Puisi Tanpa Keindahan

Imron Rosyid
http://www.korantempo.com/

Judul Buku : Dunia Bogambola Penulis : Sosiawan Leak Tebal: 72 Halaman (+ 72 halaman) Cetakan I : April 2007 Penerbit: Indonesia Tera

Di luar kalangan sastrawan, puisi acap kali dianggap sebagai sesuatu yang menggambarkan tentang keindahan atau paling tidak dituliskan dengan kata indah mendayu-dayu. Ataupun ketika berbicara mengenai kepedihan, puisi tetap sebagai sesuatu yang paling tidak romantis. Continue reading “Puisi Tanpa Keindahan”

Sastra dan Batas-batas Bahasa

Agus Wibowo
http://www.suarakarya-online.com/

Sastra, kata William Henry Hudson dalam introduction to the study of Literature (1960), selalu menyumbangkan nilai positif bagi kemanusiaan. Itu karena anasir-anasir yang dicipta, bertalian erat dengan penikmatan ragawi dan ruhani manusia, seperti olah rasa, cipta dan karsa. Lewat kelembutan dan kehalusannya, lanjut Hudson, sastra mampu membangkitkan emosi luhur sekaligus menjembatani sifat fitrah manusia yang cinta akan keindahan. Continue reading “Sastra dan Batas-batas Bahasa”

Kota, Buku Puisi, dan Sastra Pinggiran

Fahrudin Nasrulloh
_Jurnal Kebudayaan Banyumili

Puisi adalah sebuah kota yang sedang berperang — Hans Chinowski —

Begitulah kiranya gambaran sebuah kota yang berkobar dalam benak penyair Hans Chinowski, si tokoh absurd dalam novel Factotum, karya Charles Bukowski. Kota, ya sebuah kota, sebujur fosil dari kampung silam dan seiring menderasnya waktu perlahan tersulap oleh deru zaman dan modernitas menjadi sebuah wilayah yang menawarkan pilihan hidup tidak sekadar hidup. Continue reading “Kota, Buku Puisi, dan Sastra Pinggiran”

POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA

Maman S. Mahayana *

Membandingkan novel Sitti Nurbaya dengan karya sastra yang terbit melampaui zamannya dari belahan bumi mana pun, tentu saja dibolehkan. Begitu juga tak ada undang-undang yang melarang mencantelkan tema atau konteks novel itu dengan kondisi sosio-budaya yang terjadi pada masa kini. Bukankah kita “masyarakat sastra” meyakini, bahwa begitu karya itu terbit dan kemudian menyebar ke khalayak pembaca, seketika pula ia bebas dimacam-macami. Pembaca punya hak penuh memperlakukannya sekehendak hati, termasuk dalam hal memaknainya. Continue reading “POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA”

Bahasa ยป