AIR ZAM-ZAM BAGIMU

Nurel Javissyarqi*
http://nureljav.blogspot.com/

(I) Segala waktu ruang hampa, hantu bagi momok rindu,
kamar semestinya suwung, mencipta nging di telinga burung;
daya resap kembali, debu berserak dari dinding-dinding rapuh.

(II) Begini saja atau lebihkan perkara,
cukup badai prahara melahirkan dunia asal perapian suci,
pemujaan digelar bersama yang masuk dalam sukma rasa,
tidak direkam jadi misteri; hantu siapa berani menemani(?).

(III) Begitu ranum sarang ruh buah keadaban,
lamanya menimang, seluruh semesta membantu,
dalam percepatan gerak cahaya nasib perubahan.

(IV) Cahaya langit terbuka, warna bagiku dan mereka,
bebunga api di tengah malam, bidadari pernik-gemintang;
tercurah dikau rasakan kembang setaman di genggaman,
namun sia-sia jikalau tiada tujuan.

(V) Sahabat, tenanglah,
pada danau jernih kau menikmati dahan-dahan pemikiran,
rumput perasaan atas embun mengaca, mata elang kembara;
sekali butiran jatuh, bergulir petikan dawai di panggung dunia.

(VI) Yang mencapai kutub menuruni lembah,
bersama matahari menggeserkan raga-beku meleleh,
terus kau mendapati gemintang menyetubuhi cahaya;
air mata embun kayu mengkristal pada tekad mengikat.

(VII) Seluruh energi aroma pagi ia habiskan menyendiri,
pundi-pundi dipindahkan, bulir-bulir perenungan teresapi,
butiran makna menjelma magnit, bebijian besi menempel
pada diri rekat, daya kekuatan alami.

(VIII) Meruang waktu jagad diri kesetiaan, jauh
melantunkan tembang menggubah kidungan gaib
kepada titik hening semedi.

(IX) Seorang rindu gua pertapaannya,
mengamati rumah laba-laba; ia terus menembusi langit-langit,
cahaya kebiru-biruan nyawa menerobos sedari celah rahasia.

(X) Begitu tak terfahami, ia lepas dari kekuatan gravitasi;
kembara membangun rumah, bebatuan gunung satukan nasib,
dahaga bumi keagungan lestari, menuju abad-abad kepercayaan.

(XI) Dari balik tak terfahami, ia bermakna;
merasakan layang debu ke pori-pori hati insan
tergerak menemui kehadiran Ilahi.

(XII) Suasana merasuk melobangi sukma, terbelah atmosfir
pula menyatukannya; pada kurun tak terhingga takkan balik,
suratan takdir sebagaimana nurani.

(XIII) Ia menghabiskan aroma purba,
tempat sejarah lahirnya mitos-legenda;
kadang anak manusia lupa sergapan,
lepas terlena disebelahnya kepastian.

(XIV) Bila usai ia keluar nyata,
di muka pintu menyapa cakrawala;
nafasnya semesta, kembaranya awan jiwa,
semburat cahaya mengintip kecantikannya,
melesat terbang tiada hukum selain kuasa-Nya.

(XV) Kenanglah rerumputan lalu, bayu mengantarkan
aroma kembang atas tangkai bergoyangan;
itulah cerecah burung terbang malam
selaksa kapal mengarungi gelombang,
melayari hidup berhamparan lelautan,
berjuang demi pantai kudu berkorban.

(XVI) Ruh-ruh meruang di sekitar angkasa,
kuas menari-nari menjelajahi peta, dan langit selamanya biru,
awan menggiring musim nan rindu, tempat bagimu hatiku,
yang biru, rupa kangen bertemu kapuk randu di peraduan.

(XVII) Tanah subur demi bebijian, telaga bagi ikan-ikannya,
ombak laut dengan kesabarannya menggaramkan pantai,
lengkap sudah perasaan, gunung berpohon asam raksasa;
berharap hidangan dinanti, wujud merindu seorang pemuda.

(XVIII) Setelah tidur panjang, gerakan tersumbat,
berabad-abad keyakinan terkubur kini membangkit,
merobohkan batu-batu, tumbang berhala-berhala itu;
retak lebur tanpa rindu.

(XIX) Diangkatnya hempasan air berwarna matang;
pohon jati ratusan tahun, kulit menebal berdiri kokoh,
dahannya besar reranting segar, daunnya hijau melebar.
Karnanya gugur atau mengembang, angin kencang saja
putri sejati; ia tegar menyapa pergantian musim,
akarnya menembus bumi menyatukan angin,
dan pusaran sungai berladangkan awan.

(XX) Semburat mata menatap malam-siang tiada lelah,
pada tubuh renta, seluruh sayap-sayapnya pengetahuan;
terbang sedari benua satu ke lainnya, cakar-cakarnya
mencengkeram kepala, dan mereka semakin gelisah.

(XXI) Ia jelmaan abad silam, hinggap di gugusan karang;
kehidupan memandang aneh di waktu senja sepi kekuasaan.
Ingin menghentikan sebelum ditiup kelam malam,
wajah-wajah gentayangan, pekat sayap-sayapnya,
dan kembali, bayangannya merambati kematian.

(XXII) Gemparlah kisah, dikala ia sekarat di gurun sahara,
sang kembara menolongnya, memberi seteguk air pencerah;
katanya,
air itu mengucur dari kaki Ismail yang meronta kehausan.

(XXIII) Ia terbang menapaki tangga membiru, berita tersiar
ke pelosok jagad. Para malaikat iri, ketika para nabi ia salami,
bermuwajjaha sepenuh hati; memohon ampun segala angkara,
atas isyarat mimpinya di siang hari, yang tiada aman tempatnya.

——-
26 September 2000, Kadipaten Kulon Yogyakarta.
*) Pengelana asal Lamongan, Jawa Timur.

CategoriesUncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *