Mengenang Hamka, Ulama yang Terlupakan

Tutut Herlina
http://www.sinarharapan.co.id/

Jakarta ? Rumah panggung berwarna merah yang terbuat dari papan itu tampak kokoh berdiri di atas tanah yang berbukit. Sisi kiri maupun kanan atapnya berbentuk lancip menjulang ke awan, menunjukkan kekhasan ?rumah gadang? bangunan adat Minangkabau.

Di depan rumah terhampar danau biru yang luas. ?Maninjau?, begitulah nama danau itu. Di seberang danau pun tampak pegunungan yang terlihat hijau kehitaman. Sementara itu, di dalam rumah, terlihat deretan buku tertata rapi dan hampir memenuhi ruangan berukuran 3 x 6 meter persegi.

Sebuah kursi tua berukur kecil dan tempat tidur berkelambu putih tak ketinggalan mengisi sudut-sudut ruangan lain. Di antara buku-buku salah satunya berjudul Di bawah Lindungan Ka?bah dan Tafsir Al-Azhar.

Itulah gambaran tentang rumah Hamka, di Kabupaten Maninjau, Sumatera Barat (Sumbar). Seorang tokoh ulama yang melahirkan karya-karya besar sastra maupun tafsir mengenai kitab suci Al-Quran. Kini rumah itu berubah menjadi museum.

Museum tersebut hingga kini banyak dikunjungan dari warga Malaysia maupun Singapura. Kunjungan wisatawan negeri jiran itu umumnya untuk mempelajari karya-karya Hamka yang dianggap sebagai ulama besar di zamannya. Namun sayang, di Indonesia sendiri, Hamka sepertinya justru terlupakan.

Banyak ulama di Indonesia justru banyak mempelajari karya-karya tafsir Al-Quran dari ulama mancanegara. Hamka, sang ulama itu, hanya sedikit dilirik.

?Orang Malaysia dan Singapura justru banyak yang datang untuk mempelajari karya beliau. Kita malah tidak menghargainya sama sekali. Ini sangat ironis,? kata Ketua Muhamaddiyah Din Syamsuddin, saat melakukan napak tilas Muhammadiyah di Sumatera Barat, Rabu (16/5) lalu.

Napak tilas itu diikuti pula Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir dan sejumlah artis ibu kota yang tergabung dalam Orbit (Orang Beken Ingin Taat).

Saking gemasnya, Syamsuddin pun menilai Indonesia sebagai bangsa yang cepat sekali melupakan sejarah. Sejarah sangat penting untuk mengetahui jati diri dan kemudian digunakan untuk meniti langkah selanjutnya.

?Coba sekarang, jadi nama jalan saja tidak, padahal jasa beliau jauh lebih besar ketimbang beberapa nama orang yang ditaruh di jalan. Saya tidak perlu sebut apa nama jalan itu, tapi itu bisa dilihat sendiri,? katanya.

Ia pun juga menyesalkan, kurangnya pemahaman tentang jejak para ulama telah membuat pusat perkembangan keislaman itu juga berubah. Jika dulu Tanah Minangkabau menjadi pusat pembelajaran Islam, kini beralih ke Jawa.

?Saya heran. Dulu orang Jawa belajar ke Minang. Tapi kok sekarang malah terbalik. Banyak orang Minang malah belajar ke Jawa seperti ke Pondok Gontor. Ini gimana ini?? tanyanya.

Penulis
Hamka lahir pada 1908. Nama sebenarnya, Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Dia adalah seorang ulama, aktivis politik, dan penulis Indonesia. Karya-karyanya banyak dipelajari di mana-mana.

Buku dengan judul Di Bawah Lindungan Kabah yang terbit tahun 1936 menjadi bahan pelajaran Bahasa Indonesia, sekitar tahun 1980-an. Buku Tafsir Al-Azhar adalah karya Hamka mengenai tafsir Al-Quran sebanyak lima jilid menjadi rujukan banyak ulama maupun tokoh agama. Karya ini lahir ketika ia menjalani masa hukuman penjara pada saat pemerintahan Soekarno.

Hamka sendiri mula-mula hanya seorang guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan di Padang Panjang. Belakangan, dia diangkat sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang, dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, ia diangkat menjadi Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta, dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.

Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Soekarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

Ia adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal.

Tak hanya itu, ia juga meneliti karya-karya sastra maupun filsafat eropa. Karya sastra yang diteliti itu antara lain karangan Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Ini semua membuat pengetahuannya semakin kaya.

Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia ikut mendirikan Muhammadiyah pada 1925. Kepiawaiannya membuat dia mendapat posisi sebagai ketua di Padang Panjang pada 1928.

Karena kepiawaiannya itu pula, pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Baru kemudian, pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, jabatan itu diletakannya pada 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *