Jawa, Tambang Sastra Pascamitos

S. Jai *

Mula-mula adalah kata. Jagad tersusun dari kata,” tutur penyair Subagio Sastrowardoyo. Namun, meyakini nenek moyang segala ilmu, juga tentu saja kata adalah mitos, juga sah. Jauh sebelum kata-kata diperas, diperah sampai apuh beban artinya, mitos lebih dahulu menyingkap makna sampai akarnya yang purba.

Tidak banyak yang meyakini hal itu dan mungkin hanya sastrawan yang sadar menghidupkan kata bahwa kata juga seperti manusia. Seperti juga manusia, ia tahu bagaimana harus hidup, bercinta, dan menyusun pikiran besar melunasi hasratnya pada alam cita. Seperti halnya sedikit yang tahu peristiwa kelas dunia baru usai digelar, yakni Pesamuhan Budaya Panji Internasional Ke-2 di Trawas, Mojokerto.

Sayang, gemanya tidak terdengar menggaung sampai dalam, apalagi membayang hingga bisa diterbangkan alias inspiratif. Padahal, itu yang mestinya terjadi di wilayah tambang mitos bernama Jawa. Betapa dari salah satu versi mitos Cerita Panji justru bisa ditangkap bayang keindahan cinta meski dari sebentuk cerita rakyat yang semula dihargai murah karena dinilai tidak bermutu dan rendah.

Cerita Panji itu sejenis cerita rakyat yang penyebarannya berkembang sampai ke pulau-pulau di antara, tumbuh subur terutama di Jawa dan Bali serta beberapa di pelosok-pelosok kepulauan Nusa Tenggara Barat. Cerita rakyat tentu ada muara dan asalnya. Profesor Purbatjaraka menduga kuat penulisan Cerita Panji baru terjadi pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit. Hal itu karena cerita berlatar belakang sosial politik Kerajaan Jenggala dan Kediri itu dibuat setelah ingatan orang akan kerajaan itu sudah agak samar. Sementara mengenai penyebarannya, Profesor CC Berg memperkirakan terjadi pada zaman Singasari melalui ekspedisi Pamalayu ke Nusantara oleh Kertanegara tahun 1297.

Mula-mula Cerita Panji ditulis para pujangga dalam bentuk tembang macapat dalam bahasa Jawa kuna. Namun dalam perkembangannya, banyak kisah percintaan dan perjodohan putra mahkota Kerajaan Jenggala serta putri Kerajaan Kediri ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa. Ada Panji Sekar, Panji Raras, Panji Dhadhap, dan Serat Panji. Lebih dari itu, ternyata Cerita Panji sangat berpengaruh dalam penulisan sastra sesudahnya. Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito menulis Kitab Panji Jayeng Tilam dalam bahasa Jawa. Sumosentiko menulis Babat Kediri.

Kitab Babat Kediri mengisahkan, setelah Anggreini istri pertama Panji meninggal, Panji Yudarawisrengga menolak untuk dikawinkan dengan saudara sepupunya, putri Prabu Lembu Merdhadu di Kediri. Kemudian Panji meninggalkan Jenggala dan pergi ke Ngurawan, tempat Prabu Lembu Pangarang, pamannya, bertakhta. Di sini Panji menikah dengan putri pamannya, Dewi Surengrana.

Perang antara Kediri dan Hindustan pecah karena lamaran Raja Hindustan, Kelana Suwandana, kepada Dewi Candra Kirana ditolak. Akhir cerita, Prabu Kelana tewas dan Panji menikah dengan Candra Kirana. Namun, Surenrana tidak suka dimadu. Ia pencemburu dan giginya selalu dikerot-kerotkan karena menahan dendam serta benci kepada Candra Kirana. Ia dijuluki Dewi Thothok Kerot.

Mitos Cerita Panji menjadi sangat populer karena kisahnya lebih gampang dicerna masyarakat ketimbang kitab-kitab kebudayaan adiluhung karya pujangga-pujangga keraton. Cerita Panji lebih merakyat meskipun tidak perlu mengatakan buruk dalam seni sastra yang kurang bermutu pada zaman tradisi Hindu masih kuat.

Mengenai Tuhan

Hal yang amat menarik adalah analisis Zoetmulder dalam Manunggaling Kawula Gusti. Dalam diri Panji, kita berjumpa dengan gambaran mengenai Tuhan yang menampilkan diri di dunia. Ia seolah- olah meninggalkan kedudukannya yang asli selaku Zat Mutlak lalu mengembara jauh di luar negeri-Nya, terlindung samarannya sehingga hanya mereka yang terpilih dapat mengenal-Nya. Jenggalane nut tan adoh, Jenggala tan katilar (Megatruh Serat Centini). Dari teks Asmaradana, wayang topeng dengan kisah pernikahan Panji dan Kirana, Zoetmulder mengulas ada pesan bahwa manusia bisa tersesat oleh apa yang mereka anggap kenyataan.

Hyang Sukma menyembunyikan diri dalam badan manusia sehingga manusia tidak melihat Dia dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai topeng. Bisa dipercaya muasal Cerita Panji itu subur tatkala Prabu Kameswara I berkuasa. Pasalnya, sesudahnya Prabu Jayabaya-berkuasa pada 1135-1157-melakukan hal serupa dengan menutup pertikaian Kerajaan Jenggala dan Kediri sebagai kenang-kenangan belaka.

Dia memerintahkan Mpu Sedah dan Penuluh menulis kitab Bharatayudha. Kitab itu mengakhiri cerita buram Jenggala dan Kediri. Tentu saja sebagai alat legitimasi baru, kitab itu bertujuan membunuh mitos-mitos sebelumnya terkait dengan raja-raja Jenggala maupun Kediri. Sayang, kitab itu terlampau agung dan berbahasa Jawa dengan kadar sastra yang tinggi. Cerita Panji kukira luput dari pembunuhannya, bahkan mengilhami banyak kitab besar sesudahnya.

Dengan kata lain, ini menjadi klasik dan menjadi tambang emas sastra pascamitos. Kelak sangat mungkin menjadi tambang sastra dalam sebentuk kisah atau hikayat yang tidak perlu diragukan lagi mutunya. Tentu saja tanpa harus meninggalkan watak aslinya, nuansa tradisi tutur di dalamnya. Sastra yang kaya falsafah atas nama cinta-cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri agar terhindar dari kesepian, kecemasan, apalagi kehilangan hak milik saya sebagai individu kreatif. Cinta yang sulit diterjemahkan, disingkapkan dengan kata-kata karena kata tidak sanggup menampung kandungan isinya. Tapi juga karya sastra berlandaskan falsafah atas nama cinta yang tidak bisa menemukan titik paling subtil dalam kata. “Hyang Sukma menyembunyikan diri dalam badan manusia sehingga manusia tidak melihat Dia dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai topeng”.
***


*) S. Jai. Lahir di Kediri, 4 Februari 1972 (KTP). Menurut informasi orangtuanya, tepat pada Ahad Kliwon, 1 Muharam (4 Februari 1973). Lulus dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga tahun 1998. Pengarang sejumlah novel, Tanah Api (LKiS 2005); Tanha—Kekasih yang Terlupa (Jogja Media Utama 2011, Pagan Press,2017); Khutbah di Bawah Lembah (Najah 2012, Diva Press). Novelnya Kumara— Hikayat Sang Kekasih memenangkan sayembara novel Dewan Kesenian Jawa Timur 2012 dan diterbitkan lembaga tersebut pada Desember 2013, dan terbit ulang Pagan Press, 2017. Cerpennya Rembulan Terperangkap Ranting Dahan, terpilih sebagai pemenang utama sayembara cerpen berdasarkan Cerita Panji oleh lembaga yang sama bersama penulis-penulis kenamaan; Gunawan Maryanto, Widodo Basuki dan Ratna Indraswari Ibrahim (2010). Pada tahun 2013 sebuah esainya Romantika, Tradisi Tutur dan Moral Intelektual (perihal ? lm Romy dan Yuli dari Cikeusik) dinobatkan sebagai salah satu tulisan terpilih Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Novelnya yang lain Tirai, Desember 2014 diterbitkan Penerbit Garudhawaca, Jogjakarta. Serta sebuah buku proses kreatifnya berjudul Melawan Kematian— Sebuah Otobiogra? Estetis terbit pada April, 2015. Tahun yang sama, novelnya GURAH—Tak Sempat Dikubur diterbitkan Penerbit Pagan Press. SIRRI dan Kisah Cinta Lainnya adalah kumpulan cerpennya yang terbit pada 2016. Kumpulan puisinya diterbitkan Pagan Press di bawah judul Upa Jiwa, Hikayat Perjalanan ke Belakang (2017). Kumpulan Cerpen Terbarunya; Bidadari yang Tersesat di Neraka (2020). Buku kumpulan esainya Postmitos, Esai-Esai S. Jai terbit tahun 2018 dan meraih penghargaan Anugerah Sotasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur untuk bidang kritik sastra pada tahun 2019. Pada tahun ini pula (2019) kembali menerbitkan novel berjudul Ngrong. Penerima anugerah penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur tahun 2015 ini kini tinggal di dusun Tanjungwetan, Desa Munungrejo, Kecamatan Ngimbang, Lamongan dan mengelola sebuah usaha penerbitan Pagan Press. Sehari-hari bisa dihubungi di 081-335-682-158 /tanahapikata@gmail.com

Leave a Reply

Bahasa »