Perempuan yang Pandai Menyimpan Api

Jawa Pos, 22 Feb 2004
Marhalim Zaini

Tahu apa kau tentang kehilangan
Sehingga membuatmu berbeda dari orang lain?*

Seolah seisi kedai menyimpan umpatan itu. Malam – yang diduga dapat menyembunyikan percik api sindir kebencian dari mata orang-orang – justru kini menjelma ribuan teluh yang mendera sunyi. Sunyi malam, yang memekat di dada Soi. Dada perempuan yang sipit matanya, membuncit perutnya, yang hanya memandangi genang bias cahaya lampu di wajah sungai hitam setiap malam. Soi tak suka ratusan cahaya kristal yang terapung berbaris di sepanjang tepian sungai Siak di seberang itu, sebab Soi tak mampu menggapainya. Dan Soi lebih suka pelabuhan tua beraroma lumut gambut ini, duduk bersandar mengelus-elus perut di sudut jendela kedai yang selalu terbuka, mendengarkan batu-batu domino beradu di atas meja, dan menyimak percakapan para kuli pelabuhan yang menyulut derai tawa. Serupa kenikmatan pahit candu dari tuak yang ditenggak para kuli imigran gelap itu, Soi menikmati setiap jarum teluh yang menyembur dari mulut mereka.

Soi mafhum. Sesungguhnya tak ada yang membuat ia berbeda dari mereka. Kehilangan di sini ibarat ulam. Tak sedap hidup tanpa kehilangan. Sejak lama Soi kehilangan keluarganya, kehilangan kampung halaman, kehilangan pekerjaan, kehilangan keperawanan, lalu kini Soi kehilangan lelaki yang harus bertanggungjawab terhadap bayi yang dikandungnya. Sementara para lelaki kuli pelabuhan itu juga kehilangan keluarga, istri, anak, bahkan lebih sering kehilangan dirinya sendiri tatkala alkohol telah mulai menguasai hidup mereka. Biasanya, kalau mulut mereka telah berbuih dan mulai meracau tentang kebahagiaan hidup yang tak mungkin diraih, di gudang-gudang pengap, di pinggir-pinggir sungai itulah tempat mereka membuang badan, merebahkan kehilangan demi kehilangan, dan bergegas merangkak bangkit ketika matahari mulai meneriakkan lengking kapal barang ke telinga mereka. Dan tampaklah, serupa para pengungsi perang, para lelaki legam bertubuh gempal berjalan berduyun-duyun membawa barang di pundaknya, keluar masuk dari gladak kapal ke pelabuhan. Soi selalu tersenyum memandangnya, dalam hatinya ia sering berbisik, “Para lelaki kuli itu, tak bisa sombong saat berhadapan dengan hidup. Mereka takluk seperti manusia yang kena kutuk…”

Maka kini Soi memilih untuk diam. Memilih untuk tak mengamuk atas setiap kehilangan yang menimpanya. Sebab amukan dan teriakannya telah tuntas lepas saat segerombolan lelaki menaklukkan tubuhnya di atas ranjang tua pada suatu malam yang hujan. Lelaki-lelaki gempal dan kasar yang berbau karat besi dan minyak kapal, menutup wajah mereka dengan sarung, mengendus serupa babi yang kelaparan. Soi terhenyak, membisu dalam tangis yang tertahan. Tidak ada kekuatan untuk menolak bahkan untuk mengatakan tidak. Tak ada sesiapapun yang hidup malam itu. Hanya sesayup suara anjing yang kian hanyut dibawa deras air pasang. Hanya suara desah pasrah yang tenggelam karam.

Sejak itu Soi mengunci mulut. Sebab ia merasa tak ada kata-kata yang layak untuk diucapkan. Soi lebih memilih mendengarkan peluit kapal-kapal, yang seolah memanggil namanya untuk segera pergi dan kembali ke kampung halaman. Atau Soi lebih suka menyaksikan mulut kapal memuntahkan orang-orang yang datang dan menelan kembali orang-orang yang pergi. Soi merasa sedang menyaksikan mesin hidup yang terus memompa tubuh-tubuh dalam waktu yang tak pernah padam. Atau Soi terkadang lebih senang mendengar Kak Dar – si janda tengah baya pemilik kedai – berceloteh tentang kedai kopinya yang kian hari kian bangkrut, tentang para lelaki kuli yang kerap menggodanya dengan pujian-pujian. Pujian-pujian yang ujung-ujungnya supaya hati Kak Dar luluh untuk tetap memberikan toleransi terhadap hutang-hutang para lelaki kuli itu. Meski dalam hati, Soi selalu bertanya, kenapa saat ia diperkosa pada malam yang hujan itu, ia tak mendengar suara Kak Dar memaki hamun para lelaki itu. Soi tak melihat bayangan Kak Dar datang membantu. Di manakah Kak Dar malam itu?

Tapi Soi memang pandai menyimpan. Soi sadar, ia tak berhak terlalu banyak bertanya pada orang yang telah berjasa padanya. Soi menghormati Kak Dar seperti ia menghormati ibunya sendiri. Dan sebagai seorang perempuan malang yang terbuang, yang telah sekian lama menumpang, Soi tak mau lebih menyusahkan Kak Dar dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung unsur kecurigaan itu. Meski terkadang Soi merasakan ada goresan pisau tajam di ulu hatinya saat Kak Dar berbisik, “Gugurkan saja bayi itu, Soi…”
Dan Soi tetap memilih untuk diam.
***

“Sudahlah, Soi. Melamun hanya membuat orang cepat keriput.”
“Ya. Lelaki kau itu pasti kembali. “
“Kalaupun tak kembali, di sini kan banyak pengganti.”
Soi bergeming. Suara para lelaki kuli di meja judi itu terdengar berbaur dengan batu-batu domino yang berbentur. Soi masih saja duduk meluruskan kedua kakinya di atas bangku panjang di sudut kedai dekat jendela yang terbuka. Tangannya selalu begitu, mengelus-elus halus perutnya yang buncit. Matanya selalu begitu, menatap kosong dan dalam. Soi tak pernah mengerti kenapa para lelaki itu setiap malam terus melemparkan jarum teluh di dadanya. Lelaki mana yang mereka maksudkan, yang pasti akan kembali itu? Padahal sejak ia pergi dari kampung jadi tkw ke negeri seberang sampai ia terlempar di tepi sungai ini, Soi tak memiliki seorang lelaki pun sebagai kekasihnya. Diam-diam Soi menumpuk rasa muak di hatinya, “Ah, para lelaki kuli itu, semakin berlebihan…”

Tapi Soi memang pandai menyimpan. Soi menganggap mungkin lelaki yang dimaksudkan oleh para lelaki kuli itu adalah lelaki yang beberapa waktu lalu mengirim sebuah kartu pos yang berisi kalimat puitis, “Aku suka Malaka. Tembok orang Portugis, jalan pada deru pagi, gudang Cina dengan genting tua, liku Bandar, warna kapal, dan kedai-kedai.”**

Tapi Soi tak pernah tahu siapa sebenarnya yang mengirim kartu pos itu, sebab tak ada sebaris nama pun tertera di bawahnya. Soi hanya menduga bahwa kartu itu tentulah dikirim oleh seorang lelaki berkacamata yang pernah singgah di kedai kopi ini. Lelaki pendatang itu memang sempat menyapa dan mengajak Soi bicara tentang keadaan kampung ini. Tapi itu hanya sekejap. Habis segelas kopi dan sebatang rokok di tangannya, lelaki itu pun undur diri. Dia cuma sempat meninggalkan sebuah buku kecil dari dalam ranselnya. Sebuah buku yang sampai kini tak kunjung dimengerti oleh Soi makna kata-katanya, meski telah berkali-kali Soi mencoba membacanya. Tapi ada sebuah kalimat pendek – yang kedengarannya aneh – yang selalu ia ingat dan selalu ingin ia bisikkan di telinganya sendiri, “perjalanan pendek ini, panjang sekali.”***
***

“Soi, awak tu tampak semakin cantik kalau sedang bunting begitu.”
“Iyalah. Kalau dasarnya memang cantik, sedang apa pun, pasti cantik juga kelihatannya…”

“Ah, Soi, tak adakah di antara kami yang kau suka sebagai pengganti. Hahaha…”
Bau alkohol menyengak dari mulut para lelaki kuli yang meracau itu. Soi sesekali melirik wajah-wajah mereka yang legam berkilat penuh keringat. Lampu minyak yang bergoyang di atas kepala mereka, menebarkan bayangan-bayangan temaram, menegaskan kepekatan malam yang terus beranjak tenggelam.

“Tapi Soi, sebaiknya bayi itu kaubuang saja.”
“Ya. Untuk apa kaupertahankan bayi yang tak jelas siapa bapaknya.”
“Lagi pula, sama saja kau menyimpan aib dalam tubuhmu. Hahaha…”
Batu-batu domino itu, terus beradu di jantung Soi. Ada gemeretak geram yang terpendam. Ada lintasan ingatan yang berkelindan. Bayangan lelaki-lelaki bertopeng kain sarung seperti sedang terbahak-bahak menertawakan Soi yang terkapar lunglai di atas ranjang tua, pada suatu malam yang hujan.

“Sudahlah, Soi, jangan terlalu dipikir. Gugurkan bayi itu, lalu kau dapat bekerja ganda di sini.”
“Ya, di samping sebagai pelayan kedai membantu Kak Dar, kau juga bisa melayani kami untuk…”
“Hahaha… benar juga itu. Kami yakin, perempuan secantik kau pasti laris…”
Soi naik pitam. Seluruh gelap malam menerkam tubuhnya. Gelak tawa, batu yang beradu, alkohol yang membuncah, angin laut menggayut di tiang-tiang kedai, mengepakkan atap rumbia, dan lampu minyak terus bergoyang kencang di dada Soi. Membakar segala yang lampau. Membakar segala desau…
***

Saat peluit kapal-kapal mengantarkan fajar, langit memerah oleh pijar kobaran api yang masih menyala di barisan gudang-gudang pengap di pinggir sungai. Ada tubuh-tubuh gempal bergelimpangan hangus dimakan api. Ada suara sesengguk tangis perempuan janda yang berlutut di bawah meja. Ada segaris senyum puas di bibir perempuan bunting yang duduk meluruskan kedua kakinya di atas bangku panjang di sudut kedai dekat jendela yang terbuka. Tangannya selalu begitu, mengelus-elus halus perutnya yang buncit. Matanya selalu begitu, menatap kosong dan dalam.
Soi memang pandai menyimpan api.***

Yogyakarta, 2003

Catatan:
*) Dari Puisi Agha Shaid Ali berjudul Di Seberang Hujan Abu, terjemahan Arif B. Prasetyo.
**) Sebaris sajak Goenawan Mohamad berjudul Pastoral.
***) Sajak Radhar Panca Dahana berjudul Nafas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *