Jaring Batu

Cerpen CWI 2006, terangkum dalam antologi Lok Tong.
Marhalim Zaini

“Betul-betul makan sumpah jaring batu ini, Cuih!” Ludahnya bau pahit kesumat. Tiap hari, bahkan tiap saat. Tiap ia teringat kepala kekasihnya tergolek bagai sebongkah kelapa, teregok-egok dalam gelombang laut Selat Melaka, teregok-egok pula dalam pasang air matanya. Entah telah berapa gantang ludah untuk menyumpah-nyumpah yang tumpah dari mulutnya, di sepanjang beting, sepanjang tepian pantai abrasi, sepanjang hari-hari sesenyap mati.

Panggil saja ia Siti. Boleh Siti Lengkong, boleh Siti Ampung, Siti Sianah, Siti Nurhalizah pun boleh. Tak ada yang hirau sangat dengan sebutan nama di belakang nama Siti, sebab semua perempuan di kampung Parit ini merasa tak ada yang berbeda dengan diri mereka. Yang namanya perempuan ya sama saja. Sama-sama tukang toreh getah , sama-sama tukang anyam pandan, sama-sama tak tamat sekolah, sama-sama jadi bini nelayan. Tapi, Siti yang masih gadis ini, yang suka menyumpah-nyumpah ini, tiba-tiba menjadi lain dari perempuan yang lain. Selama ini, tak pernah terdengar dengan sangat lantang seorang perempuan di kampung ini yang berani menyumpah-nyumpah (apalagi sampai meludah-ludah) seperti Siti. Bercakap pun selalu dalam senyap-senyap, dan dalam kelompok perempuan saja. Kalau pun harus menyumpah, paling cuma pada anak-anak mereka yang sudah tak bisa lagi dinasehati, itu pun hanya dalam rumah, hanya sebatas melepas gejolak amarah. Maka, tersebab kelakuan Siti yang aneh itulah, mereka kemudian menganggap Siti sudah senewen , gila kena sampok .

Orang kampung sebenarnya mafhum. Siti jadi aneh setelah kekasihnya, lelaki dari kampung sebelah sungai, yang seminggu lagi hendak melamarnya, dikabarkan mati dengan kepala terpenggal. Hati siapa pula yang tak hancur menerima kenyataan yang segetir ini, menerima kiriman dari gelombang laut sebongkah kepala kekasih yang hanyut. Yang jadi soal kini adalah, orang kampung Parit kian kuatir bahwa kelakuan Siti yang menyumpah-nyumpah ini akan semakin memperkeruh konflik ‘Jaring Batu’ yang telah berlangsung selama dua puluh tiga tahun lebih ini. Saling menyerang, saling membakar perahu, saling menculik, saling menuding, adalah peristiwa yang mereka hadapi sehari-hari. Orang kampung sebelah sungai tetap bersikukuh menggunakan jaring batu sementara orang kampung Parit ini yang sehari-hari melaut dengan jaring rawai menganggap bahwa jaring batu dapat mengganggu habitat dasar laut seperti terumbu, selain itu ikan kurau yang besar dan mahal itu habis semua dijual ke negeri seberang. Konflik ini meruncing setelah tak satu pun jalan keluar dapat ditemukan. Dan puncaknya adalah jatuhnya korban dari salah satu warga kampung sebelah sungai. Setelahnya, tentu dendam mulai berkecambah dalam hati orang kampung sebelah sungai. Sewaktu-waktu mereka bisa mengamuk dan melakukan penyerangan balasan. Nyawa hanya bisa dihargai dengan nyawa.

Dan tengoklah, sejak peristiwa terakhir perkelahian berdarah di tengah laut itu, kampung Parit ini memucat, hari-hari seolah mati-suri. Orang-orang tak berani turun ke laut. Ekonomi seketika lumpuh. Tak bisa berharap hidup pada getah yang murah. Tak juga pada tikar pandan yang kini tak begitu laku di seberang, sebab para toke ‘pendatang haram’ banyak yang kena tangkap. Mau keluar kampung, mencari rezeki tambahan pun jadi ragu, jangan-jangan mereka menculik dari arah darat, dan setelah itu tentu maut siap menjemput. Jadilah mereka kini orang-orang yang bingung dan hidup dalam kecemasan (juga kemiskinan) yang tak berujung.

Apalagi, saat malam menjelang, kampung ini benar-benar terasa sedang ditikam sepi. Sementara para lelakinya tampak berjaga-jaga di sejumlah penjuru jalan masuk ke kampung, para perempuannya berkumpul di salah satu rumah warga yang agak aman letaknya. Kecemasan, seperti lipan berkaki seribu yang diam-diam merayap di sekeliling mereka, mengepung mereka. Suasana semacam ini, hanya dapat dirasakan saat terjadi peperangan, bukan?
***

“Betul-betul makan sumpah jaring batu ini, Cuih!” Suara Siti tiba-tiba seperti melompat ke arah segerombolan lelaki yang sedang berjaga di simpang kampung. Mereka cukup terkejut dan sempat mengacungkan parang ke arah Siti.

“Sial, perempuan gila ini rupanya.” Umpat Atan.
“Apa lagi kerja kau Siti. Pulanglah! Malam-malam begini masih juga menyumpah-nyumpah!” Sambung Ujang.
“Alah, biar sajalah. Orang gila mana bisa diatur.” Kata Udin.
Siti tiba-tiba langsung duduk di bangku panjang di antara para lelaki itu. Matanya menatap tajam ke wajah lelaki di sekelilingnya satu persatu. Aneh juga, biasanya Siti cuma lewat-lewat saja dan tak pernah mau singgah apalagi duduk bersama para lelaki kampung. Tapi malam ini, ia malah memulai percakapan seperti seorang yang tidak gila. “Siapa sebenarnya yang membunuh kekasihku?”

Semua lelaki terperanjat mendengar pertanyaan yang berbahaya ini. Berbahaya karena polisi pun sesungguhnya sedang mencari pelaku pembunuhan itu. Dan lebih berbahaya lagi karena pertanyaan ini tiba-tiba muncul dari mulut seorang perempuan gila yang dulu adalah kekasih lelaki yang terbunuh. Bisa saja setelah ia mendapat jawabannya, ia buka mulut pada polisi, atau malah dia yang balas dendam. Maklumlah, orang gila. Karena berbahaya, maka tak satu pun yang berani menjawab.

“Aku tahu siapa yang membunuhnya!” Mata Siti menatap kosong.
Semua lelaki kembali terperanjat, meski sebenarnya mereka tak begitu cemas, sebab mereka menganggap orang gila memang suka meracau.
“Sudahlah, Siti. Pulang sana. Nanti Abah kau mencari pula.” Kata Atan.
“Aku tahu siapa yang membunuhnya!” Mata Siti masih menatap kosong.

Semua lelaki tampak serba salah tingkah setelah mendengar pernyataan Siti untuk kedua kalinya ini. Atan malah tampak tak jenak duduk, ia kembali memasang sebatang kretek di mulutnya. Yang lain tampak saling pandang. Sesekali memandang ke Atan. Mereka semua tahu, bahwa Atan memang sempat jadi saingan si terbunuh untuk mendapatkan Siti. Tapi, apa boleh buat, Siti akhirnya harus memilih lelaki dari kampung sebelah sungai. Apakah Atan memang sakit hati? Entahlah, hati orang siapa yang tahu.

“Ayo, Siti, biar kuantar kau pulang.” Atan tiba-tiba bergerak menarik lengan Siti. Tapi Siti memberontak. Tangan Atan ditepis agak keras. Lantas setengah berteriak, “Aku tahu siapa yang membunuhnya!”

Atan jadi agak emosi, “lalu kalau kau tahu, mau apa kau? Mau balas dendam? Mentang-mentang dia kekasihmu, terus kau hendak membela orang kampung sebelah, begitu? Yang kau meracau, menyumpah-nyumpah tak tentu arah itu kenapa pula? Kau mestinya tahu, orang kampung sebelah bisa saja memenggal leher kau gara-gara sumpahan kau itu! Ayo, pulang sana!”

Wajah Siti tampak memerah oleh bias keremangan cahaya lampu obor bambu. Matanya menatap mata Atan. Setengah menyeringai Siti bicara, “Kau takut ya? Takut mati ya? Atau takut dicekik hantu kekasih aku?” Lalu Siti meracau ke semua lelaki, “Kalian juga takut mati kan? Kenapa harus takut? Selama ini kalian begitu berani, bukan? Berani membunuh berarti ya berani dibunuh! Kenapa pula kalian tak berani turun ke laut, kalau kalian memang merasa benar! Apa mentang-mentang merasa benar terus boleh membunuh?”

“Siti, diam kau! Muak aku mendengar ceramah kau! Bicara kau macam bicara orang waras saja! Pulang sana!” Atan kian emosi.
“Siapa cakap aku ini gila? Apa kalau orang menyumpah-nyumpah berarti dia gila, ha? Orang menyumpah itu karena dia marah, bukan karena dia gila! Aku ini waras, bodoh!” Siti tersenyum sinis.

Semua lelaki tampak bingung mendengar pengakuan Siti. Meski tetap masih lekat dalam anggapan mereka bahwa Siti memang gila. Atau paling tidak setengah gila. Siti masih terus saja meracau. “Kita semua ini memang sudah gila, sudah tak waras. Penyebabnya ini! Perut yang kosong ini! Semua gara-gara ini! Kalian bunuh-membunuh juga gara-gara ini kan? Makanya jangan jadi orang miskin, jangan jadi nelayan, jadi pejabat saja! Pukimak! Betul-betul makan sumpah-lah nasib kita ini! makan sumpah-lah kemiskinan ini, Cuih!” Sehabis meludah, Siti langsung pergi, dengan mulutnya yang masih meracau.

Semua lelaki, apalagi Atan, tercengang-cengang melihat tingkah Siti yang aneh, meski apa yang mereka dengar terasa ada benarnya. Ah, kebenaran itu aneh, pikir mereka.
***

Itulah malam terakhir orang kampung melihat sosok Siti. Sibuk juga dibuatnya. Meski dianggap gila, tapi jika tiba-tiba hilang lenyap tak ada kabar, tentu akan jadi problem baru. Masalahnya, dalam suasana konflik seperti sekarang ini, tak mustahil orang kampung sebelah sungai akan menculik lalu membunuh siapa saja yang mereka dapatkan.

Yang paling sibuk tentunya Abah Siti, juga Atan. Orang-orang kampung pun turut memberi sikap simpatik dengan bersama-sama mencari Siti ke sekeliling kampung. Tapi sayang, hingga petang mengambang, Siti tak kunjung ditemukan. Tak salah lagi, orang kampung menduga dan setengah memastikan bahwa Siti telah diculik oleh orang kampung sebelah sungai. Lalu apa sikap yang harus diambil?

“Kita tak bisa berdiam diri saja. Anak gadis saya sudah diculik. Kita harus menyerang kampung sebelah sungai. Aku betul-betul sudah muak!” Kata Abah Siti berapi-api.
“Apa kita sudah siap, bang?” sahut Atan.

“Bukankah kita sudah selalu siap sedia setiap hari, setiap malam? Kalau terus menerus begini, hidup kita tak pernah aman. Lebih baik kita tuntaskan saja sekalian. Siapa yang kuat, dialah yang menang, dialah yang berhak menentukan!”

“Tapi, itu jika benar Siti mereka culik, jika tidak?”
“Jika tidak kita tetap akan menyerang mereka, sebab masalahnya kan bukan semata karena Siti diculik, tapi masalah harga diri, masalah yang puluhan tahun menumpuk dan mengganggu hidup kita. Dan sampai kapan pula kita harus menunggu aman, dan bisa turun ke laut lagi? Apa menunggu kita semua mati karena tak punya mata pencaharian! Menunggu pemerintah yang tak mau tahu itu! Laut itu rumah kita. Hidup kita. Kita harus perjuangkan. Ayo, tunggu apa lagi, kita serang saja mereka! Apa kalian semua setuju?” seru Abah Siti kepada orang-orang kampung.

Karena ikut terbakar emosi, juga karena tak kunjung menemukan jalan terang, orang-orang kampung langsung berteriak setuju. Dan dalam sekejap saja, sudah berkumpul puluhan orang lelaki yang siap membawa senjata tajam di genggaman mereka. Tapi, ketika mereka hendak mulai beranjak, tiba-tiba dari arah belakang seorang lelaki tanggung berlari sambil berteriak memanggil-manggil Abah Siti. Semua orang menghentikan langkah, dan menoleh ke arah suara. Rupanya si Entong yang datang. Dengan sedikit terengah-engah Entong mulai memberi kabar, “Bang, aku nampak Siti di pantai tadi?”

“Siti di pantai? Jangan bengak kau Entong, sehari penuh kami sudah mencarinya!”
“Betul, Bang. Aku nampak Siti baru turun dari pompong , Bang. Dia bawa ikan dalam bakul. Dia cakap, baru pulang dari menjaring ikan di laut!”

Seperti tak percaya, semua lelaki yang mendengarnya seketika terlongong. Seketika seperti ada yang hilang dalam diri kelelakian mereka, kejantanan mereka. Laut itu rumah kita, bukan?***

Pekanbaru-Riau, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *