Puisi-Puisi Amien Kamil

kompas.com

MEREKAM DAUN GUGUR

Sebuah potret adalah…
Sebuah kesaksian akan masa silam
Ada cermin masa depan membayang
Ada daun gugur melayang

Potret, juga terbuka untuk berkaca
Mengenang siapa dan apa saja

(Lihat, ada tahun-tahun berkejaran
Seperti mimpi buruk di musim kemarau
Mengacau otak, memancing kekeruhan
meledakkan amarah
dan prahara pecah melanda
melumatkan kota-kota
Tempat ibadah hangus diberangus isyu
Massa kalap jadi bom waktu, jadi peluru)

“Jangan kokang senapan!”
Ujar ketapel pada serdadu yang lapar

Daun-daun terus berguguran
Tak peduli musim paceklik ataupun hujan

“Siapa yang jadi panduan, angin dan peta
tak lagi bisa dipercaya”
Ujar kompas pada nakhoda yang hilang arah

Daun gugur sepanjang malam dan pagi
Daun gugur sepanjang sejarah
Daun gugur terpatri jadi puisi

Jakarta, November 1998

TAMSIL TUBUH TERBELAH

Langit tanpa bulan
di perempatan jantung kota republik bla bla bla
seorang lelaki separuh baya
matanya nanar membara menatap angkasa
Rambut kusut, kumal bajunya
Ia tak bernama,
jawatan sosial hanya mencatat nomor registrasi
agar proyek rehabilitasi serta subsidi
menggelinding lancar ke dalam laci

Setiap ditanya; “nama?”
Ia senantiasa menggeleng tanpa tenaga

“Pablo!”
A, siapa pertama yang memanggil itu
Lantas orang-orang seantero kota pun memanggilnya;
“Pablo! Pablo! Blo! Pab! Blo!”

Tawa renyahnya selalu terdengar
saat senja beranjak pulang
kelam membayang, malam pun datang
Pablo sempoyongan
Tangannya menggenggam anggur murahan

Pablo selalu riang, senyumnya mengembang
Kadang sambil melenggang, mulutnya nyerocos, omong apa saja
Kadang sambil berdendang cha-cha-cha
suaranya menggema, tanpa batas tembus angkasa

Ia sendirian tapi tak kesepian
temannya bintang-bintang dan anjing kudisan
Pablo sering mengadu dan beritahu diri sendiri
apa yang kan terjadi
Orang-orang menanggapnya seperti komedi yang tak pernah basi
Ia bukan aktor karbitan
tapi ada juga yang bilang
“ia hilang ingatan”
Ach, peduli setan
Pablo selalu keluyuran membelah dingin malam
Ada alam raya membayang dibalik otak kecilnya
“Fantastis..!”
Bagai ada sinyal lampu yang selalu “on”
menyala dan bergetar
Pabila ada gelombang isyarat dari masa lalu
atau pancaran gelombang peristiwa dari masa depan
Kupingnya selalu mendengar
dengung lebah serta upacara orang Indian
memanggil hujan di musim kemarau
Matanya selalu menangkap frekuensi yang sarat
dengan simbol-simbol yang mesti dipecahkan

Pablo sempoyongan menembus sunyi malam
Memasuki ruang yang membuka-menutup

Diantara lalu lalang, ia melihat banyak orang
berjalan tanpa kepala, tanpa tujuan
Diantara etalase-etalase kaca toko barang antik
ia melihat dirinya seperti guci keramik yang retak
Pablo tak peduli, semua bisa saja terjadi

(Sirine ambulance menggerung gerung
memecah sunyi malam
Lampu mercury memancar muram)

Pablo gentayangan dengan perut keroncongan
Pablo gemetar menahan dingin malam
Wajahnya pucat pasi, Mulutnya kelu
Kaki dan tangannya kaku

Pagi itu, di bangsal gawat darurat
sebuah rumah sakit utara kota
ada sesosok tubuh tak bernyawa dan tak bernama
Tak ada sanak famili yang mengaku keluarga
Sulit diidentifikasi karena tak ada jati-diri

Sore, tubuh itu langsung diotopsi
dikerat dan disayat di ruang operasi
Bersama malaikat, ia saksikan dokter ahli mengambil hati
serta organ tubuhnya yang masih berfungsi
lantas dimasukkan ke dalam stoples kaca
Sedang anggota tubuh lainnya
dibelah jadi beberapa bagian
oleh mahasiswa-mahasiswi kedokteran Universitas Negeri
dengan pisau babi, masuk kantung mayat
dan jadi komoditi yang lain lagi

Malam,
di langit tanpa bulan, tak cuma ada bintang
tapi ada roh serta malaikat yang beterbangan

Dan di bumi,
tercium aroma kematian orang-orang
bau aroma kamboja dan asap dupa melayang
mengantar mereka di perabukan

Berlin, Juni 2004


Amien Kamil, lahir di Jakarta 1963. Tahun 1983, sempat belajar di Sinematografi Institut Kesenian Jakarta. Tahun 1986-1996, bergabung dengan Bengkel Teater Rendra, terlibat dalam beberapa pementasan di kota-kota besar di Indonesia. Tahun 1988, ikut serta dalam “The First New York International Festival Of The Arts”, sempat juga mengikuti workshop di “Bread & Puppets Theatre” di Vermont, USA. Tahun 1990, pentas di Tokyo & Hiroshima, Japan. Tahun 1999, Tour Musik Iwan Fals di Seoul, Korea. Lighting Design untuk konser musik Iwan Fals hingga tahun 2002, pentas di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Tahun 2003-2005, kolaborasi dengan penyair Jerman Brigitte Oleschinski. Pentas multimedia di Berlin, Koln, Bremen dan Hamburg. Selain itu juga memberikan workshop teater di Universitas Hamburg, Leipzig dan Passau. Mengikuti International Literature Festival “Letras Del Mundo” di Tamaulipas-Tampico, Mexico.

Tahun 2006, Sutradara “Out Of The Sea”, Slavomir Mrozek, Republic of Performing Arts, Teater Utan kayu, Jakarta. Tahun 2007, Antologi puisi “Tamsil Tubuh Terbelah” terbit dan masuk dalam 10 besar buku puisi terbaik Khatulistiwa Literary Award 2007. Tahun 2008, Poetry Performing “Tamsil Tubuh terbelah”, kolaborasi dengan Iwan Fals, Oppie Andaresta, Irawan Karseno, Toto Tewel, Njagong Percusion, Republic of Performing Arts, di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki. Tahun 2009, Pameran lukisan & Instalasi “World Without Word” di Newseum Café. Tahun 2010, Sutradara Performing Arts “Elemental”, kolaborasi dengan pelukis mancanegara, Jakarta International School. Tahun 2011, Sutradara “Sie Djin Koei”, Republic of Performing Arts, Mall Ciputra, Jakarta. Di bulan April, Sutradara & Perancang Topeng “Macbeth”, William Shakespeare, Produksi Road Teater, Gedung Kesenian Jakarta. Mei-Juni, Kunjungan Budaya ke Denmark, Germany dan Norway. Juli, Mengikuti “ International Culture Dance Festival 2011” Sidi Bel Abbes, Algier, North Africa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *