: XLVII).

Sinarnya diberkati, hukum cahaya menerbangkan sayap-sayap awan,
reinkarnasi hikmah pengetahuan di setiap kesadaran hujan (IX: XLVIII).

Ia sedang dalam hatimu mendapati sirr di perbatasan terpisah,
namun kenapa kau belum sanggup atau ragu memangku? (IX: XLIX).

Laba-laba pemilik jaring menjerembabkan ribuan serangga,
tangkaplah mata angin lembut menerobos cela-cela lentur (IX: L).

Luruskan bayangan jemari saksi niatan, agar khilafnya
memudahkan segala jalan dilaluinya bermuara mulia (IX: LI).

Terlewati tebing curam pena tajam menyelamatkan tubuh,
bergelayutan pada dedahan menjulur ke jurang ujung waktu (IX: LII).

Ikutilah melangkah ke batuan terjal merintih, bukankah hikmah
mata air tiada pernah habis, selalu mengucur ke kaki-kaki bukit (IX: LIII).

Sayang, belum dipunggah racikan lama kau berkata; telah usang,
itu menjebloskan diri menutup pepintu nafas rahmat abadi (IX: LIV).

Ruh yang ikhlas menerima tiada-kurang aturan ditepatinya,
janji sekuat tirakat, di setiap langkah diberkati demam setia (IX: LV).

Berniatlah, sungguh merugi tidak berpangkal tidak berakhir
sebab masa dalam hatimu berharap melewati lorong tujuan (IX: LVI).

Ia bisikkan kegadisannya pada telinga yang tiada purnama (IX: LVII).

Khusyuklah agar diharapkan ke sana, tari-tarian kesendirian kepada
alunan sukma pertama, tiada ingin bersekutu walau sepi menghantui (IX: LVIII).

Gelisah puncak gairahnya kelapangan, membiarkan diri dianggap pelacur,
masih kau butuhkan menambah dendam usianya, jari-tangan menggapai tubuhnya,
tetapi ia senantiasa suci gejolak gelora angkara, entah berupa apa hatinya? (IX: LIX).

Tidaklah mudah menyerahkan mahkota keutamaan, kemurniannya
bukan hanya milik sebelumnya pula kepunyaan pejalan di belakang bayangan,
dari jarak lengkingan ujung pana, penguntit mencium keremajaannya (IX: LX).

Ia titik pusar keharuman, di mana setiap ayunan kaki-kakinya kau resapi,
sangking bernafsunya, semua tempat menghirup aroma keremajaannya (IX: LXI).

Tiada tahu bagaimana ia menggali sumur dan menimba airnya,
itu semata agar kau tidak merasakan lelah-berpayah nantinya (IX: LXII).

Manakala kau menghampiri, ia memberikan senyum kau idam,
dialah penanam cabe serta memetiknya untukmu (IX: LXIII).

Dia senang melihatmu merasakan pedasnya,
atas kekangan musim tak sanggup dihadapi yang jauh tanpa jiwa (IX: LXIV).

Tarikan nafasmu bertingkah laku tirakat hutan purba, ia meracik ramuan
demi kembalinya kegadisan, kenapa kau tak malu kenakan mahkotanya? (IX: LXV).

Kejamnya kasih sayang sampai ia tetap menjaga kesucian,
menyukai sakit dari musim kekangan atas cobaan (IX: LXVI).

Ranumnya apel berkata; wahai kekasih, makanlah buah tangan ini,
kembang gula ialah pengakhiran, setelah meminum ramuan jamu (IX: LXVII).

Gegaslah pulang membawa buntelan dan buka hadiahnya, ia berharap
kau segera tahu, dan ia percaya, kau memiliki timbangan di rumah (IX: LXVIII).

Dia khawatir bila terlalu hormat, bingkisan tersebut tidak kau buka,
hanya ditaruh pada tempat paling tinggi dalam kamar pribadi (IX: LXIX).

Jangan-jangan buahnya segera busuk atau bunganya layu,
sebelum senja terdekat di matamu oleh sibuk bercermin (IX: LXX).

Menjadikan usang ketika menelan tenggang masa yang sungkan,
maka ciumi keningnya agar kau tenang demi mengembalikan ingatan,
se-ia dikandung, dan terlahir dicintai untuk mencintainya (IX: LXXI).

Hamparan permadani hijau adalah rerumputan jiwanya,
pengharapan purnama mengembangkan cahaya (IX: LXXII).

Jemari tangan suci ruh mengambili kelembutan,
menikmati kehangatan cinta kasih diberkati (IX: LXXIII).

Rindu berucap mengikuti kalimah memperbaharui kilau di hati,
dorongan diri menjadi kumpulan bukan persekutuan badai (IX: LXXIV).

Jikalau pada keheningan, perasaannya menuju kedalaman makna,
hakikatnya bukan berbara namun persenyawaan cahaya-cahaya (IX: LXXV).

Lapangkan desah nafasmu pada senja tak bernama, malam peristiwa
yang menetaskan kalimah fajar jingga, meruhkan impian segalanya (IX: LXXVI).

Manakala siang terik tercekik cemburu, dia menebak nalar-kalbumu,
sebenarnya tiada keinginan merusak jembatan layang di pesawahan waktu,
rawa-rawa keindahan, menghidupi cacing-cacing dan bunga teratai (IX: LXXVII).

Wahai yang menggeliat dipanasi cahaya mentari,
penuhi tubuhmu berlaksa rasa, bergumul dalam keintiman (IX: LXXVIII).

Yang selalu di kalbu menyentuh nalurimu,
lapar dahaga terlupa kesungguhan niatan (IX: LXXIX).

Andai kangen, bacalah semesta danau yang tercipta di jiwa, bayu pelahan
menyisir ombak tingkah-lakumu, menawan para pemancing budiman (IX: LXXX).

Pada kedalamanmu ia geliat ikan telah diizinkan menyertai kesunyian hakiki,
permata ada di dasar juga di permukaan, layaknya kilauan emas fajar merah
pada pesisir samudra di timur raya (IX: LXXXI).

Menyusuri jalan bebatu bertemu suntukmu, ia melangkah lembut
tanpa bercak tapak kaki, hanya laguan serangga menemani (IX: LXXXII).

Ia menemui ladang ilalang ditundukan angin pegunungan ke tanah basah,
hujan gerimis pada rerumputan tropis, digenangi kabut doa (IX: LXXXIII).

Terdengar kemerekut perut kembara, dan raut mukanya lelah,
bibir-bibir tersenyum memancar atas hafal pengetahuan tanpa dusta,
dan dicukupkan rasa kenyang, lantas menghilang kesusahan (IX: LXXXIV).

Ia terpukau walau mengenai persoalan kecil, segala terlintas
maupun sirr, tiada bangga melampaui kodrat insani (IX: LXXXV).

Inilah pertanyaan diri sendiri tidak membutuhkan jawaban,
hanya menilik timbanganmu, lebih cukup dari pengenalan (IX: LXXXVI).

Persemakmuran hatinya, senjata yang senantiasa dibawa ke mana pun pergi,
mata embun membaca lempengan dedaun fajar, yang ditiup goyangan angin sekitar,
sekepalan palu nanar oleh nafas pemburu, kau dibisingkan usianya (IX: LXXXVII).

Tidak sendiri di kediamannya, keinginan-keinginan berharap bertemu dirinya
membangkitkan hasrat belantara sukma, menjadi penghuni ternama (IX: LXXXVIII).

Ia keluar sejenak memandangi diri di hadapan pendatang dan suatu kali
anak-anak sungai berkata; mungkinkah perjalanan jadi tujuan? (IX: LXXXIX).

Merindu muara, harap berjumpa keajaiban,
tersebab manakala menggelinjak naik-turun tentu ada lelahnya (IX: XC).

Ia memahami benar jalan di bebatuan berlumut, aliran sungai
menggelincirkan pelepah, reranting berlayar, buah jambu terlunta,
timbul-tenggelam menyusuri arus deras permenungan (IX: XCI).

Di jantung kota-kota terdengar degupan meracau
akan bisikan kasih sayang menggetarkan insan (IX: XCII).

Ia tulis hikayat abadi, memahamimu laksana pasir pesisir memutih,
biru sendu ombak laut hatimu, ketika senjakala tertikam rindu (IX: XCIII).

Berselendang senyuman sederaian kidungan bayu di alam kalbu,
tabir mimpi bertemu sapa, merentangkan sayap berujung pena (IX: XCIV).

Hisaplah detak candu menggiring mata sayu menikam lewat
seperti tajamnya belati malam menghunus gairah gunung berapi,
tatapannya mengintai pecinta di taman kembang (IX: XCV).

Kekupu sujud di segumpal batu gajah,
gemerincing air sendang mematangkan diri menetap (IX: XCVI).

Membaca sobekan kertas lalu tersambung nyawa di dadanya,
dan jamahan jemari menyembuhkan hati blingsatan sendiri (IX: XCVII).

Bulir-bulir embun menanti terbangunnya matahari atas fajar malaikat,
kelepak sayap-sayap putihnya berkabarkan pagi melestarikan abad (IX: XCVIII).

Menebah sawah tandus pencerita, rumah mungil di lembah-lembah,
aduhai gadis ayu menyusuri pematang berpapasan muka sedap dipandang,
semalam denyut kasih sayang membuai kantuk keremangan (IX: XCIX).

Para perempuan agung menjemput niat terbang bersayap masa,
sewaktu berbeban gelap, tidak menjadi cemooh yang kekenyangan (IX: C).

Laksana kisah ular naga dengan burung hong di tepian telaga warna,
keduanya mempercantrik padma yang bersemedi dalam luapan asmara (IX: CI).
—-

*) Pengelana dari Lamongan, JaTim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*