MENJADIKAN JURNALISTIK SEBAGAI LAHAN HIDUP

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Judul Buku: Jurnalistik Plus 1: Kiat Merentas Media dengan Ceria
Pengarang: Sutedjo dan Sumarlam
Penerbit: Nadi Pustaka
Tebal Buku: xi + 167 hlm; 14, 5 x 21 cm
Peresensi: Imamuddin SA

Mungkinkah jurnalistik dapat digunakan untuk hidup? Jika anda menekuninya dengan baik, maka tidak salah untuk menjadikannya sebagai lahan hidup. Opini semacam itu memang benar adanya. Sebab dewasa ini, peranan media massa dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah besar. Media massa seolah menjadi titik sentral pengetahuan dan informasi oleh khalayak umum. Dan eksistensi media massa tersebut tidak terlepas dari peranan seorang jurnalis. Tidak heran, jika untuk menutup kebutuhan pengetahuan dan informasi masyarakat itu, media massa berani merogoh gocek yang cukup lumayan besarnya. Ambil saja pada penulisan artikel dan cerpen. Saat ini, salah satu media massa ada yang telah memberikan honorarium kepada jurnalis artikel yang nominalnya sudah mencapai Rp. 450.000, sedangkan untuk cerpen Rp. 750.000. Itu tiap judul tulisan yang dimuat.

Untuk masuk dan mengisi ruang media massa tidak serta-merta layaknya memasukkan surat ke dalam kotak pos. Atau tidak semudah memasukkan uang ke dalam kantong celana. Karya seorang jurnalis yang tagah masuk dalam meja redaktur tentunya harus mengalami seleksi terlebih dahulu akan kelayakan muatnya. Tidak hanya satu-dua orang jurnalis yang mengirimkan karya-karyanya ke meja redaktur surat kabar tertentu, melainkan ada puluhan dan bahkan ratusan karya. Tentunya semua itu tidak harus nongkrong semua bukan!

Untuk menembus ruang di media massa tersebut, maka buku yang berjudul “Jurnalistik Plus 1: Kiat Meretas Media dengan Ceria” hadir di tengah-tengah kita semua. Pemahaman dan teknik-tekni menjadi seorang jurnalis yang karya-karyanya kerap nongkrong di media massa dituangkan secara apik dan rileks. Buku ini disusun oleh seorang jurnalis dan seorang penulis yang tengah malang-melintang menembus belantara media massa. Jadi, tips dan teknik-teknik yang dituangkannya merupakan suatu hal yang keberadaannya telah teruji secara seksama. Beberapa media massa yang sempat tertembus adalah sebagai berikut; Kompas, Kartini, Merdeka, Swadesi, Shimponi, Gatra, Suara Karya (Jakarta), pikiran Rakyat, Solopos, Jawa Pos, Surya, Karya Darma, Bali Post, Gerbang, Jurnal Ilmiah Masyarakt Linguistik Indonesia, dan lain-lain. Bahkan penulis buku ini sempat beberapa kali memenangkan even dan lomba menulis taraf lokal dan nasional, di antaranya pemenang 1 Lomba KTI Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup tingkat nasional (Depdiknas, 2005), pemenang 2 Lomba Menulis Resensi Grasindo tingkat nasional (2005), pemenang Sayembara Penulisan Buku Non Fiksi tingkat Jawa Timur (1999), pemenang lomba Menulis Cerpen tingkat Nasional Depdiknas 2001, pemenang lomba Menulis Cerpen Depdiknas 2003, pemenang lomba Mengulas Karya Sastra 2003 tingkat nasional, dan lain-lain.

Dalam buku ini diulas dengan baik beberapa materi menarik yang memiliki potensi besar di dalam media massa yang dibagi ke dalam beberapa bab. Pada bab pertama, buku ini menyajikan wacana bagaimana seorang individu mampu mengenali potensi pribadinya untuk menjadi seorang jurnalis. Pemahaman tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan jurnalistik menjadi poin kedua dalam buku ini. Bab tiga mengupas masalah artikel (opini) yang dimulai dari proses mengenal artikel dan opini. Kemudian dilanjutkan pada bab empat masalah kiat-kiat cepat menulis artikel (opini). Selanjutnya buku Jurnalistik Plus 1 ini ditutup dengan bab lima yang membahas persoalan menulis cerpen untuk media massa.

Buku ini sangat cocok dikonsumsi oleh masyarakat secara umum sebagai wacana dan pemahaman untuk menjadi seorang jurnalis. Selain itu, kandungan buku ini sangat tepat jika diterapkan dalam lembaga pendidikan sebagai modal utama dalam melakukan pembinaan program jurnalistik di sekolah. Konsep-konsepnya sederhana dan gampang dipahami. Buku ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh sebagai penjelas konsep yang telah ada. Yang paling asyik, buku ini juga menyajikan panduan latihan menjadi seorang jurnalis yang disusun secara sistematis. Panduan latihan itu berkisar pada pemahaman akan konsep-konsep jurnalistik hingga praktik menjadi seorang jurnalis.

Sebagaimana judul buku yang dipakai, buku Jurnalistik Plus ini adalah buku yang pertama. Masih ada buku lanjutanya yang akan mengupastuntaskan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kejurnalistikan. Entah buku kedua tersebut terbitnya kapan? Kita tunggu saja! Dalam buku Jurnalistik Plus jilid pertama ini ada sedikit kekurangan yang mungkin nanti dapat dilengkapi dalam buku jilid keduanya. Kekurangan itu muncul ketika Sutedjo dan Sumarlam belum menyematkan alamat serta karakteristik media massa lokal maupun nasional. Sebab penyematan hal itu sangatlah penting guna tindak pengaksesan karya-karya dan tentunya untuk mempermudah menembus ruang di media massa. Dengan mengetahui karakteristik media massa, seorang jurnalis akan lebih paham akan bentuk dan karakter karya yang hendak dikirimkannya. Namun, secara muatan, buku ini sedah lebih dari cukup untuk mengantarkan seorang pembaca menjadi seorang jurnalis yang hebat nan handal. Tentunya harus dibarengi dengan kesungguh-sungguhan niat serta ketekunan diri yang tinggi. Selamat mencoba. Semoga keberhasilan mengalir mengikuti lelangkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *