TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII

Tanah Kelahiran Masa

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=199

Waktu semakin padat ditempuh, menuju puncak kabut cahaya,
namun hari-harimu, masih saja mengeja satuan-satuan aksara (XVIII: I).

Ia malu sebelum batu-batu itu kau duduki,
maka singgahlah di kedung, agar bertemu ketenangan ulung (XVIII: II).

Angin menyapumu berpusaran menyisiri perjalanan
dan gendang wengi memberi tetembangan (XVIII: III).

Pagi hari terlahir dirawat bayu keheningan pucuk rerumputan,
lentik mata elok mengatup, membuka seluruh pandangan (XVIII: IV).

Ruh menawan persinggahan, memendarkan cahaya ke tanah,
hawa kemarau menderu-melanda, dan lapisan air tumpah (XVIII: V).

Siapa memalsukan pengelanaan, akan hampa dalam persidangan,
disebutlah buih centang perenang, itu ruang belum dikenali (XVIII: VI).

Burung gereja bersarang di tiang rapuh penjajah (XVIII: VII).

Tiada daun-daun menyanyi, rintik mendekati kelayuan, menginjak
tanah kelahiran masa, mengabadikan rukuk pengisian hikmah (XVIII: VIII).

Suara-suara diharumi bayu melintasi tangkai, goyangan kelopak-kelopak
bunga yang mempercepat putaran doa, hingga tandas kasih setia (XVIII: IX).

Berhamburan bunga-bunga ke sudut ruang sembahyang,
dan semua berkendara perbuatan masing-masing (XVIII: X).

Menggerakkan jiwa, mengerami makna setia (XVIII: XI).

Batu-batu memecah urat nadi, langkah kaki ke pabukitan,
kemasyhuran tertimbang hasrat, menuangkan kendi dalam perjalanan,
ditariknya busur panah, dari ibunda lengkingan suka duka (XVIII: XII).

Jika ada siasat peperangan jelas menekan, tersimpan nafas botol tua diasingkan,
sedangkan tangan-tangan menggapai langit hujan membumi serengkuh
keikhlasan senyum sejati, mesti di tengah sahara berkasih damai (XVIII: XIII).

Kidungan rindu menundukkan wajah ke tanah,
gemerincing mataair mensucikan jiwa-jiwa (XVIII: XIV).

Yang belum dewasa ke mana perginya, apakah bersembunyi atau berlari?
Bukannya lebih segar menari laksana rerumputan menyanyikan pagi (XVIII: XV).

Tidakkah alunan terpenjara dalam jeruji kecewa,
maka lewatilah batas jalan itu (XVIII: XVI).

Saat memandangi telaga, wajahnya tumpah rasa malu,
itu air terlepas dari daun talas pecah setujuh (XVIII: XVII).

Wanita memotong telinga jaman yang sekiranya tuli,
lewat tarian palet di kanvas sakit (XVIII: XVIII).

Jangan putuskan pita suaramu sebelum pecahkan kaca purba, berilah
ruh ke udara, yang nantinya diterima selaksa anak didik semesta (XVIII: XIX).

Burung bangau memutari candi hinggap ke titik stupa, lawatannya
mempelajari prosesi sejarah, keringat mendidih kemuliaannya terjaga (XVIII: XX).

Bersamanya tak memusingkan, lagi jernih sudah endapan penyadaran,
yang kusut dibasuh kedewasaan, tersingkaplah tabir alam (XVIII: XXI).

Kebimbangan awan lepas berhujan deras, tarian dedaunan bambu
memupus, menyusuri lengkungan senjamu (XVIII: XXII).

Melihat permainan di pantai tak lebih ribuan ombak letih,
terasa dangkal kegilaan (XVIII: XXIII).

Ada kepakan serius merenungkan gelisah, berpusaran angin
meningkat ke pucuk landasan, lantas melesat (XVIII: XXIV).

Rupa lembing terlempar ke sasaran, terbukanya kesadaran
arus sungai mengalir, tidak menuju hutan keangkuhan (XVIII: XXV).

Apakah melewati kakimu? Bawalah berita dedaun gugur,
reranting mengikuti keyakinanmu yang santun (XVIII: XXVI).

Yang berbeban kasih, jangan hentikan hasratmu menghancurkan kulit
sebelum menetasnya bidadari dari telur burung onta (XVIII: XXVII).

Ingatlah, rayuan terkuat berasal dari hawa rindu paling memikat,
kau sungguh menanti kehadiran dekapan mesra (XVIII: XXVIII).

Puncak ketakutanmu terpejamnya mata, padahal berkedip
saja, bayangan hilang mengikuti petir sambaran tekat (XVIII: XXIX).

Jangan campakkan nyawamu oleh ayunan mengusik kesadaran terhimpit,
terjerembab rekahan lemah, oleh gerimis mendekati sebelum-sesudah (XVIII: XXX).

Dan pepucuk daun tahu perubahan lewat bayu pemikiran (XVIII: XXXI).

Bangunkan ladang rayu menghibur, pelayananmu sungguh (XVIII: XXXII).

Naikilah puncak kesabaran sebelum senja menghampiri dahan akasia,
mentari senja tertusuk duri serupa lebah madu di sarang waktu (XVIII: XXXIII).

Tidakkah senja dan fajar selalu tampak menawan di setiap jaman?
Letihmu penuh makna, seperti mata elang sekental kopi (XVIII: XXXIV).

Hakikat mengerami rahim, pulas di sempalan iga, lelap terjaga tabah,
disentak gelisah menggubah gundah, memasuki selubung rahasia (XVIII: XXXV).

Kasihnya menyingkap tirai-tirai kesadaran,
berbicara ikat tali merindu panggilan (XVIII: XXXVI).

Senyum memukau diammu bergolak, lumut terkelupas perjalanan batu,
sebelum nyawa terlupa nalar waktu arus usiamu (XVIII: XXXVII).

Buah manis sunyi di pohonnya, menanti gugur ke sungai pertemuan,
doa belumlah terobati, kasihnya masih setia menanti (XVIII: XXXVIII).

Pagi memanggil diri, seuntai rambut bidadari lembayung mewangi,
kidung-kidungan suci mengisahkan persetubuhan sejati (XVIII: XXXIX).

Purnama melepas gaunnya di malam lelap, pada akhirnya
perjamuan melewati tarian awan memahat hikayat (XVIII: XL).

Berendam dalam sendang, senandung warna menerobos cahaya,
rambut cemara mengabarkan letak tujuan,
mengikuti kemungkinan datang atau menanti (XVIII: XLI).

Air terjun menghancurkan batu, lelah menggenang mengaliri pesawahan,
pada lumbung padi tidak luput kenangan dalam ruyung renungan (XVIII: XLII).

Kala endapan kecil menggugah bayangan besar tertikam rindu teramat
jauh, langkah-langkah tidak terusik meski oleh kelembutan (XVIII: XLIII).

Genggaman niat mampu mendapati pegangan, pasir dihamburkan dari
guci penyimpanan, tetapi kenapa, kau seberat mulut beracun wanita (XVIII: XLIV).

Lantas siapa membisikkan kata-kata, hanya si lemah puas lupa tujuan,
pekat awan mengendorkan jiwanya, padahal warna pelangi di lentera (TIII: XLV).

Jangan tiup sampai padam, biarkan sumbu temaram sekarat
yang cahayanya mendekati daun pintu fajar (XVIII: XLVI).

Sungguh nikmati bibir pelajar mengulum sukma ke titian jagat semesta (XVIII: XLVII).

Putri angin menarikan lengkungan bambu menjulang iramanya ke telinga
perindu, kejernihan pantulan telaga mengendalikan cermin mata (XVIII: XLVIII).

Ajak sayap nuranimu mengepak terbang, sejauh hasrat menembusi akibat
menanggung kesadaran, meski kabut nasib tak segamblang siang (XVIII: XLIX).

Gema suara malammu menjauh dari tapakan dingin di bukit dulu,
membaca alamat langit seiring beban di pundak kasih setia bersuci (XVIII: L).

Dengarlah tembang puja dalam kalbu pernah terlahir (XVIII: LI).

Singgahlah di arus pembersihan, berharap selembut salju nurani,
lihatlah pemuda melupakan masa, di jalan mentari mengunjungi ketulusan,
bimbang bersaksi, kepada malam-malam pahit meletihkanmu (XVIII: LII).

Kepada siang merawat kesadaran ujung jemari memancarkan daya bening
menyusuri pertemuan, serupa memetik mangga di kebun berbeda (XVIII: LIII).

Di ketinggian desir angin silih berganti, bala tentara menaiki turangga,
namun kenapa kalian malah nyenyak, melampaui ketaksadaran (XVIII: LIV).

Saat terbangun telah di puncak gunung lebat pohon, dan
pantulan bayangan membicarakan kalbu seorang (XVIII: LV).

Begitu tentram selepas keluh kesah menghujamkan
kalbu terlempar impian, pulih dalam pelukan malam (XVIII: LVI).

Kantuk di tengah langkah tak terhitung, sejauh awan melarut
menyeringai pagutan fajar, memberi salam cerecah burung manyar,
dedaun bambu berembun ditiup barongan sewu (XVIII: LVII).

Jangan cukup puas ketika ia membagi-bagikan penilaian,
alam menuangkan perasaan meleburkan debu ke udara (XVIII: LVIII).

Angin mengembarakan daun-daun menuju pelosok senja,
menuruti lengking kasih sayangmu menyingkap leher jenjang wanita,
tersentuh kesungguhan tercurah melewati letih tentunya (XVIII: LIX).

Lahirnya bocah penuhi rindu purnama,
seperti kehendak memetik lintang, atas tangan kesadaran pertama (XVIII: LX).

Mulanya rumput di tanah gersang di bawahnya awan bergerak
memberi perhatian, yang terdiam sanggup berhitung penciuman (XVIII: LXI).

Wahai orang-orang diberkati, bergolaklah dalam tungku matahari, warna
pusaran keluar warangka, kilatan nalar setepis runcing bibir wanita (XVIII: LXII).

Kau anggap senja matang bara, rekat pandanganmu menghampiri sepi,
ayunkan pedang lagi santap daging musuhmu kelalaian (XVIII: LXIII).

Burung-burung pemakan bangkai serupa gemintang,
dan tapakan kuda para prajurit, menghancurkan gelisa (XVIII: LXIV).

Di padang ilalang pertempuran, lengkingan pecah di sisi gelap tercela,
mengundang awan terluka, pedih hujan badai dirasa kembara (XVIII: LXV).

Kemarau panjang melanda, ceceran airmata para janda melegenda,
terlindas tubuh seruling gembala patah tak bersuara (XVIII: LXVI).

Menetasnya telor burung onta bersambut musim pergantian,
sebuah takdir jaman berubah disertai angin penanda (XVIII: LXVII).

Tinta hitam mengalirkan hikayat
pada tanjung bukit karang pertikaian gelombang (XVIII: LXVIII).

Lagi-lagi memperluas kekuasaan, beranjak dewasa menguak kerahasiaan,
lantas ilmu pengetahuan hilang buas, yang tertinggal kearifan (XVIII: LXIX).

Kasihnya mengunjungi para prajurit bersenjatakan pana berapi,
melesatkan sorot mata membius, cahaya hidup meletup kesatria (XVIII: LXX).

Ketajaman tubuh lelaki berkulit tembaga, matang oleh kilatan senjakala,
dan malam menghangatkan selaput daging batang pohon, ditariknya bayu
remaja, berpegangan keheningan mendekati ketinggian (XVIII: LXXI).

Amis darah dibasuh kembang tujuh rupa, persembahkan lahir bathin
gelisah, berharap terkumpul dalam kesucian kehendak hayat (XVIII: LXXII).

Beginikah di dalam lesung, laksana sapi di jerami berasap-asap,
segala doa ke langit peluh, ialah berpasrah satu-satunya (XVIII: LXXIII).

Menjatuhkan bebijian di kebun, kaki-kaki menyeret langkah,
ia terhuyung batin memekarkan padma di tengah telaga (XVIII: LXXIV).

Bebatuan bermandi air gunung, dedaun terhanyut gelora rahasia, ia
percepat hisapan waktu, melilitnya perut di negeri kejujuran (XVIII: LXXV).

Sampai pada langit biru, awan meninggalkan bekasnya memupus,
lalu kabut menurunkan senja di beranda pebukitan barisan (XVIII: LXXVI).

Kelambu malam ramai dipadati penari lampu, berdiam ketentraman
menatap, sirna keraguan di kedalaman dada mendekap erat (XVIII: LXXVII).

Kepakkan kelelawar segaris bulan terlihat, kau dianugrahi pesonanya,
batang mereranting gugur daun, bertunas di musim hujan (XVIII: LXXVIII).

Alam bersalam bayangan menanti terbukanya tabir bathin kasih,
tergugah di sepanjang sabda mengusung panggilan malam (XVIII: LXXIX).

Kau tunggu kelebatan mengendap mimpi, tidakkah terkenang pertemuan awal,
saat bersama tubuh melayang dihinggapi kasmaram (XVIII: LXXX).

Ombak menuju pantai dalam kantuk ibu menggendongmu, ayunan dipeluk
damai, kelembutan kalbu bertambah akrab, keluh tajam kenangan (XVIII: LXXXI).

Berjiwa bangga ketololan, letak keangkuhan di tempat, menyambungnya tak
teramat tepat nyautnya, unsur panasnya sekuat lidah ular menjilat (XVIII: LXXXII).

Persinggahan ini kian bermakna, meski tiada hirau angin belerang melewat,
tarikan nafas kelegaan dari beban rindu bau kembang, keganjilan jalan kembara,
dan masa-masa memasuki musim berwarna (XVIII: LXXXIII).

Pertemuanmu sayap-sayap jiwa mengepak,
selaksa ombak menyatu beku pada perbincangan pesisir (XVIII: LXXXIV).

Tiba-tiba airmata setia tak terduga menggenang, kenanglah
luapan kasih segenap sedu-sedan ketegasan (XVIII: LXXXV).

Meloncati bebatuan di jalan berlawanan,
kerikil bernyanyi, kaki berdarah, tersandung tersadar ikatan (XVIII: LXXXVI).

Para petani menuntun aliran sungai ke persinggahan damai,
ini bermukimnya lautmu percantik kerinduan langit (XVIII: LXXXVII).

Tiupan bayu seruling menuju tebing mengajak tetumbuhan, merambati
lereng kemuning, ondak-ondakkan pesawahan padi pekerti (XVIII: LXXXVIII).

Inikah tingkatan waktu merawat senandung Keilahian?
Adakah jalan lebih indah merengkuh pengetahuan? (XVIII: LXXXIX).

Membaca ikatan tak terusir badai lupa, umbi-umbian dalam karung
dipikul petani, berkeringat diseka selepas bayu berkawan awan (XVIII: XC).

Langit ditatapnya, mentari menyayat kulit punggungnya,
menempa rambut ikalmu mengeringkan luka hatimu (XVIII: XCI).

Peliharalah nafas sedekah bumi melempar jala-jala angin pantai
pada karang terjal, sebelum akhirnya senang bathin berserah (XVIII: XCII).

Hawa bengi menarik kenangan, menyusuri hening kampung sahaja,
menanti hujan gerimis membangunkan kesadaran gelisa (XVIII: XCIII).

Udara pagi terlintasi benderang mentari menghangatkan sendi,
pori-pori terseka telapak wangi merindingkan urat nadi (XVIII: XCIV).

Anggur tumpahkan nurani atas cengkeraman gelisah dirasuki wedi,
bahagia tercuri, terlanjur berkata-kata jujur terasa jatuh (XVIII: XCV).

Tudung kantuk lesung dihinggapi dahaga menuang kegundahan,
berlayar jauh ke pulau matahari, tak binasa tiada ingkar janji (XVIII: XCVI).

Tinggalkan udara bebas ke sangkar kecil, kekang di hati terjerat kasih (XVIII: XCVII).

Tetembangan gemintang pada lengkungan bulan sabit di jemarimu, semut
di tepian cawan meminum takut tercebur, keluar bibir kehausan (XVIII: XCVIII).

Dia berjalan di atas kertas menyilaukan pandang mencari kelahiran,
awan berhias putih membiru langit mengendap terbang (XVIII: XCIX).

Kepadamu bayu bertemu dedahan mengurai jiwa-jiwa,
tereja merpati terbang menelusup ke sarang teduh (XVIII: C).

Memberi waktu hirup, kepulan di cawan mega
setajam pena mengupas badan debu, menaruh bimbang bersemayam (XVIII: CI).

Angin mendukung aliran sungai, rintihan ombak ke tepian pantai,
menghempaskan awan menerjang jiwa-jiwa (XVIII: CII).

Ia ciptakan kata-kata dari untaian buih berpisah, tinggal menggantung
akhirnya dilupa, dan karang tertegun untuk apa berkata-kata? (XVIII: CIII).

Tumbuh di celah batu, berharap cahaya hangat selepas ditidurkan wengi,
berpancaran daun, embun gugur kabut terbang, berkendara jaman (XVIII: CIV).

Menambah tebal asal tujuan, berhimpun pekat terdukung bayu sekutu,
sukma menyeberangi laut temaram, denting mengaduk kendang (XVIII: CV).

Darah cinta tumpah menghujam, serat bambu menelusupi dagingmu,
kegetiran melanda tungku, berlidah api membakar nadi renungan (XVIII: CVI).

Tunggulah lelehan gunung api, menumpahkan lahar nalar keringkan
pohon, dan taburan gemintang mengenal bulan tersingkap (XVIII: CVII).

Bening cermin hening berkisah kegandrungan
antara malam melarutkan cahaya siang (XVIII: CVIII).

Bersunyi diketeduhan awan di saat hatimu tidurkan bayangan,
dan kutinggalkan catatan ini dalam alam suci kenangan (XVIII: CIX).

Laba-laba dipaksa melempar benang hujan, terik tertelan pandang
melingkari titik keyakinan bayang, dan cahaya mengartikan getaran (XVIII: CX).

Gerak sayap kekupu dirasuki harum kembang mengepak ke taman,
melayang, melepaskan sunyi pelahan-lahan, mengawang hening kabut gontai
sekapas randu, dalam pembaringan rindu musim-musim kemarau (XVIII: CXI).

Dikepul bayu ringan bergerak ke hadirat grafitasi, letak rerumputan basah
embun kesegaran, merambati purnama menerangi wengi berkesan (XVIII: CXII).

Kunang-kunang bercakap mata di kecup gelap terdalam, aduhai penyita
pandangan, nyala bergerak terjerat rasa segenap, bersemedi di ruang khusyuk,
menghitung reranting pada dedahan menggapai muasal (XVIII: CXIII).

Kucuran airmata melewati kesedihan genting kediaman,
meresap ke lemah basah, kejatuhannya ditampung bejana (XVIII: CXIV).

Saatnya turun kemurahan ragu, menuang lantaran
kesegaran hilang, maka aduklah lelah pada cangkir penentu (XVIII: CXV).

Masa dikenyam bibir menawan kesungguhan mengulum senyuman,
langit menyamudra, siapa turun tersedu di tengah angin rindu,
terdorong nurani berlayar merantau (XVIII: CXVI).

Bengi mendekati gelap,
bersimpan sunyi bayangan menyatu segelas pecah pekat (XVIII: CXVII).

Persekutuan tumpah, coretan berkayu lidi bertinta wedang kopi,
ketika menyepakati tumpukan batu menjelma dinding candi (XVIII: CXVIII).

Hening kuyup panasnya melepuh, digiring musim sepatah kata hidup
bertahan, mengambil tubuh membumikan usia jaman (XVIII: CXIX).

Melepas keseharian biasa mengunjungi tempat purba,
demi suaranya kasih sayang tiada pupus sia-sia (XVIII: CXX).

Panggilan kesunyian dikejar mabuk anggur moyang,
setua mimpi tersisa nyata dari harapan putus-asa (XVIII: CXXI).

Lepasnya kata-kata berkumandang sedari jeruji jemari,
mengumpulkan lintang meninggalkan jerat impian (XVIII: CXXII).

Kidungan mesra perdengarkan bait setia, mulanya meniti tembang
lalu bersinggah pada tapakan hening bunga berduri,
tempat kekal duka murni (XVIII: CXXIII).

Terimalah kesetiaan menemani pada perburuan melelahkan,
menuju gunungan wayang sampai blencong matahari (XVIII: CXXIV).

Hutangmu kapan dipenuhi? Jangan mengeja janji berharap bantuan,
belajarlah menempuh niat, keriangan menyertai bening jiwa (XVIII: CXXV).

Cepatlah agar debu beterbangan, yang perberat itu hantu murung,
maka fahamilah langkah demi titik keterjagaan (XVIII: CXXVI).

Pembebas keraguan sambil malu, tetaplah setia melantunkan tembang
hening, walau terenggut rayu di pembaringan, tiada berubah (XVIII: CXXVII).
—-

*) Pengelana asal desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*